- Home
-
- Luar Negeri
-
- Rencana Rahasia Pentagon M...
Rencana Rahasia Pentagon Merebut Uranium Iran akan Membuat Amerika Terjebak dalam Perang Darat Besar
Senin, 27 Jul 2026, 05:07 WIBWASHINGTON DC â Wacana mengenai kemungkinan Amerika Serikat mengirim pasukan khusus untuk merebut persediaan uranium yang diperkaya milik Iran kembali memicu perdebatan di kalangan pengamat militer. Di balik gagasan yang sekilas terdengar seperti operasi komando berkecepatan tinggi, sejumlah analis justru memperingatkan bahwa misi semacam itu berpotensi berubah menjadi perang darat berskala besar di jantung wilayah Iran.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Letnan Kolonel (Purn.) Robert Maginnis, analis pertahanan dan mantan perwira Angkatan Darat Amerika Serikat, dalam artikel opini yang diterbitkan Fox News. Ia menilai istilah "raid" atau penggerebekan sama sekali tidak menggambarkan kompleksitas operasi yang kemungkinan harus dijalankan Pentagon.
Mengutip laporan i24NEWS, Maginnis menyebut Pentagon dikabarkan kembali menghidupkan opsi untuk mengirim ribuan personel militer ke Iran guna menguasai uranium yang diperkaya dari sejumlah fasilitas nuklir bawah tanah. Target utama disebut meliputi Fordow, Isfahan, dan kompleks Gunung Pickaxe di dekat Natanz, yang diyakini menyimpan infrastruktur penting program nuklir Iran.
Menurut Maginnis, operasi seperti itu tidak dapat disamakan dengan serangan cepat yang mengandalkan faktor kejutan. Sebaliknya, pasukan Amerika akan memasuki wilayah yang telah lama dipersiapkan Iran untuk menghadapi kemungkinan serangan, sehingga risiko berubah menjadi invasi terbuka sangat besar.
Ia mengingatkan bahwa operasi tersebut memiliki kemiripan dengan Operation Eagle Claw atau Operasi Desert One pada 1980, ketika Amerika Serikat gagal menyelamatkan para sandera di Teheran. Misi itu berakhir tragis setelah tabrakan antara helikopter dan pesawat angkut menewaskan delapan personel militer AS sebelum mereka sempat mencapai target.
Meski kemampuan militer Amerika saat ini jauh lebih maju dibanding empat dekade lalu, Maginnis menilai perkembangan teknologi tidak menghapus tantangan utama berupa kondisi geografis, logistik, maupun kemampuan musuh untuk memberikan perlawanan.
Ia juga menyoroti pernyataan Presiden Donald Trump, yang sebelumnya mengaku pernah mempertimbangkan opsi penyitaan uranium Iran, namun memilih untuk tidak melakukannya. Trump bahkan mengatakan dirinya tidak ingin mengulangi kegagalan yang dialami Presiden Jimmy Carter dalam operasi penyelamatan sandera di Iran pada 1980.
Menurut Maginnis, tantangan saat ini bahkan lebih rumit dibanding Desert One. Hingga kini belum ada kepastian mengenai lokasi pasti seluruh stok uranium Iran. Material tersebut diduga telah dipindahkan, disebar ke beberapa lokasi, atau bahkan belum dapat diverifikasi keberadaannya oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA) selama berbulan-bulan.
Ia menambahkan, skenario yang dilaporkan mencakup pengerahan Ranger Angkatan Darat AS, pasukan operasi khusus, insinyur tempur, hingga pembangunan landasan pacu sementara agar pesawat angkut dapat menerbangkan sekitar 450 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen keluar dari Iran.
Kompleks Gunung Pickaxe sendiri menjadi tantangan tersendiri. Berdasarkan analisis citra satelit, fasilitas tersebut diperkirakan berada lebih dari 300 kaki (sekitar 90 meter) di bawah permukaan tanah, bahkan lebih dalam dibanding fasilitas Fordow yang sebelumnya menjadi sasaran serangan udara Amerika.
