• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Smartfren Run 2026 Kelola ...

Smartfren Run 2026 Kelola 2,19 Ton Sampah Tanpa Mengirimnya ke TPA

Selasa, 28 Jul 2026, 18:50 WIB

JAKARTA — Penyelenggaraan ajang lari berskala besar tidak selalu harus menghasilkan sampah yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Hal tersebut ditunjukkan melalui Smartfren Run 2026 yang berhasil mengelola lebih dari 2,19 ton sampah tanpa mengirimkan satu pun sampah ke TPA.

Ajang yang digelar oleh PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (XLSmart) melalui brand Smartfren tersebut menerapkan konsep Zero Waste to Landfill dengan menggandeng Waste4Change. Dari pengelolaan sampah yang dilakukan, penyelenggaraan kegiatan tersebut diklaim berhasil mencegah emisi gas rumah kaca sebesar hampir 4 ton karbon dioksida ekuivalen (COâ‚‚e).

Ket. Foto: Tempat sampah di Smartfren Run 2026. Pada ajang lari ini XLSmart berhasil mengelola 2,19 ton sampah tanpa mengirimkan sampah ke TPA dan mencegah emisi hampir 4 ton CO₂e melalui konsep Zero Waste to Landfill. — Sumber: XLSmart

Smartfren Run 2026 digelar pada 5 Juli 2026 di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, dan diikuti sekitar 7.500 peserta. Penerapan prinsip keberlanjutan dilakukan sejak tahap persiapan, pelaksanaan kegiatan, hingga pengolahan sampah setelah acara selesai.

Pengelolaan sampah tersebut menjadi bagian dari implementasi komitmen Environmental, Social, and Governance (ESG) XLSmart sekaligus upaya mendorong praktik ekonomi sirkular di Indonesia.

Dalam pelaksanaannya, sistem pengelolaan sampah dirancang agar setiap material yang dihasilkan selama kegiatan dapat dipilah dan diarahkan ke jalur pengolahan yang sesuai. Dengan pendekatan tersebut, sampah yang terkumpul tidak langsung dibuang, melainkan diproses berdasarkan karakteristik dan potensi pemanfaatannya.

Director & Chief Regulatory Officer XLSmart, Merza Fachys, mengatakan keberhasilan sebuah acara tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah peserta atau kelancaran kegiatan, tetapi juga oleh dampak yang ditinggalkan setelah acara berakhir. Keberhasilan sebuah event saat ini tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang mencapai garis finis, tetapi juga dari bagaimana dampaknya terhadap lingkungan setelah kegiatan berakhir.

“Keberhasilan mengelola lebih dari dua ton sampah tanpa satu pun berakhir di TPA menunjukkan bahwa event berskala besar dapat diselenggarakan secara lebih bertanggung jawab apabila prinsip keberlanjutan diterapkan sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan," ujar Merza dalam keterangannya pada hari Selasa (28/7).

Menurut dia, Smartfren Run tidak hanya dirancang sebagai kegiatan olahraga, tetapi juga sebagai sarana untuk mendorong gaya hidup yang lebih peduli terhadap lingkungan.

"Smartfren Run kami hadirkan sebagai lebih dari sekadar ajang olahraga. Sebagai brand yang dekat dengan masyarakat, Smartfren ingin mengajak masyarakat menjalani gaya hidup yang tidak hanya sehat dan aktif, tetapi juga semakin peduli terhadap lingkungan. Kami berharap capaian ini dapat menginspirasi lebih banyak komunitas dan penyelenggara event untuk menerapkan pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab," lanjut Merza.

Sampah Dipilah Sejak dari Sumber

Untuk mendukung penerapan Zero Waste to Landfill, fasilitas pemilahan sampah ditempatkan di sejumlah titik strategis di area penyelenggaraan acara. Peserta, kru, tenant, dan mitra kegiatan diarahkan untuk memilah sampah sesuai dengan kategorinya.

Petugas khusus juga ditempatkan di sejumlah lokasi untuk membantu proses pemilahan sekaligus memberikan edukasi kepada peserta dan pihak yang terlibat dalam kegiatan.

