Tak Sekadar Lindungi Pesisir, Mangrove Kure Caddi Kini Jadi Sumber Penghidupan Warga.

Sabtu, 25 Jul 2026, 19:17 WIB

Subuh itu, angin barat memecah kesunyian pantai. Atap-atap rumah warga pesisir bergemuruh, seolah bersahut-sahutan menyambut hembusan angin yang semakin menderu.

Suara itu mengusik tidur warga yang masih meringkuk di balik sarung dan bantal empuk.

Ket. Foto: Kawasan hutan mangrove yang kini menjadi tempat berlindung kapal-kapal nelayan di Dusun Kure Caddi, Desa Nisombalia, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. — Sumber: Antara Foto

Bagi nelayan pesisir Kuri Caddi, sebuah dusun di Desa Nisombalia, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, angin kencang bukan sekadar gangguan tidur. Hembusannya segera menimbulkan kekhawatiran, tak terkecuali bagi Abdul Latif, nelayan kepiting rajungan yang menggantungkan hidupnya dari laut.

Latif bergegas meraih senter yang tergantung di tiang rumah untuk memeriksa perahunya—alat yang setiap hari membawanya mengarungi laut demi mengais rezeki dan menjaga asap dapur tetap mengepul.

Kekhawatirannya terbukti. Angin yang menusuk hingga tulang itu begitu dahsyat hingga menggoyangkan perahu-perahu nelayan yang berjejer di bibir pantai. Tak sedikit perahu yang semula kokoh roboh dan saling beradu dengan perahu di sampingnya.

Sesampainya di pantai, Latif memastikan perahunya tetap berdiri dan dalam kondisi baik. Namun, ia tak banyak bisa berbuat untuk menjaganya dari amukan angin.

Pemandangan itu mengingatkan pada belasan tahun silam, ketika para nelayan harus melakukan hal serupa setiap kali musim angin muson tiba.

Saat itu, mangrove belum menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kuri Caddi. Padahal, kelak tanaman tersebut dimanfaatkan sebagai benteng alami yang melindungi perahu-perahu warga dari terjangan angin barat.

"Kalau musim barat, kita lari ke sana (hutan mangrove) untuk berlindung. Semua perahu, sekitar 100 unit, dibawa masuk ke sana," ujar Latif, yang juga Ketua Kelompok Nelayan Kure Bete-betea.


Alur sungai di dalam kawasan mangrove kini menjadi tempat berlindung untuk menyimpan perahu-perahu nelayan, jauh lebih aman dari terpaan angin.

Perlindungan di balik hutan mangrove menjadi berkah yang tak pernah terbayangkan oleh sekitar 600 warga Kuri Caddi. Doa-doa sekitar 200 kepala keluarga itu seolah terjawab melalui benteng alami yang disiapkan Tuhan untuk menopang kehidupan mereka sebagai nelayan.

Sebelum mangrove tumbuh lebat seperti sekarang, Latif dan nelayan lainnya selalu berhadapan dengan ancaman angin barat setiap musim penghujan. Perahu-perahu nelayan Kuri Caddi yang dihantam angin dan ombak biasanya hanya mampu bertahan sekitar empat tahun sebelum harus diperbaiki. Tak sedikit pula yang rusak parah, karam, bahkan tenggelam dan tak lagi dapat digunakan.

Kondisinya berubah setelah mangrove hadir di tengah ruang hidup masyarakat Kuri Caddi. Sekitar 20 jenis mangrove tumbuh di kawasan itu, menopang harapan para nelayan dalam menghadapi ancaman angin barat. Perawatan dan perbaikan perahu pun dapat ditekan, sehingga ekonomi nelayan lebih terjaga dan kualitas hidup meningkat.

Mangrove mampu menahan abrasi dan meredam terjangan angin. Bagi nelayan, manfaat itu membuat perahu-perahu mereka tetap kuat dan kokoh lebih lama—hingga sekitar 10 tahun.

Manfaat mangrove tidak hanya dirasakan manusia. Kawasan ini juga menjadi habitat alami bagi berbagai biota, seperti kepiting bakau, udang, dan ikan.



Sumber ekonomi baru

Mangrove bukan hanya menjadi tempat berlindung bagi perahu nelayan. Ekosistem yang terus meluas hingga menutupi sekitar 12 hektar kawasan Kure Caddi itu juga menjadi penopang ekonomi dan membuka sumber mata pencaharian baru bagi warga.

Bagi masyarakat Dusun Kure Caddi yang sebagian besar berada pada kelompok ekonomi menengah ke bawah, hutan bakau yang tumbuh di bekas tambak terbengkalai menjadi sumber penghidupan baru. Warga yang selama ini sangat bergantung pada hasil laut kini memiliki pilihan lain untuk menyambung hidup, tidak lagi hanya mengandalkan penangkapan rajungan.

Kepiting bakau dan tiram menjadi sumber rezeki baru yang bisa ditemukan di kawasan tersebut.

