• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • 35 Tahun Berkarya, Twilite...

35 Tahun Berkarya, Twilite Orchestra Siapkan Konser Spektakuler Bersama Solois Internasional dan 200 Penyanyi

Selasa, 28 Jul 2026, 19:30 WIB

JAKARTA — Twilite Orchestra akan merayakan perjalanan 35 tahun dengan menggelar konser khusus yang menghadirkan solois internasional, penyanyi Indonesia, harpis, serta sekitar 200 penyanyi paduan suara.

Konser bertajuk "Twilite Orchestra 35th Anniversary Concert" tersebut dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 6 September 2026 pukul 16.00 WIB di Aula Simfonia Jakarta, Kemayoran.

Ket. Foto: Foto Addie MS dalam konferensi pers "Twilite Orchestra 35th Anniversary Concert" di Jakarta pada hari Selasa (28/7). Twilite Orchestra merayakan 35 tahun perjalanan dengan konser di Jakarta yang menghadirkan solois internasional, 74 musisi, dan 200 penyanyi paduan suara. — Sumber: Istimewa

Konser ini digelar untuk memperingati perjalanan Twilite Orchestra yang didirikan pada 8 Juni 1991 dan hingga kini tetap beraktivitas secara berkelanjutan di bawah kepemimpinan pendiri sekaligus Music Director dan konduktor, Addie MS.

Perhelatan tersebut terselenggara dengan dukungan Adinda Bakrie Foundation, PT Summarecon Agung Tbk., dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Antusiasme masyarakat terhadap konser tersebut juga disebut cukup tinggi. Tiket umum yang mulai dijual secara daring pada 16 Juli 2026 dilaporkan habis terjual dalam waktu sekitar satu jam.

Meski tiket umum telah sold out, alokasi tiket khusus bagi nasabah BRI masih tersedia dan dapat diperoleh melalui aplikasi BRImo pada 28 Juli 2026 mulai pukul 13.00 WIB.

Perjalanan 35 Tahun Twilite Orchestra

Bagi Addie MS, perjalanan tiga setengah dekade bersama Twilite Orchestra merupakan pencapaian yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Ia mengenang bagaimana orkestra tersebut dibangun pada 1991 ketika ekosistem musik simfonik di Indonesia belum berkembang seperti saat ini. Bahkan, pada masa awal berdirinya, sejumlah pihak memperkirakan Twilite Orchestra tidak akan bertahan lama.

"Saya tidak membayangkan Allah SWT mengizinkan saya bersama TO (Twilite Orchestra) bisa berkarya hingga hari ini. Di awal berdirinya TO, beberapa rekan saya berkomentar bahwa kami tidak akan bertahan lebih dari dua bulan, karena ekosistem musik simfonik yang memang sangat tidak kondusif saat itu," ujar Addie MS dalam konferensi pers "Twilite Orchestra 35th Anniversary Concert"  di Jakarta pada hari Selasa (28/7).

Menurut Addie, keberlangsungan Twilite Orchestra tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, mulai dari sahabat, sponsor, media, hingga keluarga. Ia secara khusus menyebut peran Indra Usmansjah Bakrie, salah satu pendiri Twilite Orchestra, yang memberikan dukungan ketika dirinya sempat mempertimbangkan untuk berhenti.

"Namun dukungan sahabat, sponsor, media dan keluargalah yang menguatkan kami. Dan yang utama, Pak Indra Bakrie-lah yang menguatkan dan meyakinkan saya untuk terus bertahan saat saya berniat mundur dari kegiatan ini di awal perjalanan kami," katanya.

Dukungan tersebut, lanjut Addie, terus berlanjut hingga saat ini melalui generasi berikutnya. "Alhamdulillah, beliau masih terus mendukung, bahkan dilanjutkan oleh putri tercintanya, Adinda Bakrie," ujar Addie.

Founder Adinda Bakrie Foundation, Adinda Bakrie, menyambut perjalanan 35 tahun Twilite Orchestra sebagai sebuah pencapaian penting bagi perkembangan musik orkestra di Indonesia.

"Senang sekali Twilite Orchestra dapat menyentuh sampai 35 tahun. Semoga ini bukan hanya sekadar ceremony, tetapi menjadi pijakan untuk bisa terus melangkah lebih jauh. Sukses selalu untuk Mas Addie dan Twilite Orchestra," kata Adinda.

Dukungan Adinda Bakrie Foundation dalam konser tersebut menjadi bagian dari kolaborasi untuk menghadirkan pertunjukan musik yang dapat menjangkau masyarakat sekaligus merayakan perjalanan panjang salah satu orkestra Indonesia.

Hadirkan 74 Musisi dan 200 Penyanyi Paduan Suara

Dalam konser peringatan 35 tahun tersebut, Twilite Orchestra akan menghadirkan program musik yang merefleksikan perjalanan musikal orkestra sejak 1991 hingga saat ini.

Rangkaian repertoar yang disiapkan mencakup berbagai genre, mulai dari musik film, musik video game, Broadway musical, musik klasik dan opera, hingga lagu-lagu daerah Indonesia.

Sejumlah karya yang akan dibawakan antara lain Die Fledermaus Overture karya Johann Strauss II, Liberi Fatali karya Nobuo Uematsu, Phantom of the Opera karya Andrew Lloyd Webber, Fantasia Nusantara karya Addie MS, Nessun dorma, Sempre libera, serta March of the Toreadors dari opera Carmen.

Konser ini akan menampilkan tiga solois, yakni penyanyi soprano Sydney Opera House, Meechot Marrero, penyanyi tenor Indonesia Oswin Wilke, serta harpis Indonesia Rama Widi.

