- Home
-
- Luar Negeri
-
- Kapal Korea Selatan Tembus...
Kapal Korea Selatan Tembus Jalur Arktik, Rute Baru Asia-Eropa Pangkas 7.000 Km
Minggu, 23 Agu 2026, 05:30 WIBBUSAN, Korea Selatan â Korea Selatan mengirim kapal kontainer untuk pertama kalinya melalui kawasan Arktik dalam pelayaran uji coba pada Sabtu (22/8), di tengah gejolak pelayaran global akibat konflik di Timur Tengah. Namun, kelompok lingkungan memperingatkan bahwa peningkatan penggunaan jalur tersebut dapat mempercepat pencairan es di kawasan kutub.
Konflik di Timur Tengah yang dipicu serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada Februari telah mengguncang sektor pelayaran global. Kondisi tersebut mendorong pemerintah dan perusahaan pelayaran mencari jalur alternatif untuk menghindari risiko geopolitik.
Kapal kontainer âPanStar Acroâ berangkat dari Busan New Port untuk menguji kelayakan komersial rute menuju Eropa melalui Arktik yang semakin terbuka akibat mencairnya es laut.
âKami ingin menginformasikan bahwa kapal untuk pelayaran uji coba rute Arktik telah berangkat,â kata Kementerian Kelautan Korea Selatan dalam pernyataan yang dikirim kepada AFP. Kapal tersebut berangkat pada pukul 21.30 waktu setempat atau 20.30 waktu Singapura.
Kapal itu dijadwalkan menuju Felixstowe di Inggris, Rotterdam di Belanda, dan Gdansk di Polandia sebelum kembali ke Korea Selatan. Pelayaran tersebut diperkirakan memakan waktu sekitar 45 hari.
Pelayaran Korea Selatan itu dilakukan setelah kapal kontainer China âDubai Towerâ berangkat dari Kota Ningbo menuju Eropa pada bulan ini. Kapal tersebut bergerak ke utara melalui Selat Bering sebelum berbelok ke barat menyusuri pesisir Arktik Rusia.
Selama ini, jalur pelayaran utama antara Asia dan Eropa melewati Terusan Suez. Namun, jalur Arktik dapat memangkas jarak sekitar 7.000 kilometer dan waktu perjalanan sekitar 10 hari, menurut Korea Institute for International Economic Policy.
Wakil Menteri Kelautan Korea Selatan Nam Jae-hon mengatakan jalur Arktik pada akhirnya akan menjadi alternatif bagi jalur pelayaran di Timur Tengah seiring meningkatnya risiko geopolitik dan kemajuan teknologi yang membuat rute tersebut semakin kompetitif.
Marc Lanteigne, profesor ilmu politik di Arctic University of Norway, menilai pelayaran Korea Selatan yang dilakukan tidak lama setelah China memulai perjalanan serupa menunjukkan bahwa Northern Sea Route (NSR) mulai dinormalisasi sebagai koridor pelayaran alternatif.
Menurut dia, keberhasilan pelayaran tersebut akan menunjukkan minat Korea Selatan dalam mengembangkan jalur laut alternatif. Hal itu dinilai penting karena Korea Selatan berisiko tertinggal apabila perusahaan China semakin memperluas layanan reguler melalui jalur Arktik yang kian layak digunakan.
Risiko Rusia, Sanksi, dan Perubahan Iklim
Sejumlah pakar memperingatkan penggunaan jalur Arktik oleh kapal Korea Selatan dapat menimbulkan persoalan terkait sanksi Barat terhadap Rusia. Hal ini karena kapal yang melintasi jalur tersebut akan menggunakan layanan navigasi dan informasi cuaca Rusia yang melibatkan pembayaran, meskipun nilainya relatif kecil.
Rusia saat ini merupakan salah satu sekutu keamanan utama Korea Utara.
Kementerian Luar Negeri Korea Selatan menolak memberikan komentar ketika AFP menanyakan kekhawatiran terkait Rusia tersebut.
Sementara itu, Kementerian Kelautan Korea Selatan menyatakan pihaknya telah menyelesaikan konsultasi dengan negara dan lembaga terkait untuk melaksanakan prosedur administratif yang diperlukan bagi pelayaran tersebut.
Vladimir Tikhonov, profesor Kajian Korea di University of Oslo, mengatakan sanksi Amerika Serikat dan Uni Eropa terhadap Rusia secara hukum bukanlah hukum internasional seperti halnya sanksi yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
âDan dengan ketidakpastian yang terus berlanjut di Timur Tengah ... Korea Selatan mungkin memiliki sedikit alternatif jika jalur Arktik terbukti layak secara ekonomi,â katanya kepada AFP.
Lanteigne menilai ambisi China dalam mengembangkan Northern Sea Route lebih didorong faktor politik dibandingkan Korea Selatan. Beijing memandang kawasan kutub sebagai âperbatasan strategis baruâ, yang kemudian memunculkan kekhawatiran keamanan di negara-negara Barat.
Di sisi lain, kelompok lingkungan memperingatkan peningkatan lalu lintas kapal melalui NSR dapat mempercepat hilangnya es laut Arktik yang sudah terjadi akibat pemanasan global.
Sejumlah perusahaan pelayaran besar, termasuk CMA CGM, MSC, dan Hapag-Lloyd, telah berkomitmen untuk menghindari rute pelayaran Arktik.
NSR diperkirakan hanya dapat dilalui pada periode tertentu ketika es mencair cukup banyak sehingga kapal dapat melintas tanpa bantuan kapal pemecah es.
Kelompok lingkungan Korea Selatan, Paran Ocean Citizen Science Center, mengatakan NSR semakin layak digunakan karena kawasan Arktik memanas sekitar empat kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global sehingga menyebabkan penurunan tajam luas es laut.
Namun, kelompok tersebut memperingatkan bahwa menjadikan jalur Arktik sebagai rute komersial yang benar-benar layak justru membutuhkan pemanasan lebih lanjut, sehingga kebijakan tersebut berpotensi bertentangan dengan upaya global untuk mengatasi perubahan iklim.
- rute pelayaran
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: AFP
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.