Maginnis menilai belum ada bukti terbuka yang memastikan uranium benar-benar berada di lokasi tersebut. Sangat mungkin pasukan AS berhasil menembus kompleks bawah tanah hanya untuk menemukan bahwa material yang dicari telah dipindahkan jauh sebelum operasi dimulai.
Ia juga menilai unsur kejutan hampir mustahil diperoleh. Iran disebut telah berbulan-bulan memperkuat akses menuju fasilitas nuklirnya dengan timbunan tanah, ranjau, penghalang jalan, serta berbagai sistem pertahanan untuk menghambat setiap upaya infiltrasi dari darat.
Kalaupun pasukan Amerika berhasil memasuki lokasi, tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah itu. Mereka harus menguasai jalan akses, menjaga pintu masuk terowongan, membangun lapangan udara sementara, sekaligus mengamankan perimeter yang sangat luas agar operasi logistik dapat terus berlangsung.
Di dalam kompleks bawah tanah, pasukan diperkirakan akan menghadapi lorong-lorong sempit, ventilasi terbatas, reruntuhan beton, kemungkinan jebakan ranjau, hingga perlawanan dari pasukan Garda Revolusi Iran. Semakin lama operasi berlangsung, semakin besar pula keuntungan yang diperoleh pihak Iran.
Maginnis memperingatkan bahwa Iran tidak harus mengalahkan pasukan Amerika secara langsung. Teheran cukup memperlambat operasi dengan meruntuhkan terowongan, menghancurkan akses menuju lokasi, mencemari area penyimpanan uranium, atau menjebak personel Amerika di dalam fasilitas bawah tanah.
Di saat yang sama, Iran diperkirakan akan membuka berbagai front baru dengan menyerang pangkalan militer AS di kawasan, mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, serta mengaktifkan kelompok-kelompok proksinya di Irak, Suriah, maupun Yaman.
Dalam pandangannya, semakin lama pasukan Amerika bertahan di wilayah Iran, semakin sulit membedakan operasi tersebut dari sebuah invasi penuh. Apalagi jika militer AS mulai membangun infrastruktur permanen seperti landasan udara dan pusat logistik di wilayah Iran.
Sebagai alternatif, Maginnis menyarankan agar Washington mempertimbangkan strategi yang lebih terbatas, yakni menghancurkan seluruh akses menuju fasilitas bawah tanah, kemudian mengawasi setiap upaya Iran untuk membukanya kembali melalui pengintaian dan serangan presisi, tanpa harus mengerahkan ribuan pasukan darat.
Ia juga menekankan pentingnya mempertahankan tekanan diplomatik dengan mewajibkan Iran memberikan akses penuh kepada IAEA untuk memverifikasi keberadaan material nuklir, sembari mempertahankan sanksi ekonomi dan pengawasan internasional.
Menutup analisanya, Maginnis mengingatkan bahwa perang tidak ditentukan oleh seberapa banyak sasaran yang berhasil diserang, melainkan oleh kemampuan menghasilkan tujuan politik yang berkelanjutan. Sebelum mengambil keputusan mengirim pasukan ke Iran, menurutnya pemerintah Amerika harus mampu menjawab pertanyaan mendasar: apakah lokasi uranium benar-benar telah dipastikan, bagaimana strategi pemulangannya, dan apakah operasi tersebut sepadan dengan risiko perang darat yang bisa berkepanjangan.
- Perang Iran
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Dibombardir Berbulan-bulan, Intelijen AS Memperingatkan Kemampuan Rudal Iran Justru Meningkat
-
Pejabat AS Curiga Russia atau Tiongkok Berada di Balik Serangan Mematikan Iran pada Pangkalan AS di Yordania
-
Iran Hantam Jantung Operasi Militer AS di Yordania, Armada Black Hawk AS Hangus Bergelimpangan
-
AS akan Serang Habis-habisan Semua Lokasi Nuklir Iran, Target Berikutnya Kompleks Bawah Tanah Gunung Pickaxe
-
Mojtaba Bersumpah Iran akan Terus Mendukung Hizbullah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.