Saat Perhelatan World Coconut Day 2026, Manado Malah Diserang Asap Karhutla
Rabu, 07 Okt 2026, 08:38 WIBMANADO â Ini memang kejadian ironi, di saat ada perhelatan dunia di mana banyak tamu mancanegara, Manado malah dipenuhi asap akibat karhutla.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mendeteksi kualitas udara di Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) telah terdampak asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
"Kami mendeteksi terjadi penurunan kualitas udara di Kota Manado yang disebabkan paparan asap Karhutla, serta meningkatnya intensitas debu sepanjang musim kemarau berlangsung," kata Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH Manado Leon Piri, di Manado, Rabu.
Dia menjelaskan penurunan kualitas udara mulai terdeteksi di awal puncak musim kemarau, pada bulan Agustus hingga akhir September 2026.
âKejadian Karhutla, menyebabkan paparan asap di ruang udara Kota Manado semakin pekat,â kata Leon.
Dia menjelaskan penurunan kualitas udara juga dipengaruhi meningkatnya intensitas debu karena angin kencang yang bertiup sepanjang kemarau berlangsung, ditambah polutan dari asap kendaraan bermotor.
âTentu kualitas udara akan menurun ketika ada kebakaran hutan dan lahan, ada partikel-partikel debu, polutan yang masih tertinggal di atas,â jelas Leon.
Leon mengatakan Dinas Lingkungan Hidup melaksanakan pemantauan kualitas udara dilakukan di beberapa titik yang diambil sampelnya.
âSampelnya kita ambil dari industri, perkantoran, transportasi, dan pemukiman. Di semester pertama, hasil pengukuran masih di bawah baku mutu,â katanya.
Leon bilang, aktivitas pembakaran sampah dan pembukaan lahan dengan cara membakar oleh masyarakat semakin memperburuk kualitas udara di Manado.
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Sulawesi Utara, melalui Koordinator Bidang Observasi dan Informasi, Muhammad Candra Buana mengatakan Sulut mengalami kabut asap kiriman atau transboundary haze, dari wilayah-wilayah yang tengah dilanda Karhutla, yaitu Kalimantan dan Papua.
Dia mengatakan berdasarkan hasil pemantauan dinamika atmosfer dan citra satelit penginderaan jauh, fenomena tersebut merupakan kabut asap kiriman lintas wilayah.
Dari analisis pola pergerakan angin dan sebaran asap satelit, massa udara membawa partikel asap tipis dari aktivitas Karhutla yang terjadi di wilayah Kalimantan, serta wilayah Papua Barat dan Papua Barat Daya.
Ia mengatakan asap Karhutla terbawa oleh angin pada lapisan atmosfer menengah-atas menuju ke arah wilayah Sulawesi Utara.
Kejadian Karhutla di Sulawesi Utara ikut mempengaruhi fenomena kabut asap yang muncul akhir-akhir ini.
Sementara itu,  Puluhan perwakilan negara mulai berdatangan di Bumi Nyiur Melambai Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) untuk mengikuti World Coconut Day 2026.
"Ada sebanyak 27 negara yang akan mengikuti World Coconut Day 2026 di Sulut yang akan berlangsung sejak tanggal 7-10 Oktober 2026," kata Sekretaris Provinsi Sulawesi Utara Tahlis Gallang di Manado, Rabu.
Ia mengatakan kegiatan World Coconut Day 2026 mempertemukan semua pemangku kepentingan kelapa dari berbagai negara.
Tahlis Gallang mengatakan hingga saat ini peserta konferensi internasional diproyeksikan mencapai 500 orang. Selain itu, paket kemitraan Pemerintah Kota Manado disiapkan untuk 1.000 peserta, sementara pameran telah mencapai 60 stan.
Direktur International Coconut Community (ICC) Dr Jelfina C Alow mengatakan peserta tidak hanya berasal dari negara anggota ICC, tetapi juga negara eksportir kelapa dan produk turunannya, termasuk sejumlah negara di Eropa dan Tiongkok.
- Kota Manado
- asap karhutla
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Aloysius Widiyatmaka
Berita Terkait:
-
Para Pendaki Diimbau Membatalkan, Jalur ke Rinjani Terbakar Makin Luas
-
Donald Trump: Iran Hubungi AS, Perang Mendekati Akhir
-
Kualitas Udara Palembang Berada di Level Berbahaya
-
MTQ Nasional XXXI di Semarang Bikin Jateng Adem dan Tenteram
-
Bantuan tabung oksigen untuk warga terdampak bencana kabut asap
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.