Okupansi Mal Jakarta Tembus 86 Persen, Konsumen Mulai Balik Belanja?

Selasa, 18 Agu 2026, 17:25 WIB

JAKARTA – Meningkatnya tingkat okupansi mal Jakarta menunjukkan aktivitas ritel mulai menguat, ditopang ekspansi tenant, terutama sektor makanan dan minuman, serta masuknya sejumlah merek baru.

Tren ini menjadi sinyal positif bagi konsumsi masyarakat dan sektor perdagangan. Namun, keberlanjutannya tetap bergantung pada daya beli, trafik pengunjung, serta kemampuan pengelola mal menghadirkan konsep yang relevan dengan kebutuhan konsumen.

Ket. Foto: Pengunjung berbelanja saat Festival Jakarta Great Sale di Kuningan City Mall, Jakarta, Sabtu (13/6/2026). — Sumber: ANTARA/ Fauzan.

Konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL) melaporkan tingkat hunian pusat perbelanjaan di Jakarta mencapai sekitar 86 persen pada kuartal II 2026, didorong oleh ekspansi penyewa serta kegiatan optimasi mal yang dilakukan pengelola.

Head of Project and Asset Management JLL Indonesia Naomi Patadungan mengatakan permintaan ruang ritel saat ini cukup banyak datang dari sektor makanan dan minuman (F&B), wellness, hingga ritel berbasis pengalaman (experiential retail).

“Berdasarkan diskusi kami dengan landlords dan building operations, melalui beberapa asosiasi seperti APPBI (Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia), kami melihat semakin banyak inquiry (permintaan penyewa) untuk masuk, terutama untuk F&B, wellness, dan experiential retail stores, termasuk pet shop juga cukup tinggi inquiry-nya,” kata Naomi dalam taklimat media Jakarta Property Market Overview 2Q di Jakarta, Selasa (18/8).

Menurut dia, tren tersebut turut didorong perubahan preferensi konsumen muda, khususnya generasi Z, yang semakin mencari merek baru dan pengalaman berbeda ketika mengunjungi pusat perbelanjaan.

Ia menjelaskan F&B saat ini hadir dengan beragam konsep dan produk yang dirancang untuk menarik konsumen muda. Kondisi tersebut terlihat dari antrean panjang pada sejumlah gerai baru, terutama produk minuman.

Naomi mengatakan fenomena tersebut turut meningkatkan lalu lintas pengunjung sekaligus memperpanjang waktu yang dihabiskan konsumen di dalam mal.

Menurutnya, meningkatnya kunjungan tersebut mendorong pemilik pusat perbelanjaan (landlords) untuk mempertahankan daya tarik mal melalui renovasi dan ekspansi area ritel.

Pengelola juga mulai mengombinasikan konsep ritel konvensional dengan outdoor retail, sekaligus melakukan kurasi terhadap tenan dan produk F&B yang masuk.

Naomi menilai strategi tersebut menjadi salah satu upaya pemilik mal untuk mempertahankan traffic di tengah perubahan perilaku konsumen.

“Ini juga meningkatkan harapan dari landlords untuk terus mendapatkan traffic yang baik. Lalu mereka melakukan renovasi, ekspansi dari ritel mereka, terutama brand retail, juga untuk mengkombinasikan antara conventional retail dan juga outdoor retail,” katanya.

Studi JLL mencatat tingkat okupansi pusat perbelanjaan premium (prime malls) bahkan mencapai sekitar 96 persen.

Sementara itu, stok pusat perbelanjaan Jakarta pada kuartal II 2026 tetap sekitar 3,2 juta meter persegi karena tidak terdapat pasokan baru yang masuk pada periode tersebut.

Rata-rata sewa mal premium tercatat sekitar Rp621.341 per meter persegi per bulan atau meningkat tipis 0,25 persen secara kuartalan.

JLL memperkirakan tingkat sewa mal premium akan naik sekitar 3 persen pada tahun ini.

  • Okupansi Mal

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.