Krisis di FIFA Kian Memanas, Posisi Gianni Infantino Terancam Usai Gagal Jual Hak Komersial Piala Dunia
Rabu, 05 Agu 2026, 00:10 WIBZURICH â Krisis kepemimpinan di FIFA semakin memanas setelah Presiden FIFA Gianni Infantino membatalkan rencana kontroversial menjual sebagian hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta. Kegagalan proyek tersebut memicu gelombang kritik dari berbagai konfederasi dan asosiasi sepak bola, sekaligus mengancam posisi Infantino menjelang pemilihan presiden FIFA tahun depan.
Pekan lalu, FIFA mengalami gejolak internal yang disebut sebagai salah satu konflik terbesar dalam sejarah modern organisasi tersebut. Setelah tiga hari penuh perdebatan, Infantino akhirnya menarik proposal yang bertujuan menghimpun dana sebesar 4,2 miliar dolar AS melalui pembentukan badan baru yang mengelola hak komersial Piala Dunia.
Rencana itu akan menjadi kali pertama investor swasta memperoleh kepemilikan atas sebagian bisnis komersial turnamen sepak bola terbesar di dunia.
Infantino, yang telah memimpin FIFA sejak 2016, menyampaikan permintaan maaf karena usulan tersebut memecah belah organisasi. Namun, keputusan itu dinilai telah mengguncang fondasi dukungan politik yang selama ini membuat posisinya nyaris tak tergoyahkan.
Sekretaris Jenderal FIFA Mattias Grafstrom mengirim surat internal kepada seluruh staf yang menggambarkan situasi tersebut sebagai rangkaian peristiwa yang "menyedihkan dan patut disesalkan."
Dalam pesannya, Grafstrom mengajak seluruh karyawan tetap fokus menjalankan tugas melayani sepak bola dunia dan 211 asosiasi anggota FIFA sesuai dengan statuta organisasi.
"Individu, masa-masa yang tidak stabil, dan berbagai episode yang tidak menguntungkan akan datang dan pergi. Namun institusi ini, misinya, serta tanggung jawabnya terhadap sepak bola dunia akan tetap ada," tulis Grafstrom tanpa menyebut nama Infantino secara langsung.
Kepala Pengembangan Sepak Bola Global FIFA, Arsene Wenger, juga mengambil jarak dari proposal tersebut. Mantan pelatih Arsenal itu menegaskan dirinya sama sekali tidak terlibat dalam penyusunan rencana tersebut dan baru mengetahuinya melalui pemberitaan media.
"Keputusan untuk membatalkan proyek ini memang mutlak diperlukan. Saya percaya FIFA harus tetap independen serta melayani sepak bola dengan komitmen, transparansi, dan integritas," ujar Wenger.
Sejumlah laporan media menyebut tiga konfederasi regional tengah berupaya menggulingkan Infantino dari kursi presiden FIFA.
Lima federasi sepak bola Eropa, termasuk Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA), telah resmi mencabut dukungan terhadap pencalonan kembali Infantino pada Kongres FIFA di Maroko pada Maret mendatang. Sementara Federasi Sepak Bola Denmark menyatakan sejak awal memang tidak berniat memberikan suara kepadanya.
Di sisi lain, federasi sepak bola Maroko, Qatar, Kuwait, Lebanon, dan Sri Lanka tetap menyatakan dukungan kepada pria berkebangsaan Swiss-Italia tersebut.
Infantino juga berupaya mempertahankan citranya dengan mengunggah berbagai pernyataan dukungan itu melalui akun Instagram pribadinya. FIFA sendiri membantah laporan yang menyebut Infantino meminta bantuan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mempertahankan jabatannya.
Meski jumlah federasi yang secara terbuka menyatakan sikap masih relatif sedikit dibandingkan total 211 anggota FIFA, proposal tersebut dinilai telah merusak hubungan Infantino dengan sejumlah pemangku kepentingan utama.
UEFA dan CONCACAF mengeluarkan pernyataan keras yang menyatakan telah kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino.
Sementara itu, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) memang tidak secara langsung meminta pergantian presiden FIFA, tetapi mengecam keras minimnya konsultasi sebelum proposal tersebut diajukan dan mendesak adanya reformasi kelembagaan di tubuh FIFA.
Menurut laporan The Times London, UEFA, CONCACAF, dan AFC bahkan disebut siap melumpuhkan aktivitas FIFA hingga membentuk kompetisi sendiri apabila Infantino tetap bersikeras mempertahankan jabatannya. Namun, hingga kini UEFA memilih tidak memberikan komentar lebih lanjut, sedangkan FIFA, CONCACAF, dan AFC belum merespons laporan tersebut.
UEFA juga telah mengonfirmasi pengiriman document preservation letter kepada FIFA agar seluruh dokumen terkait proposal penjualan hak komersial Piala Dunia tetap disimpan sebagai bagian dari kemungkinan langkah hukum di kemudian hari.
Tantangan terdekat bagi Infantino adalah mencegah digelarnya Kongres Luar Biasa FIFA, yang dapat terjadi apabila sedikitnya 43 asosiasi anggota mengajukan permintaan resmi secara tertulis.
Setelah itu, ia hanya memiliki waktu sekitar tujuh bulan untuk memulihkan hubungan dengan para pendukungnya sekaligus mempertahankan mayoritas suara menjelang pemilihan presiden FIFA.
Seperti dua pendahulunya, Joao Havelange dan Sepp Blatter, kekuatan politik Infantino selama ini bertumpu pada dukungan negara-negara berkembang di luar Eropa yang sangat bergantung pada pendanaan FIFA.
Dalam proposal yang kini dibatalkan tersebut, asosiasi anggota yang mendukung rencana itu dijanjikan dividen antara 20 juta hingga 40 juta dolar AS pada awal tahun depan.
Kini, pihak-pihak yang ingin menantang Infantino harus segera menemukan kandidat alternatifsebelum batas akhir pencalonan pada 18 November, sosok yang mampu meraih dukungan baik dari federasi-federasi kecil penerima dana FIFA maupun negara-negara besar yang selama ini menjadi pusat kekuatan sepak bola dunia.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Kartu Kredit Edisi Resmi FIFA World Cup 2026 Hadir untuk Penggemar Sepak Bola Indonesia
-
Pelajar dari Kukar dan Bontang Lolos Jadi Anggota Paskibraka Nasional
-
Pasutri Pelaku Pencurian Motor di Duren Sawit Ditangkap di Cipinang Indah
-
Petani Dharmasraya Dapat Bantuan Rp1,9 Miliar, 95 Ton Benih Padi dan Traktor Mulai Disalurkan
-
Dubes Mesir Ingin Melihat Timnas Indonesia Berlaga di Piala Dunia 2030, Sebut Sepak Bola Pemersatu Bangsa
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.