- Home
-
- Luar Negeri
-
- Era Baru Perang Laut, AS H...
Era Baru Perang Laut, AS Hancurkan USS Peleliu dengan Drone Kamikaze
Minggu, 26 Jul 2026, 15:35 WIBWASHINGTON DC - Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) mendemonstrasikan babak baru peperangan laut dengan menenggelamkan kapal serbu amfibi USS Peleliu (LHA-5) menggunakan drone laut kamikaze dalam latihan multinasional Rim of the Pacific (RIMPAC) 2026.
Dari Militarnyi, rekaman yang dirilis Komando Armada ke-3 Angkatan Laut AS memperlihatkan dua drone laut tanpa awak meluncur ke arah lambung USS Peleliu, yang telah dipensiunkan dari dinas aktif, sebelum meledak di dekat garis air. Serangan itu menjadi tahap akhir dari latihan penenggelaman (SINKEX) setelah kapal lebih dulu dihantam berbagai jenis rudal, termasuk Harpoon, Spike, dan Long Range Anti-Ship Missile (LRASM).
Menurut Naval News, penggunaan drone laut kamikaze dalam latihan tersebut menjadi salah satu momen paling penting di RIMPAC 2026. Langkah ini menunjukkan keseriusan Angkatan Laut AS dalam mengintegrasikan sistem tempur tanpa awak di udara, permukaan laut, dan bawah laut sebagai bagian dari konsep peperangan modern.
Analis menilai demonstrasi ini juga mencerminkan pelajaran yang dipetik AS dari keberhasilan Ukraina menggunakan drone laut untuk menyerang Armada Laut Hitam Rusia. Melalui RIMPAC, Washington tidak hanya menguji kemampuan baru, tetapi juga memperlihatkan kepada negara-negara sekutu maupun calon lawan bahwa drone laut kini menjadi bagian penting dari strategi tempur Angkatan Laut AS.
Perkembangan tersebut berlangsung bersamaan dengan kerja sama industri pertahanan antara perusahaan Ukraina UForce dan perusahaan AS ReconCraft. Keduanya baru saja menandatangani nota kesepahaman untuk memproduksi drone laut keluarga Magura secara berlisensi di Amerika Serikat.
Salah satu pendiri ReconCraft, Joe Silkowski, mengatakan kemitraan itu ditujukan untuk memproduksi ratusan hingga ribuan drone Magura setiap tahun, meski nilai kontraknya belum diumumkan.
Meski demikian, UForce menegaskan bahwa versi Magura untuk kebutuhan militer AS tidak akan identik dengan yang digunakan Ukraina. Perusahaan tersebut menjelaskan bahwa perbedaan kondisi operasi antara Laut Hitam dan kawasan maritim lain menuntut perubahan desain yang signifikan. Karena itu, menurut mereka, tidak ada konsep drone laut yang benar-benar universal dan dapat digunakan tanpa modifikasi di semua wilayah operasi.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.