Trump Dukung Larangan Ekspor Solar AS, Harga BBM Dunia Terancam Melonjak

Jumat, 25 Sep 2026, 02:00 WIB

London – Harga solar mencapai rekor menjelang pemilu sela Amerika Serikat (AS), Presiden Donald Trump menyatakan dukungan terhadap larangan ekspor solar, tetapi para analis memperingatkan langkah tersebut justru dapat mendorong kenaikan harga bahan bakar secara lebih luas.

Mengapa Trump ingin melarang ekspor?

Harga rata-rata solar mencapai rekor tertinggi dalam beberapa pekan terakhir, mendorong harga di AS ke level tertinggi baru sebesar 6,53 dolar AS per galon pada Selasa, menurut asosiasi pengendara AAA.

Ket. Foto: Harga rata-rata solar di AS telah mencapai rekor tertinggi dalam beberapa pekan terakhir. — Sumber: AFP

Harga tersebut melonjak dari 3,76 dolar AS per galon pada awal perang Amerika Serikat-Iran pada akhir Februari.

Lonjakan harga bahan bakar mengancam posisi Partai Republik yang dipimpin Trump untuk mempertahankan kendali atas Kongres dalam pemilu sela November.

Solar banyak digunakan untuk angkutan darat, pertanian, dan konstruksi. Karena itu, kenaikan harganya dapat dengan cepat menyebar ke berbagai sektor ekonomi dan mendorong inflasi.

Pertanyaan mengenai larangan ekspor tersebut masih tampaknya memecah pandangan di dalam pemerintahan Trump. Namun, sejumlah tokoh Partai Republik telah menyerukan pembatasan ekspor solar.

“Saya sudah bilang, mari kita jangan kirim solar ke luar,” kata Trump kepada wartawan pada Selasa.

Dampak terhadap harga di AS

Dalam jangka pendek, “jika ada larangan ekspor, maka akan ada lebih banyak pasokan di AS dan karena itu harga akan turun” di dalam negeri, kata analis Rystad Energy Jorge Leon kepada AFP.

Amerika Serikat memproduksi lebih banyak solar daripada yang dikonsumsinya, dengan mengekspor 1,3 juta barel per hari dan mengimpor 0,2 juta barel per hari, menurut analis Morgan Stanley.

Solar dimurnikan dari minyak mentah bersama bahan bakar transportasi lainnya, terutama bensin dan minyak tanah yang digunakan untuk menggerakkan pesawat.

Larangan ekspor akan membuat tangki penyimpanan produk olahan di sepanjang Pantai Teluk AS “penuh dalam waktu sekitar tiga minggu”, kata analis Morgan Stanley.

“Jika terlalu banyak solar di AS yang tidak dapat diekspor, maka kilang-kilang di AS harus mengurangi produksinya,” yang berarti mereka akan menghasilkan lebih sedikit bensin dan bahan bakar pesawat, kata Leon.

“Yang akan kita lihat adalah harga solar turun, tetapi harga bensin dan bahan bakar pesawat meningkat,” tambahnya.

Dampak global

Jika larangan diberlakukan, “margin penyulingan internasional akan melonjak” bersamaan dengan kenaikan harga di tingkat konsumen, kata Helge Andre Martinsen dan Tobias Ingebrigtsen dari DNB Carnegie.

Langkah tersebut dapat menciptakan guncangan energi baru, terutama bagi Eropa yang bergantung pada Washington untuk impor solar dan akan kesulitan menggantikan volume pasokan yang dibutuhkan.

Pasokan solar global sudah sangat terganggu.

Sebagian besar produk olahan dari Timur Tengah tidak tersedia akibat gangguan transportasi laut yang berkaitan dengan perang, sementara sejumlah fasilitas mengalami kerusakan akibat serangan.

Selain itu, serangan Ukraina terhadap kilang-kilang minyak Rusia telah memaksa Moskow, salah satu produsen utama, memberlakukan moratorium ekspor solar.

Penghentian ekspor AS ke Eropa dapat mendorong harga solar di tingkat konsumen di Prancis menjadi sekitar 3,90 euro (4,40 dolar AS) per liter, menurut perusahaan konsultan Bersingeco.

  • Kebijakan AS

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.