Jamintel Reda Terisak di Tengah Ratusan Tunanetra, Kartu Donor Darah Braille dan 1.000 Sepatu Jadi Jejak Kepedulian Kejaksaan
Selasa, 29 Sep 2026, 14:37 WIBSEMARANG â Suasana haru mewarnai kunjungan Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel) Kejaksaan Agung RI Prof. Reda Mantovani ke Pondok Pesantren (Ponpes) Sahabat Mata, Mijen, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (29/9).
Di hadapan ratusan penyandang tunanetra, Prof. Reda menyampaikan pesan mengenai pentingnya penegakan hukum yang tidak hanya berorientasi pada kewenangan, tetapi juga mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Kejaksaan meluncurkan Kartu Donor Darah dan Golongan Darah Braille yang diinisiasi dan dipelopori Kejaksaan bersam dengan PMI. Inovasi tersebut diperkenalkan sebagai terobosan pertama di Indonesia untuk membantu penyandang tunanetra memperoleh informasi mengenai golongan darah secara lebih mandiri.
Peluncuran dilakukan Prof. Reda Mantovani bersama Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah Teguh Subroto, SH., MH.
Kartu tersebut memuat informasi dalam huruf Braille sehingga dapat dikenali oleh penyandang tunanetra. Selain memberikan akses terhadap informasi pribadi, kartu ini diharapkan membantu ketika pemiliknya membutuhkan pelayanan kesehatan, termasuk dalam situasi yang memerlukan penanganan cepat.
Bagi penyandang tunanetra, kemampuan mengenali informasi mengenai golongan darah secara mandiri menjadi bagian penting dari aksesibilitas dan kemandirian.
Suasana semakin emosional ketika Prof. Reda menyampaikan sambutan.
Di hadapan ratusan penyandang tunanetra, Prof. Reda tampak terharu dan bahkan sempat terisak. Ia menyampaikan apresiasi kepada Kajati Jateng Teguh Subroto, SH, MH yang dinilainya telah menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat.
Reda juga menyampaikan terima kasih kepada Teguh Subroto karena dinilai telah memberikan contoh, bahwa seorang jaksa tidak hanya menjalankan tugas berdasarkan kewenangan, tetapi juga dapat hadir dalam persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.
âKalau jaksa hanya menekankan kewenangan semata, yang kita dapatkan hanya keadilan yang semu dan tidak terasa di masyarakat,â ujar Reda.
Menurutnya, penegakan hukum perlu dibarengi dengan pendekatan yang mampu menyentuh kehidupan masyarakat.
âKalau penegak hukum dan metodenya humanis, keadilan akan terasa di hati masyarakat,â lanjutnya.
Pesan tersebut disampaikan dalam suasana penuh haru di tengah para penyandang tunanetra yang mengikuti kegiatan.
Rangkaian kegiatan di Ponpes Sahabat Mata juga diisi dengan peresmian Gedung Pondok Pesantren Sahabat Mata.
Gedung tersebut diharapkan dapat mendukung kegiatan pendidikan, pembinaan dan pemberdayaan penyandang disabilitas.
Pada kesempatan yang sama, diserahkan pula meja pingpong bagi penyandang tunanetra. Fasilitas tersebut diharapkan dapat menunjang aktivitas olahraga sekaligus menjadi sarana interaksi dan kegiatan bersama.
Pimpinan Ponpes Sahabat Mata, Basuki, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas perhatian serta dukungan yang diberikan Kejaksaan.
Menurut Basuki, bantuan tersebut sangat membantu Sahabat Mata dalam menjalankan berbagai kegiatan pendidikan dan pemberdayaan bagi penyandang tunanetra.
1000 Pasang Sepatu
Kegiatan sosial tersebut tidak berhenti di Ponpes Sahabat Mata. Di lokasi berbeda, masih dalam rangkaian kegiatan yang sama, dilakukan penyerahan 1000 pasang sepatu kepada siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) se-Semarang Raya.
Bantuan tersebut diberikan untuk mendukung kebutuhan anak-anak penyandang disabilitas yang sedang menempuh pendidikan.
Jika kartu Braille memberikan akses terhadap informasi golongan darah, bantuan sepatu ditujukan untuk menunjang aktivitas para siswa dalam menjalani kegiatan belajar dan aktivitas sekolah.
Sebanyak 1000 pasang sepatu tersebut diharapkan dapat digunakan para siswa dalam kegiatan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun kegiatan lainnya.
Penyerahan yang dilakukan secara terpisah tersebut sekaligus memperluas sasaran bantuan, dari penyandang tunanetra di Sahabat Mata hingga siswa penyandang disabilitas di berbagai SLB wilayah Semarang Raya.
Sementra itu, Kajati Jateng Teguh Subroto menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya rangkaian kegiatan tersebut.
âAlhamdulillah, bantuan dari Bapak Jamintel ini sangat bermanfaat bagi Yayasan Sahabat Mata dan saudara-saudara kita penyandang tunanetra,â kata Teguh.
Ia berharap bantuan dan fasilitas yang diberikan dapat dimanfaatkan secara optimal. âSemoga semuanya memberikan manfaat dan dapat mendukung saudara-saudara kita, termasuk anak-anak penyandang disabilitas,â ujarnya.
Diketahui, Yayasan Sahabat Mata merupakan lembaga sosial di Kota Semarang yang bergerak dalam bidang pendidikan, pemberdayaan dan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, khususnya tunanetra.
Sahabat Mata mulai beraktivitas pada 1 Mei 2008. Berbagai program dikembangkan, antara lain pendidikan Al-Qurâan Braille, penyediaan dan distribusi Al-Qurâan Braille, pendidikan dan pelatihan, pemanfaatan teknologi aksesibel, serta pengembangan kemandirian penyandang disabilitas.
Di kawasan Mijen, Sahabat Mata juga mengembangkan pondok pesantren sebagai ruang pendidikan dan pemberdayaan bagi penyandang disabilitas.
Keberadaan fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan ruang belajar, pembinaan, dan pengembangan keterampilan bagi para penyandang disabilitas.
Rangkaian kegiatan tersebut mencakup sejumlah program dengan sasaran yang berbeda.
Kartu Donor Darah dan Golongan Darah Braille ditujukan untuk membantu penyandang tunanetra mengakses informasi penting mengenai golongan darah.
Peresmian gedung dan penyerahan meja pingpong mendukung aktivitas pendidikan serta kegiatan para penyandang tunanetra di Sahabat Mata.
Sementara itu, 1.000 pasang sepatu diberikan kepada siswa SLB se-Semarang Raya untuk menunjang aktivitas mereka dalam menempuh pendidikan.
Bagi Prof. Reda, rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari cara Kejaksaan hadir di tengah masyarakat melalui program yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan warga.
Momen ketika Prof. Reda terharu hingga terisak di hadapan para penyandang tunanetra pun menjadi bagian yang paling emosional dari kegiatan tersebut.
Pesan yang disampaikannya menekankan bahwa pelaksanaan tugas penegakan hukum pada akhirnya harus dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Dari Semarang, rangkaian kegiatan itu menghadirkan satu pesan sederhana yakni akses, perhatian, dan dukungan dapat diwujudkan melalui langkah-langkah konkret yang menyentuh kehidupan masyarakat.
- Tunanetra
- Jamintel Reda
- Kartu Donor Darah Braille
Redaktur: Sriyono
Penulis: Henri pelupessy
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.