Bukan Asal Hitung! Tujuh Dikurangi Tiga, Target Emas dari Nomor yang Tak Dipertandingkan

Jumat, 14 Agu 2026, 17:41 WIB

JAKARTA - Sebanyak 432 atlet dari 35 cabang olahraga akan membawa Merah Putih pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026.

Mereka datang ke pesta olahraga terbesar Asia yang mempertandingkan 469 nomor medali itu dengan satu target yang ringkas: empat emas.

Ket. Foto: Atlet panjat tebing Indonesia Desak Made Rita Kusuma Dewi mengikuti Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) di kawasan Harapan Indah, Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis (30/7). — Sumber: ANTARA/Darryl Ramadhan

Empat bukan angka yang muncul tanpa perhitungan.

Indonesia meraih tujuh emas pada Asian Games Hangzhou. Namun, tiga nomor yang menjadi sumber emas ketika itu tidak lagi dipertandingkan di Aichi-Nagoya.

Tujuh dikurangi tiga, tersisa empat. Hitungan tersebut antara lain menjadi dasar pemerintah menetapkan empat emas sebagai target realistis di Jepang.

Tidak ada yang salah dengan realistis.

Asian Games bukan SEA Games. China, Jepang, Korea Selatan, India, Uzbekistan, Iran, dan negara-negara lain datang dengan kekuatan terbaiknya.

Tidak seluruh atlet Indonesia juga berangkat untuk memburu emas. Ada yang mengincar medali, memperbaiki peringkat, memecahkan rekor pribadi, atau sedang dibangun menuju Olimpiade.

Namun, ada pertanyaan yang lebih menarik daripada sekadar empat emas.

Setelah hampir tiga tahun sejak Asian Games Hangzhou, apakah hilangnya tiga nomor emas memang harus otomatis membuat target berkurang tiga emas?

Olahraga prestasi seharusnya terus bergerak.

Ketika satu nomor andalan hilang, peluang baru mesti dicari. Ketika atlet senior mendekati akhir karier, penggantinya seharusnya sudah tumbuh.

Ketika persaingan berubah, program pembinaan juga mesti ikut berubah.

Artinya, pekerjaan setelah Hangzhou mestinya bukan sekadar menjaga empat sumber emas yang tersisa.

Indonesia seharusnya juga membangun sumber emas baru.

Di sinilah Asian Games 2026 menarik untuk dibaca, bukan hanya sebagai pertandingan, tetapi juga sebagai cermin pembinaan olahraga Indonesia.

Persiapan

Persiapan menuju Jepang memang tidak seluruhnya berjalan ideal.

Pelatnas renang sempat berlangsung terpusat sebelum atlet kembali berlatih di klub masing-masing ketika anggaran masih dalam pembahasan.

Rowing hanya memperoleh satu uji coba internasional sepanjang persiapan.

Atletik harus memusatkan sumber daya kepada tim utama sehingga program atlet lapis kedua dikembalikan ke daerah.

Tinju, anggar, dan tenis meja bahkan menjalani persiapan melalui skema pendanaan mandiri federasi maupun mitra.

Atlet tetap berlatih. Pelatih tetap bekerja. Federasi mencari jalan.

Pemerintah kemudian menambah anggaran pelatnas Asian Games dari Rp127 miliar menjadi Rp222 miliar, di luar biaya pengiriman kontingen.

Tambahan itu tentu penting.

Tetapi olahraga prestasi mempunyai sesuatu yang tidak bisa dibeli kembali: waktu.

Uji coba internasional yang batal tidak selalu bisa diganti sebulan sebelum pertandingan. Program latihan mempunyai siklus. Kondisi fisik, teknik, pemulihan, evaluasi, dan pencapaian performa puncak tidak bisa diselesaikan sekaligus ketika pertandingan sudah di depan mata.

Anggaran dapat ditambah. Waktu yang sudah lewat tidak.

Masalahnya, cerita semacam ini terasa terlalu akrab.

Indonesia sebenarnya tidak kekurangan gagasan untuk membenahi olahraga.

Ada Desain Besar Olahraga Nasional. Sekarang Manajemen Talenta Nasional bidang olahraga sedang disinkronkan dengannya.

Ada keinginan memperbaiki data atlet, menyambungkan kompetisi pelajar dan mahasiswa, memperkuat sport science, memperjelas perjalanan karier atlet, hingga membuat pendanaan makin berbasis target dan indikator kinerja.

Pemerintah juga mulai mendorong pelatnas jangka panjang melalui sistem multiyears agar persiapan atlet tidak lagi terputus oleh pergantian tahun anggaran.

Semua terdengar masuk akal.

Bahkan terasa seperti jawaban atas banyak masalah lama olahraga Indonesia.

Persoalannya kemudian bukan lagi apakah Indonesia mempunyai rencana.

Pertanyaannya adalah: Apakah rencana itu akan bertahan cukup lama untuk menghasilkan juara?

Inilah tantangan yang lebih besar.

Proses bertahun-tahun

Olahraga prestasi tidak mengenal hasil instan. Atlet yang berdiri di podium hari ini dibentuk oleh proses bertahun-tahun sebelumnya.

Mereka tumbuh dari klub, kompetisi usia muda, pelatih, pelatnas, uji coba, pemulihan, sport science, sampai kepastian bahwa program latihannya tidak tiba-tiba berubah di tengah jalan.

