Spanyol: Setidaknya 72 Orang Tewas dalam Gelombang Massal Migran di Ceuta

Minggu, 02 Agu 2026, 18:50 WIB

CEUTA - Setidaknya 72 orang tewas dalam gelombang masuknya migran secara massal pekan lalu ke wilayah kantong Spanyol, Ceuta, saat puluhan ribu orang yang sebagian besar berenang melewati pos perbatasan dari Maroko, memasuki wilayah tersebut, kata pejabat setempat pada Minggu (2/8)

Sebagian besar dari sekitar 60.000 orang yang menyerbu wilayah Spanyol di Afrika Utara itu kini dilaporkan telah kembali ke Maroko sejak peristiwa penyeberangan migran massal terbesar di wilayah tersebut.

Ket. Foto: — Sumber: AFP

"Angka korban terbaru yang kami miliki adalah 72," ujar delegasi pemerintah untuk Ceuta, Miguel Angel Perez Triano, kepada para wartawan saat ditanya mengenai jumlah korban jiwa.

Aksi penyeberangan massal ini dianggap merupakan pelanggaran terhadap integritas wilayah Spanyol. Gelombang migran ini diduga dipicu oleh disinformasi yang disebarkan oleh penyelundup manusia pascaputusan Mahkamah Agung.

Ceuta merupakan wilayah kecil Spanyol seluas 18,5 kilometer persegi yang berada di pesisir Afrika Utara. Meskipun Maroko dan Spanyol saling berhadapan di seberang Selat Gibraltar yang sempit, Kota Ceuta sebenarnya terletak di sisi Maroko dari perairan tersebut. Posisi geografis tersebut membuat Ceuta menjadi salah satu jalur penting bagi orang-orang yang ingin memasuki Eropa dari Afrika.

Ceuta sendiri adalah kota otonom, salah satu dari serangkaian pos terdepan kecil Spanyol di sepanjang garis pantai Maroko. Kota ini kerap disebut sebagai plazas de soberanía atau "benteng kedaulatan". Seperti kota kembarnya, Melilla, Ceuta adalah target populer bagi migran Afrika yang berharap dapat masuk ke Eropa.

Bersama Melilla yang terletak sekitar 400 kilometer di sebelah timur, Ceuta menjadi satu-satunya wilayah yang memiliki perbatasan darat antara Uni Eropa dan Afrika.

Ceuta dan Melilla memiliki sistem keamanan perbatasan yang ketat karena keduanya menjadi tujuan migran dari Maroko maupun wilayah Afrika lainnya.

Untuk mencapai Ceuta, sebagian migran mencoba berenang dari Kota Fnideq di Maroko dengan jarak sekitar 5 kilometer. Sebagian lainnya mencoba masuk melalui wilayah Belyounech yang lebih dekat.

Berada di bawah kekuasaan Spanyol sejak 1580, Ceuta dihuni masyarakat dengan latar belakang Kristen dan Muslim. Namun, Maroko tidak mengakui Ceuta dan Melilla sebagai bagian dari wilayah Spanyol. Pemerintah Maroko kerap menyebut keduanya sebagai wilayah yang diduduki. AFP/CNN/The Guardian/I-1

  • Krisis Ceuta
  • Gelombang Massal Migran

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.