AI Gerus 268 Ribu Kerja Anak Muda Korsel, CORE: RI Wajib Antisipasi Sekarang

Jumat, 21 Agu 2026, 11:15 WIB

JAKARTA – Peneliti Ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendi Manilet meminta pemerintah tidak terlambat menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul agar tidak tergerus kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Teknologi ini dinilai mulai memangkas lapangan kerja kaum muda secara signifikan.

Peringatan itu berangkat dari fenomena di Korea Selatan. Bank of Korea (BOK) dalam laporan 18 Agustus 2026 mencatat sebanyak 285 ribu lapangan kerja pemuda hilang dalam empat tahun terakhir. Dari jumlah itu, 94 persen atau 268 ribu posisi berada di sektor-sektor dengan tingkat paparan AI tinggi.

Ket. Foto: Peneliti Ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendi Manilet (tengah) meminta pemerintah tidak terlambat menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul agar tidak tergerus kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) — Sumber: istimewa

Data BOK yang mengutip catatan National Pension Service (NPS) Korea Selatan dan survei penduduk aktif secara ekonomi itu menjadi sinyal kuat bagi Indonesia.

Menurut Rendi, pekerjaan entry level yang biasanya menjadi pintu masuk karier pemuda berpotensi paling terdampak.

“Kalau melihat Korea Selatan, ada sinyal penting bagi Indonesia. Penurunan pekerjaan anak muda banyak terjadi di sektor yang memiliki paparan AI tinggi, seperti pemrograman dan jasa profesional. Pekerjaan dasar seperti pengolahan data sederhana dan penulisan dokumen yang biasanya menjadi pintu masuk pekerja muda semakin mudah diotomatisasi,” kata Rendi pada Koran Jakarta, Jumat (21/8).

Menariknya, di sektor yang sama pekerja usia lima puluhan justru bertambah. Hal itu karena mereka dinilai lebih mampu menggunakan AI untuk meningkatkan produktivitas.

Rendi menjelaskan struktur ekonomi Indonesia memang berbeda dengan Korsel. Pengangguran usia muda di Indonesia masih jauh lebih tinggi dari angka nasional, sementara proporsi lulusan perguruan tinggi di antara penganggur juga meningkat.

Ia memperingatkan, ketika AI mulai masuk ke pekerjaan administrasi, layanan pelanggan, analisis data dasar, hingga coding, maka posisi entry level yang selama ini menjadi awal karier bisa semakin terbatas.

“Risikonya juga berbeda karena Indonesia masih banyak bergantung pada pertanian, manufaktur padat karya, dan sektor informal. Ini memberi waktu untuk beradaptasi, tetapi jika perusahaan lebih memilih menggantikan pekerja daripada meningkatkan produktivitas mereka dengan AI, prosesnya bisa berupa freeze hiring dan berkurangnya kesempatan anak muda memperoleh pengalaman kerja,” ujarnya.

Bukan Penyebab Tunggal

Rendi menekankan AI bukan penyebab tunggal hilangnya lapangan kerja. Ada faktor demografi, mismatch pendidikan, dan perubahan pola rekrutmen yang turut memperparah tekanan terhadap tenaga kerja muda.

Karena itu, ia mendorong perubahan arah pendidikan agar lebih menekankan berpikir kritis, literasi data, pemecahan masalah, dan kemampuan bekerja dengan teknologi.

“Insentif bagi perusahaan untuk merekrut sekaligus melatih pekerja muda juga penting agar AI tidak hanya menjadi alat substitusi, tetapi juga alat untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja,” tegas Rendi.

Ia menutup, jika tidak ada kebijakan antisipatif, Indonesia berisiko mengalami penyempitan kesempatan kerja bagi generasi muda yang sama seperti di Korsel, hanya dengan konteks ekonomi yang berbeda.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

Para Pelaku UMKM Harus Terus Didampingi

Jepang Eksekusi Mati Pelaku Pembakaran Tempat Judi Pachinko

Kalimantan Bisa Saja Harus Eksodus Besar-besaran Hadapi Kabut Asap karena Terdapat 1.500 Zona Api

Mikel Arteta Terlalu Bersemangat, Sudah Tak Sabar Sambut Laga Perdana

Dua Penumpang Tewas Terjebak di Dalam Jeep Mercedes-Benz yang Terbakar di Tol Akibat Kecelakaan

IBMA Resmi Dibentuk, Pegadaian Perkuat Ekosistem Bank Emas Berstandar Global

Gawat, Banten Bakal Diaduk-aduk, Ada 160 Perusahaan Tambang Siap Beraksi

Mercedes-Benz Menabrak Truk Kontainer di Tol Jagorawi, Dua Orang Tewas Terbakar

Kabut Asap Kebakaran Hutan di Kalbar Kembali Pekat, Orang Tua Murid Berharap Sekolah Diliburkan

Pengedar Narkoba Makin Lihai, Dua Pemuda di Depok Ditangkap, Jual Tembakau Sintetis di Medsos

AI Gerus 268 Ribu Kerja Anak Muda Korsel, CORE: RI Wajib Antisipasi Sekarang

Kemenpar Rilis Infografis Statistik 10 Destinasi Pariwisata Prioritas

Biaya Logistik RI 14,29% PDB, Pakar Soroti 3 Penyebab Biaya Tinggi

Hina Hari Nyepi, Turis Asal Swiss Divonis Setahun Penjara

Gibran Gandeng Mahasiswa UI Pulihkan Trauma Anak-anak Korban Gempa NTT

Pontianak Alami Kepekatan Kabut Asap Super Ekstrem, Orangtua Tak Rela Anaknya Sekolah, Minta PJJ

Tingkatkan Keselamatan Wisatawan, Kemnaker Perkuat Kompetensi Pemandu Wisata Gunung di NTB

Mobil Listrik Omoda 4 Resmi Hadir di Indonesia, Cek Fitur dan Harganya!

Subsidi Motor Listrik Bergulir Lagi September, Mau Beli Motor Listrik Subsidi Rp5 Juta? Lirik Merek-merek Berikut

Rupiah Dibayangi Kebuntuan Selat Hormuz

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.