BI Proyeksikan Ekonomi Jakarta 2026 Tumbuh 4,9% - 5,7%, Inflasi Terjaga

Jumat, 07 Agu 2026, 19:24 WIB

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memperkirakan perekonomian DKI Jakarta akan tetap tumbuh kuat sepanjang 2026 di tengah ketidakpastian global. 

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Bambang Arianto memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Jakarta tahun ini berada di kisaran 4,9% - 5,7% (yoy), dengan inflasi terjaga pada 2,5%±1% (yoy).

Ket. Foto: Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Bambang Arianto (tengah) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Jakarta tahun ini berada di kisaran 4,9% - 5,7% (yoy), dengan inflasi terjaga pada 2,5%±1% (yoy). — Sumber: istimewa

“Di tengah ketidakpastian global, stabilitas inflasi yang terjaga dan akselerasi transformasi digital diharapkan menjadi tumpuan utama penopang daya beli masyarakat. BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Jakarta 2026 berada pada tren positif yang solid,” kata Bambang dalam Bincang Bincang Media (BBM) Jakarta, Jumat (7/8).

Daya Beli & Konsumsi Jadi Motor Utama

Bambang menjelaskan, pertumbuhan 2026 akan ditopang kuat oleh konsumsi rumah tangga. Beberapa faktornya antara lain daya beli yang berdaya tahan berkat kenaikan UMP (upah minimum provinsi) Jakarta, penyaluran bansos, dan inflasi yang rendah.

“Struktur pekerja formal di Jakarta juga tinggi, 63,43% dibanding nasional 36,57%. Ditambah maraknya beragam event baik skala nasional maupun internasional, stimulus fiskal pemerintah, serta kebijakan menahan harga BBM (bahan bakar minyak) subsidi,” jelas Bambang.

Investasi, Ekspor, dan Sektor Jasa Jadi Penopang

Dari sisi investasi, pertumbuhan akan didorong investasi swasta dan agenda transformasi Jakarta menuju Kota Global menjelang HUT ke-500. Pembangunan proyek strategis multitahun seperti MRT (Mass Rapid Transit), LRT (Light Rail Transit), TOD (Transit Oriented Development), dan gedung bertingkat juga dipastikan berlanjut.

Untuk ekspor, permintaan dari negara tujuan utama seperti Thailand, Amerika Serikat dan Tiongkok masih kuat. Strategi diversifikasi ke negara non-traditional yang sudah diterapkan berbagai industri juga membantu.

Sementara dari sisi lapangan usaha, BI melihat penguatan di sektor Perdagangan, Akomodasi dan Makan Minum, Transportasi dan Pergudangan, serta Jasa Keuangan dan Jasa Perusahaan. Ini sejalan dengan pergeseran struktur ekonomi Jakarta yang semakin ke sektor tersier.

Jaga Stabilitas Harga Lewat 4K

Untuk menjaga inflasi, BI DKI bersama TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah) akan memperkuat program 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif)

Adapun langkahnya meliputi penguatan pasokan pangan melalui Kerja Sama Antar Daerah (KAD) sebagai antisipasi El Nino, perluasan Urban Farming, penguatan pasar murah, hingga komunikasi efektif.

“Pemerintah Pusat juga punya kebijakan antisipasi terhadap potensi tekanan harga dari eksternal,” tambah Bambang.

Dengan terjaganya permintaan domestik, keberlanjutan proyek strategis nasional dan daerah, serta maraknya agenda MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) dan event kebudayaan hingga akhir tahun, Bambang optimis Jakarta mampu mempertahankan tren pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.

Adapun perekonomian DKI Jakarta mencatat kinerja solid pada triwulan II 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Ibu Kota mencapai 5,52% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan nasional sebesar 5,29% (yoy).

Perekonomian Jakarta pada Tw III 2026 diprakirakan tetap tumbuh kuat, ditopang kegiatan usaha yang meningkat, keyakinan konsumen yang berada di level optimis, maraknya event, serta insentif transportasi.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.