Karena itu, sistem olahraga tidak bisa terlalu sering kembali ke titik awal.

Pergantian pemerintahan boleh membawa pendekatan baru. Menteri baru tentu dapat memiliki prioritas berbeda. Organisasi olahraga pun harus terus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Namun, fondasi yang sudah dibangun seharusnya tidak ikut dibongkar setiap kali terjadi pergantian.

Nama program boleh berubah. Metodenya boleh diperbaiki. Targetnya bahkan harus terus dinaikkan. Tetapi perjalanan atlet tidak boleh ikut terputus.

Kantor Staf Presiden mengakui masih ada pekerjaan mendasar. Data atlet masih terfragmentasi, pembinaan antarlembaga belum sepenuhnya sinkron, akses kompetisi belum merata, penerapan sport science belum optimal, dan kepastian perjalanan karier atlet masih perlu diperbaiki.

“Rantai pembinaan ini tidak boleh putus di tengah jalan,” kata Tenaga Ahli Utama KSP Lindsey Afsari Puteri.

Kalimat itu sebenarnya sederhana. Namun, mungkin justru di situlah inti persoalannya.

Indonesia bukan kekurangan bakat. Bukan pula kekurangan dokumen perencanaan.

Yang lebih sulit adalah memastikan satu kebijakan tersambung dengan kebijakan berikutnya, satu generasi atlet bertemu dengan generasi setelahnya, dan satu pemerintahan tidak selalu merasa harus memulai semuanya kembali dari awal.

Sebab prestasi olahraga membutuhkan kesabaran yang sering kali lebih panjang daripada usia sebuah jabatan.

Hasil dari pembenahan yang dilakukan hari ini mungkin belum terlihat di Aichi-Nagoya.

Bisa jadi baru terasa pada Olimpiade Los Angeles 2028, Asian Games berikutnya, atau bahkan Olimpiade 2032.

Itu bukan masalah. Justru seperti itulah seharusnya olahraga prestasi dibangun.

Konsistensi

Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, atau negara-negara yang konsisten menjadi kekuatan olahraga Asia tidak membentuk atlet elite dalam satu atau dua tahun menjelang multievent.

Indonesia juga tidak bisa berharap berbeda.

Asian Games 2026 karena itu jangan hanya dinilai dari apakah empat emas tercapai.

Ajang tersebut juga bisa menjadi kesempatan untuk melihat seberapa banyak atlet Indonesia yang sudah benar-benar berada di level elite Asia.

Beberapa cabang sudah mempunyai dasar kuat.

Angkat besi datang dengan sejumlah lifter yang berada dalam persaingan medali. Panjat tebing memiliki atlet yang terbiasa bertanding di tingkat dunia. Bulu tangkis tetap mempunyai tradisi dan kedalaman yang membuatnya terus berada dalam pembicaraan medali.

Mereka menjadi tumpuan.

Pekerjaan yang sesungguhnya adalah memperpanjang daftar itu.

Indonesia membutuhkan lebih banyak cabang yang datang ke Asian Games bukan dengan berharap terjadi kejutan, tetapi karena atletnya sejak awal memang berada dalam perhitungan juara.

Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir bahkan membuka kemungkinan kejutan itu.

“Empat targetnya, ya ada dari bulu tangkis, dari angkat besi, panjat tebing. Mungkin cabang-cabang olahraga lainnya yang potensinya perak siapa tahu kepeleset jadi emas,” katanya.

Tentu tidak ada yang salah dengan berharap.

Olahraga selalu ada kejutan. Unggulan bisa terpeleset. Atlet yang tidak diperhitungkan dapat tampil luar biasa. Calon peraih perak pun bisa pulang membawa emas.

Dewi Fortuna memang selalu mempunyai tempat di arena pertandingan.

Tetapi tugas sistem olahraga bukan menunggu keberuntungan.

Tugasnya memperbesar peluang agar keberuntungan hanya menjadi bonus.

Jika tiga nomor emas dari Hangzhou hilang, tantangannya bukan sekadar mengurangi target dari tujuh menjadi empat.

Tantangannya adalah menggunakan waktu yang tersedia untuk menemukan tiga, empat, atau bahkan lebih sumber emas baru.

Pelatnas multiyears, sinkronisasi MTN dengan DBON, pembenahan data atlet, penguatan sport science, serta pendanaan berbasis kinerja menawarkan arah ke sana.

Sekarang yang dibutuhkan adalah kesinambungan.

Jangan sampai empat tahun lagi Indonesia kembali membicarakan masalah yang sama dengan nama program yang berbeda.

Jangan pula setiap pergantian kepemimpinan membuat olahraga kembali sibuk menyusun fondasi. Sebab atlet tidak bisa menunggu sistem selesai mencari bentuk.

Asian Games berikutnya akan datang. Olimpiade juga terus berjalan. Pada akhirnya, empat emas di Aichi-Nagoya tetap penting. Kalau menjadi lima, enam, atau lebih tentu makin baik.

Dewi Fortuna pun dipersilakan membantu.

Tetapi jauh lebih penting memastikan bahwa ketika keberuntungan tidak datang, Indonesia tetap mempunyai sistem yang dapat diandalkan. Supaya suatu hari target emas tidak lagi ditentukan terutama oleh apa yang hilang dari Asian Games sebelumnya. Melainkan oleh berapa banyak juara yang memang telah disiapkan sejak jauh hari. Ant

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Opik

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.