Ketiganya akan tampil bersama 74 musisi Twilite Orchestra. Pertunjukan juga diperkuat sekitar 200 penyanyi paduan suara yang berasal dari Twilite Chorus, Perbanas Institute Choir, PSM IPB Agria Swara, Paduan Suara Gita Swara Jaya, Uhamka Choir, dan PSM Universitas Mercu Buana.

Kolaborasi dalam skala besar tersebut diharapkan dapat menghadirkan pengalaman musikal yang menggambarkan perjalanan panjang Twilite Orchestra sekaligus memperlihatkan keberagaman musik yang telah menjadi bagian dari program orkestra selama 35 tahun.

Seni dan Budaya sebagai Bagian dari Pembangunan Karakter

Dukungan terhadap konser juga datang dari BRI. Corporate Secretary BRI, Dhanny, mengatakan seni dan budaya memiliki peran penting dalam membangun karakter masyarakat sekaligus mendukung perkembangan ekonomi kreatif.

"BRI meyakini bahwa seni dan budaya merupakan bagian penting dalam membangun karakter bangsa sekaligus mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif yang berkelanjutan," ujar Dhanny.

Menurut dia, kolaborasi tersebut juga menjadi bagian dari upaya BRI memberikan pengalaman dan nilai tambah kepada masyarakat, khususnya nasabah.

"Melalui dukungan terhadap Twilite Orchestra 35th Anniversary Concert, BRI ingin menghadirkan nilai tambah bagi masyarakat, khususnya nasabah, dengan memberikan akses yang lebih mudah dan eksklusif terhadap pengalaman menikmati pertunjukan musik berkualitas melalui BRImo," katanya.

Dhanny menambahkan, dukungan terhadap konser tersebut sejalan dengan upaya BRI menghadirkan manfaat yang lebih luas melalui ekosistem digital.

"Kolaborasi ini juga merupakan wujud komitmen BRI dalam menghadirkan berbagai manfaat yang melampaui layanan perbankan melalui ekosistem digital yang semakin lengkap," ujarnya.

Sementara itu, Direktur PT Summarecon Agung Tbk. Soegianto Nagaria menilai perjalanan Twilite Orchestra selama 35 tahun menunjukkan pentingnya konsistensi dan kolaborasi dalam membangun karya yang mampu bertahan lintas generasi.

"Twilite Orchestra telah membuktikan bahwa dedikasi, kolaborasi, dan konsistensi merupakan fondasi utama dalam membangun karya yang bertahan lintas generasi. Perayaan 35 tahun ini bukan hanya menjadi milestone penting bagi Twilite Orchestra, tetapi juga menjadi perayaan bagi perkembangan musik orkestra di Indonesia," kata Soegianto.

Ia menilai seni memiliki kontribusi terhadap pembentukan karakter dan dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi mendatang.

"Kami percaya bahwa seni memiliki peran penting dalam pembentukan karakter sekaligus mampu menginspirasi generasi masa depan," ujarnya.

Menurut Soegianto, dukungan Summarecon terhadap konser tersebut juga merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk mendukung ruang kreatif yang memungkinkan masyarakat belajar, berkarya, dan berkolaborasi.

Tiga Dekade Lebih Memasyarakatkan Musik Simfonik

Twilite Orchestra dibentuk pada 8 Juni 1991 oleh Indra Usmansjah Bakrie, Oddie Agam, dan Addie MS. Sejak awal berdiri, orkestra tersebut dipimpin Addie MS sebagai Music Director sekaligus konduktor.

Selama perjalanan kariernya, Twilite Orchestra telah berkolaborasi dengan sejumlah musisi internasional, antara lain David Foster, Natalie Cole, Richard Clayderman, Robin Gibb, Maksim, Moscow Rachmaninov Trio, dan Il Divo.

Selain menggelar konser, Twilite Orchestra juga memiliki misi untuk memperkenalkan musik simfonik kepada generasi muda. Program tersebut mulai dikembangkan secara lebih intensif sejak 1998 melalui kunjungan ke sekolah-sekolah.

Program edukasi dan pengembangan penonton kemudian berkembang melalui berbagai konser, seperti Popstravaganza, Musicademia, Campus Tour, hingga Konser Kita yang ditujukan bagi siswa sekolah dasar.

Twilite Orchestra juga mengembangkan program pendidikan melalui pembentukan Twilite Youth Orchestra pada 2004.

Upaya memperluas akses masyarakat terhadap musik simfonik juga dilakukan melalui konser di berbagai kampus di luar Jakarta, antara lain Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Brawijaya, dan Universitas Sriwijaya.

Di tingkat internasional, Twilite Orchestra pernah tampil di Hanoi, Vietnam, dan Sydney, Australia pada 2009. Pada 2012, orkestra tersebut tampil di Bratislava, Slovakia, serta Berlin, Jerman.

Penampilan di Eropa tersebut menjadi salah satu tonggak penting karena menjadikan Twilite Orchestra sebagai salah satu orkestra Indonesia yang tampil di panggung Eropa.

Memasuki usia 35 tahun, Twilite Orchestra kembali merayakan perjalanan tersebut melalui konser yang menggabungkan musik klasik, opera, musik film, musik video game, Broadway, dan karya-karya Indonesia.

Konser tersebut tidak hanya menjadi perayaan atas keberlangsungan sebuah orkestra, tetapi juga menjadi refleksi perjalanan panjang dalam memperkenalkan musik simfonik kepada masyarakat Indonesia dan membangun ruang kolaborasi bagi musisi lintas generasi.

Dengan dukungan sejumlah mitra dan keterlibatan ratusan musisi serta penyanyi, Twilite Orchestra 35th Anniversary Concert diharapkan menjadi salah satu perhelatan musik yang menandai perjalanan 35 tahun Twilite Orchestra sekaligus memperkuat keberadaan musik orkestra di Indonesia.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.