• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Kulit Asia Lebih Rentan Pi...

Kulit Asia Lebih Rentan Pigmentasi, Teknologi Baru Ditawarkan untuk Perawatannya

Minggu, 09 Agu 2026, 16:58 WIB

JAKARTA — Pond's memperkenalkan teknologi perawatan kulit berbasis sains melalui partisipasinya dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) XXI Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) yang berlangsung di Yogyakarta pada 6–8 Agustus 2026.

Forum dermatologi tersebut diikuti lebih dari 2.000 tenaga medis dari berbagai wilayah Indonesia. Dalam kegiatan itu, Pond's menghadirkan sesi ilmiah yang membahas karakteristik biologis kulit masyarakat Asia, khususnya perempuan Indonesia, termasuk faktor yang berkaitan dengan pigmentasi dan proses penuaan kulit.

Ket. Foto: Prof. Maurice van Steensel, M.D., Ph.D., pakar genetika dan dermatologi asal Belanda memaparkan tentang kulit wajah Perempuan Asia yang kaya melanin sehingga lebih rentan mengalami pigmentasi, serta strategi yang diperlukan untuk mengatasi masalah tersebut. — Sumber: Unilever Indonesia

Salah satu teknologi yang diperkenalkan adalah Niasorcinolâ„¢, yang digunakan dalam rangkaian Pond's Bright Miracle. Teknologi tersebut dikembangkan dengan mengombinasikan Niacinamide (vitamin B3) dan E-Resorcinol untuk mendukung perawatan masalah pigmentasi dan membantu meratakan tampilan warna kulit.

Pembahasan mengenai karakteristik kulit Asia disampaikan oleh Prof. Maurice van Steensel, M.D., Ph.D., pakar genetika dan dermatologi asal Belanda, dalam sesi bertema Asian Skin Biology & Aging: Genetics, Barrier Changes & Pathways to Prevention.

Menurut Maurice, kulit masyarakat Asia, termasuk Indonesia, cenderung memiliki kandungan melanin lebih tinggi. Kondisi tersebut dapat memberikan perlindungan tertentu terhadap munculnya tanda-tanda penuaan, tetapi juga berkaitan dengan kecenderungan mengalami masalah pigmentasi.

“Kulit wajah perempuan Asia - termasuk Indonesia - cenderung memiliki kandungan melanin yang lebih tinggi. Melanin-rich skin memang memberikan sejumlah keuntungan, seperti memperlambat tanda penuaan seperti garis halus atau kerutan,” ujar Maurice dalam keterangannya pada hari Jumat (7/8).

Namun, aktivitas melanin yang lebih tinggi juga dapat membuat kulit lebih rentan terhadap persoalan seperti noda hitam, bekas jerawat, dan warna kulit yang tidak merata.

Menurut dia, faktor eksternal seperti paparan sinar ultraviolet (UV) dan polusi dapat memperburuk kondisi tersebut. Paparan tersebut dapat memicu stres oksidatif dan peradangan pada kulit yang kemudian memengaruhi sejumlah proses biologis, termasuk regenerasi kulit dan pembentukan pigmen.

“Karena itu, memahami mekanisme yang terjadi di balik proses ini menjadi sangat penting agar upaya pencegahan maupun perawatannya dapat dilakukan dengan lebih tepat sasaran,” katanya.

Konsep "Real Glow" Berbasis Kondisi Kulit

Pond's juga memperkenalkan konsep “Real Glow”, yang menempatkan tampilan kulit bercahaya sebagai bagian dari kondisi kulit yang sehat, bukan semata-mata efek kosmetik sementara.

Konsep tersebut dikaitkan dengan kemampuan alami kulit melakukan perbaikan sel. Salah satu mekanisme biologis yang dibahas adalah autophagy, yaitu proses ketika sel menguraikan dan mendaur ulang komponen sel yang rusak.

Dalam konteks perawatan kulit, proses tersebut dikaitkan dengan pemeliharaan kualitas sel dan regenerasi kulit. Pond's kemudian mengembangkan teknologi Niasorcinolâ„¢ dengan pendekatan yang diklaim mendukung mekanisme tersebut sekaligus menangani berbagai jalur yang berkaitan dengan pembentukan pigmen.

