• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Berbak Sembilang, Surga Bu...

Berbak Sembilang, Surga Burung Migran dan Rumah Satwa Langka

Jumat, 19 Jun 2026, 07:03 WIB

SAAT matahari baru mulai menyibak kabut di pesisir timur Sumatra, hamparan rawa, sungai berair gelap, dan hutan mangrove yang seolah tak berujung perlahan menampakkan diri. Di balik lanskap yang tampak sunyi itu, kehidupan bergerak dalam ritmenya sendiri. Burung-burung air terbang rendah di atas permukaan sungai, sementara kawanan monyet berayun di antara pepohonan. Di bawah permukaan air, buaya muara mengintai tenang dari tepian berlumpur.

Inilah suasana Taman Nasional Berbak Sembilang, kawasan konservasi yang menjadi salah satu benteng terakhir ekosistem lahan basah tropis di Asia Tenggara. Dengan luas mencapai lebih dari 800 ribu hektare, taman nasional ini bukan hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga memiliki peran strategis bagi keseimbangan lingkungan global.

Ket. Foto: Burung migran berada di tepian Pantai Cemara, Taman Nasional Berbak dan Sembilang. — Sumber: Foto: Direktorat Jenderal KSDAE

Bagi wisatawan yang mencari pengalaman berbeda dari sekadar berkunjung ke pantai atau pegunungan, Berbak Sembilang menawarkan petualangan yang membawa mereka menyelami dunia liar yang masih terjaga. Berada pada elevasi 0–500 mdpl, di sini alam bukan sekadar latar belakang perjalanan, melainkan tokoh utama yang menghadirkan pengalaman mendalam tentang kehidupan, konservasi, dan hubungan manusia dengan lingkungan.

Kawasan yang ­Menyatukan Dua Dunia

Taman Nasional Berbak Sembilang merupakan hasil penggabungan dua kawasan konservasi penting, yaitu Taman Nasional Berbak di Provinsi Jambi dan Taman Nasional Sembilang di Sumatera Selatan. Penyatuan ini menciptakan kawasan lahan basah yang sangat luas dan beragam, mencakup hutan rawa gambut, hutan rawa air tawar, hutan mangrove, delta sungai, hingga kawasan pantai berlumpur.

Keberadaan berbagai tipe ekosistem tersebut menjadikan kawasan ini sebagai rumah bagi ribuan spesies flora dan fauna. Tidak banyak tempat di dunia yang memiliki kombinasi lanskap seperti ini dalam satu kawasan yang saling terhubung.

Lebih dari sekadar kawasan wisata, Berbak Sembilang merupakan salah satu penyimpan karbon terbesar di Indonesia. Lapisan gambut yang terbentuk selama ribuan tahun berfungsi menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar, sehingga berperan penting dalam mengurangi dampak perubahan iklim global.

Kawasan yang berada di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan ini juga berfungsi sebagai benteng alami yang melindungi wilayah pesisir timur Sumatra dari ancaman abrasi, intrusi air laut, serta gelombang badai yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.

Menyusuri Sungai Menuju Alam Liar

Tidak ada jalan raya yang menghubungkan wisatawan langsung ke jantung taman nasional; satu-satunya akses yang tersedia adalah jalur sungai. Namun, justru perjalanan menuju Berbak Sembilang ini menjadi bagian penting dari pengalaman wisata itu sendiri.

Dari Kota Jambi atau Palembang, wisatawan biasanya harus menempuh perjalanan darat selama beberapa jam menuju desa-desa penyangga di sekitar kawasan taman nasional. Dari titik tersebut, perjalanan dilanjutkan menggunakan perahu motor menyusuri sungai-sungai yang menjadi urat nadi kehidupan kawasan.

Air sungai yang berwarna kecoklatan hingga kehitaman akibat kandungan gambut menciptakan pemandangan yang unik. Permukaannya yang tenang memantulkan bayangan pepohonan tinggi di sekelilingnya seperti cermin raksasa.

Semakin jauh memasuki kawasan taman nasional, suara peradaban manusia yang riuh perlahan menghilang. Tidak ada suara kendaraan maupun sinyal telepon yang stabil. Yang tersisa hanyalah suara alam. Sesekali terdengar teriakan burung rangkong dari kejauhan. Di lain waktu, suara percikan air mengindikasikan ikan yang melompat atau reptil yang bergerak di antara akar mangrove. Bagi banyak pengunjung, momen ketika mesin perahu dimatikan dan mereka hanya mendengar suara hutan menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.

Tempat Aman bagi Satwa Langka

Kekayaan hayati Berbak Sembilang menjadikannya salah satu kawasan konservasi paling penting di Indonesia. Di balik lebatnya hutan rawa gambut, hidup sejumlah satwa langka yang kini semakin sulit ditemukan di habitat lain.

Salah satu yang paling ikonik adalah Harimau Sumatra, predator puncak yang populasinya terus menurun akibat hilangnya habitat dan perburuan. Selain itu, kawasan ini juga menjadi habitat bagi beruang madu, tapir asia, berbagai jenis kucing liar, rusa, serta primata seperti monyet ekor panjang dan siamang.

Di wilayah perairan dan pesisir, keberadaan buaya muara menjadi pengingat bahwa alam di sini masih benar-benar liar. Reptil terbesar di dunia itu kerap terlihat berjemur di tepian sungai atau bersembunyi di antara akar mangrove.

Meski peluang bertemu satwa besar secara langsung relatif kecil karena sifat mereka yang menghindari manusia, jejak-jejak kehidupan liar dapat ditemukan di berbagai sudut kawasan. Bekas tapak kaki di lumpur, suara panggilan satwa pada malam hari, hingga jejak cakaran di batang pohon menjadi bukti bahwa hutan ini masih berfungsi sebagaimana mestinya.

Surga bagi Pengamat ­Burung Dunia

Bagi para pencinta burung, Berbak Sembilang sering disebut sebagai salah satu lokasi terbaik di Asia untuk mengamati burung air dan burung migran. Kawasan ini merupakan bagian penting dari jalur migrasi burung internasional East Asian–Australasian Flyway, jalur yang menghubungkan wilayah Arktik, Siberia, Asia Timur, Asia Tenggara, hingga Australia dan Selandia Baru.

Setiap tahun, terutama antara Oktober hingga Maret, jutaan burung migran singgah di kawasan pesisir Sembilang untuk beristirahat dan mencari makan sebelum melanjutkan perjalanan ribuan kilometer. Hamparan lumpur pesisir yang luas menyediakan sumber makanan melimpah berupa cacing, kerang, dan berbagai organisme kecil yang menjadi santapan utama burung-burung tersebut.

Fenomena dua kali dalam setahun itu menciptakan pemandangan spektakuler. Ribuan burung dapat terlihat bergerak serempak membentuk pola-pola dinamis di langit, menciptakan pertunjukan alam yang memukau.

Karena pentingnya fungsi tersebut, kawasan Berbak Sembilang telah mendapat pengakuan internasional sebagai situs lahan basah penting dunia atau Situs Ramsar. Penetapan itu didasarkan pada Konvensi Ramsar, sebuah perjanjian lingkungan antar-pemerintah yang ditandatangani di Ramsar, Iran, pada ­tahun 1971. hay

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.