Transnistria Negara Warisan Soviet yang Tak Diakui
📅 Selasa, 11 Agu 2026, 07:22 WIB | Oleh: Haryo BronoDI PETA EROPA, Transnistria nyaris seperti garis tipis yang terlupakan. Wilayah yang tidak luas dan tanpa akses ke laut ini membentang di tepi timur Sungai Dniester, di antara Moldova dan Ukraina. Namun di balik ukurannya yang kecil, kawasan ini menyimpan salah satu persoalan geopolitik paling rumit warisan runtuhnya Uni Soviet.
Di ibu kotanya, Tiraspol, simbol-simbol masa lalu masih terasa kuat. Patung tokoh-tokoh Soviet, lambang palu arit, dan nama jalan yang mengingatkan pada era komunisme berdiri berdampingan dengan institusi yang mengklaim diri sebagai negara modern.
Ada pemerintahan, parlemen, tentara, hingga mata uang sendiri. Ada pula paspor serta batas wilayah yang dijaga ketat. Namun, ada satu hal yang tidak dimiliki Transnistria: pengakuan internasional dari satu pun negara di dunia, termasuk Russia—sang pewaris utama Uni Soviet.
Secara hukum internasional, Transnistria tetap dianggap sebagai bagian dari Moldova. Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama di Eropa (OSCE) bahkan menegaskan bahwa penyelesaian konflik harus menghormati kedaulatan serta integritas wilayah Moldova, dengan kemungkinan pemberian status khusus bagi Transnistria. Di sinilah paradoks Transnistria dimulai: ia berfungsi layaknya sebuah negara, tetapi tidak diakui dalam sistem internasional.
Lahir dari Bubarnya Uni Soviet
Untuk memahami Transnistria, perjalanan sejarahnya harus ditarik jauh sebelum Uni Soviet bubar pada 26 Desember 1991. Wilayah di sebelah timur Sungai Dniester memiliki sejarah yang berbeda dari wilayah Moldova di sebelah baratnya. Pada era Soviet, kawasan ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan sektor industri, militer, dan kehidupan perkotaan Soviet.
Pada tahun 1924, Uni Soviet membentuk Moldavian Autonomous Soviet Socialist Republic di sebelah timur Dniester. Beberapa dekade kemudian, seusai Perang Dunia II, kawasan tersebut menjadi bagian dari Moldavian Soviet Socialist Republic. Warisan ini sangat penting karena turut membentuk identitas sosial masyarakat Transnistria.
Berbeda dengan Moldova yang memiliki hubungan sejarah dan budaya erat dengan Rumania, Transnistria berkembang sebagai wilayah yang sangat terintegrasi dengan dunia Russia dan Soviet. Bahasa Russia menjadi bahasa pergaulan utama (lingua franca), sementara masyarakatnya terdiri atas etnis Moldovan, Russia, Ukraina, serta kelompok etnis lainnya.
Ketika Uni Soviet memasuki masa keruntuhan pada akhir 1980-an, perbedaan identitas tersebut berubah menjadi pergesekan politik. Di Moldova, gerakan nasionalis semakin kuat. Bahasa Moldova/Rumania didorong kembali sebagai bahasa utama, yang memicu kekhawatiran mengenai kemungkinan penyatuan Moldova dengan Rumania.
Bagi sebagian masyarakat di Transnistria, perkembangan tersebut dipandang sebagai ancaman terhadap identitas mereka. Pada tahun 1989, kelompok pekerja di kawasan industri Transnistria membentuk organisasi politik bernama OSTK. Mereka menentang kebijakan bahasa yang dianggap terlalu mendekatkan Moldova kepada Rumania dan menuntut kesetaraan bahasa, terutama bagi bahasa Russia.
Perselisihan yang awalnya berkisar pada isu bahasa dan identitas ini kemudian berkembang menjadi perebutan kekuasaan. Pada 2 September 1990, kelompok politik di Transnistria secara sepihak memproklamasikan Pridnestrovian Moldavian Soviet Socialist Republic—sebuah keputusan yang tentu saja ditolak tegas oleh Moldova.
Ketika Uni Soviet resmi runtuh, Moldova mendeklarasikan kemerdekaannya. Amerika Serikat mengakui kemerdekaan Moldova pada 25 Desember 1991. Namun, Transnistria mengambil jalan yang berbeda. Wilayah tersebut mempertahankan pemerintahannya sendiri dan menolak berada di bawah kendali Chisinau, ibu kota Moldova. Pertentangan tersebut akhirnya memuncak menjadi konflik bersenjata.
Perang Singkat
Pada tahun 1992, pertempuran pecah antara pasukan Moldova dan pasukan Transnistria. Konflik ini terutama berlangsung di sepanjang Sungai Dniester, merenggut ratusan nyawa, dan memaksa lebih dari 100.000 orang mengungsi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!