Sampah yang telah terkumpul kemudian diangkut menuju Material Recovery Facility (MRF) untuk menjalani proses pemilahan lebih lanjut. Material yang masih memiliki nilai ekonomi disalurkan kepada mitra daur ulang untuk diproses menjadi produk baru.

Sementara itu, sampah organik diolah menjadi kompos dan dimanfaatkan dalam budidaya Black Soldier Fly (BSF). Adapun sampah residu diproses menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif.

Mekanisme tersebut membuat setiap jenis material memiliki jalur pengolahan masing-masing dan memastikan tidak ada sampah dari kegiatan tersebut yang berakhir di TPA.

Berdasarkan data pengelolaan sampah, total sampah yang dihasilkan Smartfren Run 2026 mencapai 2.190,1 kilogram. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,19 ton atau 54,2 persen disalurkan untuk proses daur ulang.

Sebanyak sekitar 370 kilogram atau 16,9 persen sampah diolah menjadi kompos dan dimanfaatkan melalui budidaya BSF. Sementara itu, sekitar 634 kilogram atau 29 persen sampah residu diproses menjadi RDF.

Dengan pembagian tersebut, seluruh atau 100 persen sampah yang dihasilkan selama Smartfren Run 2026 berhasil dialihkan dari TPA.

Pengelolaan sampah terintegrasi tersebut juga menghasilkan dampak lingkungan yang terukur. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, upaya tersebut berhasil mencegah emisi gas rumah kaca sebesar 3.996 kilogram COâ‚‚e atau hampir 4 ton COâ‚‚e.

Kolaborasi Menjadi Kunci

Pengelolaan sampah dalam event berskala besar membutuhkan sistem yang dirancang sejak awal. Prosesnya tidak hanya mengandalkan pengolahan setelah acara selesai, tetapi juga membutuhkan keterlibatan peserta dan seluruh pihak yang berada di lokasi kegiatan.

Marketing Communication & Partnership Manager Waste4Change, Pandu Priyambodo, mengatakan pengelolaan sampah dalam kegiatan berskala besar perlu dipersiapkan sejak tahap perencanaan.

"Pengelolaan sampah pada event berskala besar membutuhkan sistem yang dirancang sejak awal. Kolaborasi bersama Smartfren menunjukkan bahwa pemilahan dan pengolahan yang terintegrasi dapat mengalihkan seluruh sampah dari TPA serta menghasilkan dampak lingkungan yang terukur," kata Pandu.

Menurutnya, pemilahan sampah dari sumber menjadi salah satu bagian penting dalam memastikan material dapat diolah sesuai dengan jenis dan karakteristiknya. Langkah tersebut juga membantu meningkatkan peluang sampah untuk masuk ke dalam sistem ekonomi sirkular.

Penerapan Zero Waste to Landfill dalam Smartfren Run 2026 menjadi bagian dari strategi keberlanjutan XLSmart yang diterapkan dalam berbagai aktivitas perusahaan. Prinsip tersebut tidak hanya diarahkan pada operasional bisnis, tetapi juga pada kegiatan yang melibatkan pelanggan dan masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, XLSmart berupaya menunjukkan bahwa penyelenggaraan event olahraga dengan jumlah peserta yang besar tetap dapat dilakukan dengan pendekatan yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Smartfren Run 2026 juga memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah tidak harus berhenti pada upaya mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan. Dengan perencanaan, pemilahan sejak sumber, kolaborasi dengan pengelola sampah, serta jalur pengolahan yang jelas, material yang dihasilkan dari sebuah event dapat dialihkan dari TPA dan sebagian diolah kembali menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna.

Bagi penyelenggara event, pendekatan tersebut dapat menjadi contoh bahwa aspek keberlanjutan dapat diintegrasikan ke dalam kegiatan berskala besar melalui indikator yang konkret dan terukur. Di sisi lain, keterlibatan peserta dan seluruh pihak yang berada di lokasi acara tetap menjadi faktor penting untuk memastikan sistem pengelolaan sampah berjalan secara efektif.

Melalui Smartfren Run 2026, XLSmart menunjukkan bahwa prinsip Zero Waste to Landfill dapat diterapkan dalam kegiatan olahraga berskala besar, sekaligus membuka ruang bagi penyelenggara event lainnya untuk mengembangkan praktik pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab dan mendukung ekonomi sirkular.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.