• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Hati-hati Ya, Kesehatan Me...

Hati-hati Ya, Kesehatan Mental Tak Hanya Soal Kesehatan, tetapi Juga Produktivitas dan Ekonomi

Senin, 28 Sep 2026, 17:10 WIB

JAKARTA — Kesehatan mental semakin menjadi perhatian karena dampaknya tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga dapat berkaitan dengan produktivitas, kualitas hidup, dan ketahanan ekonomi. Kementerian Kesehatan RI mencatat sekitar 28 juta penduduk Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental.

Kondisi tersebut turut menjadi perhatian Zurich Insurance Group melalui laporan The Value of Mental Health yang diterbitkan pada April 2026. Laporan tersebut mengkaji dampak kesehatan mental dari tiga perspektif, yakni people atau manusia, productivity atau produktivitas, serta protection systems atau sistem perlindungan.

Ket. Foto: Suasana keseruan ajang Zurich Fun Run 5K yang digelar di Jakarta pada hari Minggu (27/9/2026). Melalui laporan global terbarunya, Zurich menyoroti dampak gangguan kesehatan mental terhadap produktivitas, kualitas hidup, dan ketahanan ekonomi, sekaligus menekankan pentingnya intervensi serta dukungan sejak dini. — Sumber: Zurich Asuransi Indonesia

Kajian tersebut mencakup enam negara, yaitu Australia, Chile, Jerman, Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Inggris. Sistem perlindungan yang dimaksud antara lain asuransi, layanan kesehatan, dan jaminan sosial.

Menurut laporan tersebut, persoalan kesehatan mental memiliki implikasi yang lebih luas sehingga membutuhkan pendekatan yang melibatkan berbagai pihak, termasuk upaya pencegahan dan dukungan sejak dini.

Dampak terhadap Produktivitas dan Kualitas Hidup

Dari perspektif people, laporan menunjukkan prevalensi gangguan kesehatan mental yang terdiagnosis diproyeksikan berada pada kisaran 12–27 persen populasi pada 2030 di negara-negara yang dikaji. Kondisi kecemasan atau anxiety disebut sebagai salah satu gangguan yang paling dominan.

Di Indonesia, data yang dikutip dalam laporan menunjukkan prevalensi gangguan kesehatan mental meningkat dari sekitar 6 persen pada 2013 menjadi 9,8 persen pada 2018. Pada 2023, angkanya diperkirakan mencapai sekitar 20 persen populasi.

Sementara dari perspektif produktivitas, gangguan kesehatan mental berpotensi menimbulkan kerugian produktivitas hingga sekitar 5 persen dari produk domestik bruto (PDB) di sejumlah negara yang diteliti.

Kerugian tersebut tidak hanya berasal dari ketidakhadiran seseorang akibat cuti sakit. Laporan juga menyoroti berkurangnya partisipasi dalam angkatan kerja yang berkaitan dengan gangguan kesehatan mental sebagai salah satu faktor yang memberikan dampak ekonomi.

Pada tingkat individu, seseorang dengan gangguan kesehatan mental dapat kehilangan sekitar 60–67 hari hidup sehat setiap tahun. Di enam negara yang menjadi cakupan kajian, kehilangan kesejahteraan dan kualitas hidup (wellbeing loss) diperkirakan mencapai sekitar US$1 triliun per tahun.

Country Manager dan Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk, Edhi Tjahja Negara, mengatakan temuan tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental memiliki dimensi yang lebih luas daripada persoalan kesehatan.

“Berbagai temuan ini menunjukkan bahwa kesehatan mental memiliki dimensi yang lebih luas daripada persoalan kesehatan semata, termasuk terhadap produktivitas, kualitas hidup, dan ketahanan ekonomi. Karena itu, upaya menjaga wellbeing perlu dilihat sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih tangguh,” kata Edhi dalam keterangannya pada hari Senin (28/9).

Pentingnya Dukungan Sejak Dini

Laporan The Value of Mental Health juga menyoroti peran sistem perlindungan dalam membantu masyarakat mengidentifikasi masalah kesehatan mental, memperoleh akses terhadap layanan yang dibutuhkan, dan mendapatkan dukungan secara tepat waktu.

Menurut Edhi, dukungan tersebut penting diberikan sejak dini dan tidak hanya ketika risiko sudah terjadi.

“Dari sisi perlindungan, kami melihat pentingnya bergerak lebih awal, bukan hanya ketika risiko sudah terjadi. Edukasi dan akses terhadap dukungan yang relevan dan tepat waktu menjadi bagian penting untuk membantu individu menjaga kualitas hidup dan tetap terhubung dengan pekerjaan, keluarga, maupun komunitas,” ujarnya.

Di Indonesia, Zurich mengembangkan program wellbeing sebagai bagian dari proposisi asuransi kesehatan. Program tersebut mencakup empat aspek, yaitu kesehatan fisik, mental, sosial, dan finansial.

Implementasinya dilakukan melalui sejumlah kegiatan, antara lain seminar dan pemeriksaan kesehatan, konsultasi, aktivitas olahraga, kegiatan sukarela (volunteering), serta literasi keuangan.

Pendekatan tersebut diarahkan pada upaya preventif dan mendorong masyarakat untuk menjaga kualitas hidup secara lebih menyeluruh.

Fun Run 5K Sambut 35 Tahun Zurich di Indonesia

Sejalan dengan upaya meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya wellbeing, Zurich menggelar kegiatan Fun Run 5K pada Minggu (27/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian menyambut 35 tahun perjalanan Zurich di Indonesia.

Lebih dari 200 peserta yang terdiri atas karyawan Zurich dan anggota komunitas mengikuti kegiatan tersebut. Peserta juga mendapatkan perlindungan kecelakaan diri secara gratis serta mengikuti sejumlah aktivitas pendukung, termasuk pemeriksaan kesehatan dan edukasi mengenai gaya hidup sehat.

Edhi mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk aktivitas yang mendorong masyarakat menjaga kesehatan fisik sekaligus mendukung kesadaran terhadap wellbeing.

“Memasuki usia ke-35 di Indonesia, Zurich ingin terus berjalan bersama masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup. Fun Run ini menjadi salah satu langkah kecil dari perjalanan tersebut. Karena kami percaya menjaga wellbeing secara menyeluruh tidak hanya membantu seseorang hidup lebih sehat, tetapi juga mendukung produktivitas, ketahanan finansial, serta kesiapan menghadapi berbagai risiko kehidupan,” kata Edhi.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.