Latif, yang juga menjadi pengepul hasil tangkapan kepiting warga Kure Caddi, mengatakan mangrove tidak hanya berfungsi melindungi perahu, tetapi juga berkontribusi terhadap perekonomian masyarakat.

Ayah empat anak itu menuturkan, sejumlah nelayan remaja kerap mendatanginya untuk menjual tiram yang mereka kumpulkan di balik bebatuan di sekitar kawasan mangrove. Hasilnya dapat menambah pendapatan keluarga.

Menurut Latif, tiram biasanya dijual dalam kantong plastik berukuran sekitar setengah kilogram dengan harga Rp10.000. Nilainya memang sederhana, tetapi cukup membantu perekonomian warga pesisir.

Manfaat itu semakin terasa ketika angin barat kembali datang, membawa angin kencang dan hujan lebat yang membuat nelayan tak dapat melaut demi keselamatan.

Pada saat seperti itu, sebagian nelayan beralih mencari kepiting bakau di sekitar hutan mangrove. Bagi nelayan kepiting rajungan, aktivitas ini menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan keluarga ketika musim penghujan tiba.

Sebagian lainnya bahkan beralih sepenuhnya menjadi nelayan kepiting bakau karena aksesnya lebih mudah, lokasinya lebih dekat, dan risikonya lebih kecil.



Rudi, salah satu nelayan yang kerap melakoni dua ikhtiar mencari rezeki itu, kadang ke laut lepas mencari kepiting rajungan dan juga menyisiri hutan bakau mencari kepiting bakau. Menurut dia, pekerjaan itu merupakan bagian dari tanggung jawab menafkahi istri dan dua anaknya.

Harga kepiting memang fluktuatif. Bahkan, harganya bisa turun hingga Rp35.000 per kilogram. Padahal, nelayan harus mengeluarkan modal untuk membeli umpan, bahan bakar minyak (BBM), bekal, rokok, serta merawat perahu yang digunakan setiap hari.

Umumnya, nelayan Kure Caddi melaut hingga tiga kali dalam sehari untuk menangkap rajungan. Setiap perjalanan berlangsung sekitar empat hingga lima jam. Rudi, misalnya, telah meninggalkan rumah sejak subuh, selepas salat Subuh, ketika ditemui sekitar pukul 09.00.

Pagi itu, ia tampak bahagia saat dijemput istrinya, Irma. Hasil tangkapannya diperkirakan mencapai enam kilogram, sementara harga kepiting sedang naik, yakni sekitar Rp65.000 hingga Rp70.000 per kilogram.

Namun, Rudi juga mengeluhkan semakin banyaknya warga dari luar Kure Caddi yang ikut mencari kepiting di kawasan mangrove.

Menurutnya, hal itu tidak adil. Masyarakat Kure Caddi selama ini menjaga kelestarian mangrove, tetapi warga dari luar kampung turut mengambil hasil dari ekosistem tersebut.

Kekhawatiran terhadap kerusakan mangrove itu pula yang mendorong masyarakat setempat menerapkan aturan yang melarang warga dari luar masuk dan berburu hasil tangkapan di kawasan mangrove Kure Caddi.


Kemandirian ekonomi perempuan

Kebangkitan ekonomi masyarakat di sekitar mangrove juga mulai terasa melalui berbagai inovasi pemanfaatan tanaman mangrove. Dampaknya tidak hanya dirasakan para nelayan, yang mayoritas laki-laki, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi perempuan.

Salah satunya dirasakan Dg. Cora. Selama tujuh tahun menjadi janda, ia berhasil membangun kemandirian ekonomi melalui pemanfaatan daun mangrove jenis Acanthus yang diolah menjadi teh herbal.

Namun, prosesnya tidak mudah. Daun Acanthus yang dipetik langsung dari kawasan mangrove memiliki duri-duri tajam. Karena itu, proses pemanenannya harus dilakukan dengan hati-hati, menggunakan bantuan kayu dan alas karung.



Perempuan yang memiliki tujuh anak itu mengaku sebulan sekali mengendarai motornya sendiri menuju kawasan hutan mangrove. Berbekal batang kayu dan karung, ia memetik langsung bahan baku teh herbal yang diberi nama “Kalli-kalli”.

Nama tersebut berarti jeruju, merujuk pada tanaman Acanthus yang memiliki batang dan daun berduri tajam.

Satu karung daun Acanthus yang telah dicacah dan dikeringkan dapat menghasilkan sekitar satu toples berukuran sedang. Teh itu kemudian dikemas dalam kantong celup dan menghasilkan sekitar 10–15 kotak untuk dijual seharga Rp15.000 per kotak. Setiap kotak berisi 10 kantong teh celup.

Menurut Cora, proses pengemasan membutuhkan modal untuk membeli kotak, plastik, dan wadah teh celup. Sekali produksi, ia mengeluarkan sekitar Rp70.000. Teh herbal itu diyakini membantu mengurangi rasa lelah dan pegal-pegal.

