Karhutla Berimbas Peningkatan Kasus ISPA 2026, Kemenkes: Tembus 400 Ribu per Minggu

Jumat, 21 Agu 2026, 13:55 WIB

JAKARTA - Kementerian Kesehatan mengatakan, memasuki awal musim kemarau yakni minggu ke 27-31 tahun 2026, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menunjukkan tren peningkatan hingga mencapai lebih dari 400 ribu kasus per minggu.

Peningkatan kasus tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan minggu yang sama pada 2025.

Ket. Foto: Petugas Manggala Agni Daops Pekanbaru menyemprotkan air saat berupaya memadamkan kebakaran lahan gambut yang meluas di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau, Rabu (19/8). Satgas darat dan udara karhutla Riau terus berupaya memadamkan kebakaran di dua lokasi, yakni Desa Rimbo Panjang seluas 4 hektare dan Desa Pagarayung. — Sumber: ANTARA/HO-BPBD Palangka Raya.

"Kalau lihat trennya, salah satu faktor utama karena masuk musim kemarau. Karhutla juga memberi dampak," kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman di Jakarta, Jumat.

Dia menjelaskan, tren ISPA pada 2026 secara umum lebih tinggi dibandingkan 2025. Puncak musim kemarau terjadi pada minggu ke 32–44, terlihat bahwa kasus di minggu tersebut pada 2025 menunjukkan tren yang relatif tinggi dan konsisten. Pada M32 2025, terdapat sekitar 300–350 ribu kasus, kemudian meningkat hingga hampir 400 ribu kasus pada M44.

Pihaknya mencatat, pada 2026, di M30 terdapat sekitar 400 ribu kasus, sementara pada M31 sedikit berkurang.

"Musim kemarau di Indonesia berlangsung secara bertahap antarwilayah, dengan sebagian besar wilayah diprediksi mencapai puncak kemarau pada Juli-Agustus 2026," ujar Aji.

Dia menyebutkan, periode kemarau menjadi periode kewaspadaan karhutla. Berdasarkan penelitian dan publikasi ilmiah, aktivitas kebakaran hutan mulai meningkat sekitar bulan Juli dan mencapai puncak pada Agustus-September.

Selain itu, katanya, peningkatan kasus ISPA terjadi saat musim hujan atau musim dingin, saat suhu lebih rendah dan kelembapan tinggi.

Jika cakupan vaksin influenza dan Covid-19 rendah, risiko infeksi meningkat terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.

Dalam kesempatan itu, dia juga menyebutkan bahwa per 17 Agustus 2026, sebanyak 90 tenaga kesehatan dan berbagai bantuan logistik kesehatan dikerahkan merespons gangguan kesehatan akibat karhutla di sejumlah wilayah tanah air.

Tenaga kesehatan tersebut terdiri dari antara lain dokter, perawat, apoteker, bidan, ahli gizi, pengemudi ambulans, sanitarian, epidemiolog.

Dia menyebutkan, para tenaga kesehatan dikirimkan ke wilayah terdampak karhutla, yakni 40 ke Kalimantan Selatan, empat ke Riau, 27 ke Kalimantan Tengah, sembilan ke Kalimantan Barat, lima ke Jambi, dan lima ke Kalimantan Timur.

Kemudian, bantuan logistik untuk daerah-daerah tersebut mencakup 267.630 masker, 54 unit OC, 1.000 pasang handscoon, 36 tabung Oxycan, 33 dus PMT, 40 faceshield, dan delapan Alat Pelindung Diri (APD).

Aji mengimbau publik untuk menerapkan pola hidup bersih sehat tiap hari untuk menjaga daya tahan tubuh di kala musim kemarau dan peningkatan risiko ISPA karena karhutla.

"Terapkan PHBS setiap hari. Konsumsi makanan bergizi, cuci tangan pakai air dan sabun, istirahat cukup, dan hindari merokok," katanya.

Dia juga mengingatkan untuk membatasi aktivitas di luar ruangan saat udara berasap atau berdebu. Jika harus keluar rumah untuk beraktivitas, gunakan masker yang tepat menutupi hidung dan mulut, serta tutup pintu dan jendela saat asap pekat.

"Lindungi kelompok rentan. Bayi, balita, ibu hamil, lansia, serta penderita asma, penyakit paru, atau penyakit jantung sebaiknya menghindari paparan asap dan segera berkonsultasi jika keluhan memburuk," katanya.

Dia juga mengimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan dan air. Pastikan air minum dan makanan tetap bersih, serta lakukan 3M Plus agar tempat penampungan air tidak menjadi sarang nyamuk selama musim kemarau.

"Kenali gejala ISPA dan segera periksa ke fasilitas kesehatan terdekat. Jangan menunda berobat bila mengalami batuk yang tidak membaik, sesak napas, demam tinggi, nyeri dada, atau keluhan lain yang mengganggu, terutama pada kelompok berisiko," katanya. Ant

  • Cegah ISPA

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Opik

Berita Terbaru

Bahaya AI Makin Nyata, JADEPUFFER Bisa Belajar dan Memperbaiki Serangan Siber

Jelang Maulid Nabi 1448 H, Disperindag Kepulauan Babel Tambah Pasokan 20 Ton Daging Ayam

Andrea Bocelli Gelar Konser di Borobudur dan Jakarta, Tiket Mulai Rp1 Juta

Jadi Pilar Pembangunan Ekonomi Daerah, BPD Minta Posisi yang Setara Dalam Berbagai Program dan Transaksi Pemerintah

Jepang Protes Uji Coba Rudal Russia di Lepas Pantai Pulau-pulau yang Disengketakan

Kemenhut dan Pemda Perkuat Modifikasi Cuaca untuk Atasi Karhutla di Kalimantan

Saham Asia Menguat, Investor Cermati Langkah AS Tekan Imbal Hasil Obligasi

BNPB Catat Sejumlah Karhutla pada 20-21 Agustus 2026, Siagakan Tim Pemadam

BMKG Imbau Masyarakat Waspadai Gelombang Empat Meter di Perairan Sumatera Utara

Deepublish Terbitkan The Front Liner, Buku yang Mengungkap Peran Strategis Garda Depan dalam Membangun Reputasi Perusahaan

Kebakaran Hutan di Kalimantan Barat dalam Catatan BPBD pada Januari–Agustus Mencapai 38.310 Hektare

Daftar 5 Skuad Termahal Liga Inggris 2026/2027, Arsenal Ungguli Chelsea dan Man City

Jadwal Pertandingan Persija di Putaran Pertama Super League 2026-2027

Investor Eropa Minati Penanaman Modal untuk Energi Baru Terbarukan

Deadsquad, Jasad, dan Death Vomit Terlantar di Eropa, Promotor Lepas Tangan di Irlandia

Pesawat Charter Jatuh di Lokasi Militer AS di Alaska, 8 Orang Tewas 

Rusun Manggarai Dibangun 24 Lantai, KAI Targetkan Rampung dalam 18 Bulan

PLTU Suralaya jadi Penyumbang Polusi DKI, Ini Respons Gubernur Banten

Karhutla Berimbas Peningkatan Kasus ISPA 2026, Kemenkes: Tembus 400 Ribu per Minggu

Pemprov DKI Usul Ranperda Rumah Susun Terintegrasi Sekolah, Pasar, dan Transportasi

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.