Matthew Seal, M.Sc., Head of R&D Beauty & Wellbeing Unilever Indonesia, mengatakan pengembangan teknologi tersebut dilakukan berdasarkan penelitian selama 15 tahun.

“Pond's Skin Institute sebagai pionir penggunaan Niacinamide sebagai brightening agent pada tahun 1976 menghadirkan Pond's Bright Miracle dengan kandungan Niasorcinol™, teknologi brightening paling advanced yang telah dikembangkan melalui penelitian selama 15 tahun dan dipatenkan,” ujar Matthew.

Menurut Matthew, Niasorcinol™ menggabungkan Niacinamide dan E-Resorcinol yang bekerja pada lapisan epidermis. Teknologi tersebut dikembangkan dengan pendekatan multi-pathway brightening, yang menurut perusahaan ditujukan untuk membantu proses regenerasi kulit sekaligus menangani penumpukan melanin.

Pond's menyebut teknologi tersebut terinspirasi dari mekanisme self-repair pada ubur-ubur dan kemudian dikembangkan melalui penelitian untuk aplikasi pada perawatan kulit.

Klaim Berdasarkan Pengujian Laboratorium dan Klinis

Pond's menyatakan Niasorcinol™ telah melalui sejumlah pengujian. Dalam uji in vitro, teknologi tersebut diklaim mampu mengurangi melanin berlebih hingga 100 kali lipat.

Perusahaan juga menyebut hasil pengujian menunjukkan kemampuan mencerahkan yang diklaim 2,8 kali lebih tinggi dibandingkan Niacinamide, 50 kali dibandingkan Hydroquinone, dan 500 kali dibandingkan Kojic Acid.

Namun, angka tersebut merupakan hasil pengujian yang dilakukan dalam kondisi tertentu dan tidak serta-merta menggambarkan hasil penggunaan pada setiap individu.

Dalam pengujian klinis dengan pemakaian rutin selama delapan minggu, Pond's melaporkan perubahan yang mulai terlihat sejak tiga hari pertama. Perusahaan menyebut penggunaan produk membantu mengurangi tampilan kulit kusam sebesar 20 persen dan noda hitam hingga 30 persen.

Produk tersebut juga disebut telah menjalani pengujian dermatologi untuk berbagai jenis kulit.

Perubahan Preferensi Konsumen

Pengembangan produk perawatan kulit dengan pendekatan berbasis sains juga berlangsung di tengah perubahan preferensi konsumen. Data Indonesia Consumer Trend on Beauty Industry yang dikutip Pond's menunjukkan 84 persen perempuan Indonesia lebih menginginkan kulit sehat dengan glow alami dibandingkan sekadar kulit putih.

Perubahan tersebut turut mendorong industri kecantikan untuk mengembangkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada perubahan warna kulit, tetapi juga kesehatan dan kondisi kulit secara keseluruhan.

Melalui keikutsertaannya dalam PIT XXI Perdoski 2026, Pond's berharap diskusi mengenai karakteristik biologis kulit Asia dapat membantu meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai kebutuhan kulit dan pilihan perawatan yang sesuai.

Matthew mengatakan keterlibatan dalam forum dermatologi tersebut juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan hasil penelitian dan pengembangan produk kepada komunitas medis.

“Bersama komunitas dermatologi di PIT Perdoski Yogyakarta 2026, Pond's berharap semakin banyak perempuan Indonesia memahami keunikan kebutuhan kulit mereka secara genetik sehingga dapat memilih solusi perawatan yang tepat,” ujarnya.

Penyelenggaraan PIT XXI Perdoski 2026 sendiri menjadi forum bagi para tenaga medis untuk bertukar pengetahuan mengenai perkembangan ilmu dermatologi, termasuk pembahasan mengenai karakteristik kulit, penuaan, pigmentasi, serta pendekatan pencegahan dan perawatan berbagai masalah kulit.

Top of Form

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.