Kemenkes Kembangkan Teknologi “AI” untuk Percepat Eliminasi Tuberkulosis

Selasa, 04 Agu 2026, 22:00 WIB

JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus mempercepat upaya eliminasi tuberkulosis (TB). Inovasi berbasis kecerdasan buatan digunakan untuk mendukung skrining dan memperkuat deteksi dini.

KONEKSI berkolaborasi dengan Kemenkes dan peneliti mengembangkan inovasi "TBScreen.AI" yang memanfaatkan analisis foto rontgen dada untuk skrining tuberkulosis. Analisisnya dirancang khusus berdasarkan karakteristik populasi Indonesia.

Ket. Foto: — Sumber: RRI/Shafira Nursyifa

Teknologi tersebut mempertimbangkan faktor usia, jenis kelamin, dan disabilitas sehingga diharapkan dapat mendeteksi TB lebih akurat dan cepat. Langkah ini dilakukan sebab capaian penemuan kasus TB nasional masih di bawah target yang ditentukan pemerintah.

Staf Tim Kerja Tuberkulosis dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Kemenkes RI, Rita Aryati, memaparkan capaian kasus TB nasional. Ia menyatakan hingga 27 Juli 2026, kasus ini baru 41 persen dari 45 persen yang ditargetkan pada Juni.

“Untuk kasus yang diobati, masih ada gap, yang seharusnya 95 persen, ternyata yang sudah menjalani terapi baru 89 persen. Ada juga yang belum diobati dan yang sudah kita temukan, seharusnya segera diobati untuk memutus mata rantai penularan,” ujar Rita dalam acara Riset Kolaboratif KONEKSI Perkuat Skrining Tuberkulosis Berbasis AI di Jakarta, Senin (3/8) lalu.

Menurut dia, Kemenkes kini tengah memprioritaskan 18 provinsi dengan beban kasus TB tertinggi. Namun, hingga bulan Juli, hanya empat provinsi yang mencapai target, yakni Jawa Barat, Banten, Bali, dan Papua Barat.

Untuk mengatasinya, pemerintah menggabungkan tracing TB dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG), memperluas one-stop service, dan mengoptimalkan penggunaan X-ray. Pemerintah juga menyediakan dukungan dana untuk pengadaan ratusan unit X-ray sebagai bagian dari penguatan skrining TB.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menjelaskan penggunaan teknologi harus dibarengi dengan pemerataan akses layanan kesehatan. Terutama penyandang disabilitas, karena mereka juga berisiko terkena TB, tetapi kerap terkendala saat asesmen dan mengakses layanan.

"Jadi ini menjadi suatu kesempatan yang sangat baik bagi kita untuk bisa menemukan TB di kalangan kaum disabilitas. Sehingga kita bisa mengobati lebih cepat," ujar Imran.

"Temukan (terlebih dahulu) baru obati sampai sembuh. Kalau tidak bisa ditemukan, tidak mungkin bisa diobati," imbuh dia.

Kementerian Kesehatan terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai kementerian, pemerintah daerah, serta peneliti dan komunitas. Upaya tersebut dilakukan untuk mempercepat penanggulangan TB dan diharapkan mampu meningkatkan penemuan kasus, serta memperluas jangkauan pengobatan. ils/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.