“Kita bersyukur, dari sini (teh Kalli-kalli) saya punya pemasukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Memang belum banyak karena penjualannya belum luas, tetapi sudah sangat membantu, misalnya untuk membeli minyak goreng,” katanya sambil tersenyum ramah.

20260725191649_1002868035.jpg

Warga Dusun Kure Caddi bernama Irma memperlihatkan kepiting dari hasil tangkapan sang suami di Desa Nisombalia, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Penguatan kemandirian

Teh Kalli-kalli buatan Dg. Cora tidak hadir begitu saja. Perempuan energik itu lebih dulu mengikuti program pemberdayaan melalui sekolah lapang yang digelar selama pandemi Covid-19, sekitar 2020 hingga 2022.

Saat itu, masyarakat menghentikan aktivitas membuka cangkang kepiting, pekerjaan paruh waktu yang banyak dilakukan perempuan pesisir Kure Caddi, untuk membantu mencegah penyebaran virus corona.

Akibatnya, banyak perempuan kehilangan penghasilan dan hanya bergantung pada pendapatan suami dari melaut. Dari sinilah pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan mangrove mulai dikembangkan, terutama lewat berbagai inovasi yang mendorong kemandirian ekonomi.

“Dulu kita belajar di sekolah lapang dengan Bu Ratna dari Blue Forest. Kami dibentuk dalam kelompok-kelompok. Ada yang membuat teh mangrove seperti saya, ada yang membuat kerupuk, sambal, dan macam-macam,” ujar Dg. Cora.

Masyarakat mengakui peran Blue Forest dalam meningkatkan pengetahuan tentang manfaat dan pemanfaatan mangrove. Lembaga swadaya masyarakat yang berfokus pada perlindungan, rehabilitasi, dan restorasi ekosistem pesisir serta hutan mangrove itu juga terlibat dalam upaya rehabilitasi mangrove di Kure Caddi sejak 2013.

Intervensi tersebut diawali dengan riset untuk mengenali kondisi mangrove Kure Caddi menggunakan pendekatan Ecological Mangrove Restoration (EMR). Sejak itu, tambak-tambak yang sebelumnya tidak produktif kembali menghijau.

Kini, bentangan mangrove seluas 12 hektar tumbuh lebat dan dapat terlihat bahkan melalui citra satelit. Kawasan itu menjadi benteng sekaligus rumah baru bagi kehidupan pesisir.

Pertumbuhan mangrove bukan sekadar membuat pepohonan semakin rimbun. Kehadirannya memulihkan rantai kehidupan yang lebih kaya. Berbagai jenis burung, kepiting, dan kerang kembali hadir, sementara ikan-ikan kecil menemukan tempat berlindung.

Keanekaragaman hayati yang sempat hilang kini kembali memenuhi kawasan pesisir. Mangrove menjadi ruang hidup bagi biota laut sekaligus sumber manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.

Namun, konservasi mangrove tidak dapat berdiri di atas perut yang lapar. Agar masyarakat bersedia bergotong royong menjaga kawasan, manfaat ekonomi dari hutan mangrove harus dapat mereka rasakan secara langsung.


Koordinator Kemitraan dan Komunikasi Blue Forest, Rahmat HM, mengakui keberadaan dan keberlanjutan mangrove harus berjalan beriringan dengan program ekonomi. Menurutnya, manfaat ekonomi menjadi pemantik kesadaran masyarakat untuk terlibat menjaga kelestarian mangrove.

“Manfaat ekonomi ini harus benar-benar dirasakan. Karena itu, ada program peningkatan kapasitas kelompok ibu-ibu untuk mengolah hasil perikanan menjadi keripik dan sambal berbahan ikan. Produk-produk itu menjadi tambahan mata pencaharian bagi keluarga, termasuk teh Kalli-kalli,” ujar Rahmat.

Melalui skema sekolah lapang, Blue Forest memberdayakan kelompok perempuan di Dusun Kure Caddi. Mereka dilatih mengolah hasil perikanan menjadi produk bernilai tambah, seperti keripik dan sambal khas pesisir.

Usaha rumahan itu perlahan menjadi penopang sekaligus sumber tambahan pendapatan bagi keluarga. Anak-anak pun dilibatkan melalui edukasi lingkungan untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap mangrove sejak dini.

Pelestarian mangrove tidak dapat dilakukan oleh satu pihak. Dibutuhkan komitmen dan langkah bersama untuk menjaga tanaman yang memiliki begitu banyak manfaat itu. Mangrove bukan hanya menopang ekonomi dan melindungi nelayan di pesisir, tetapi juga menjadi bagian penting dari upaya menjaga keberlangsungan hidup manusia dan meningkatkan kualitas lingkungan di tengah ancaman krisis iklim.

Redaktur: Yebdi Trismar

Penulis: Yebdi Trismar

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.