• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Fasilitas Biofarmasi di Ci...

Fasilitas Biofarmasi di Cikarang Raih Sertifikasi CPOB, Perkuat Industri Farmasi Nasional

Rabu, 22 Jul 2026, 18:30 WIB

JAKARTA– PT Selatox Bio Pharma mengumumkan telah memperoleh sertifikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia. Pencapaian tersebut menjadi bagian dari peresmian fasilitas manufaktur biofarmasi perusahaan yang berlokasi di Cikarang, Jawa Barat.

Sertifikasi CPOB menjadi pengakuan bahwa fasilitas manufaktur dan sistem manajemen mutu Selatox telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan BPOM. Dengan sertifikasi tersebut, perusahaan memperkuat fondasi produksi untuk mengembangkan produk biofarmasi estetika sekaligus mendukung ambisinya menjadi pusat manufaktur bertaraf global.

Ket. Foto: Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia (kiri), menyerahkan sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) kepada Joh Young Hoon, CEO PT Selatox Bio Pharma (kanan), dalam Grand Opening PT Selatox Bio Pharma di Cikarang pada Senin (20/7). — Sumber: Selatox Bio Pharma

Peresmian fasilitas tersebut mengusung tema "Pursuing the Highest Quality, Delivering the Finest Beauty". Acara dihadiri perwakilan Kementerian Kesehatan RI, BPOM, organisasi profesi bidang kesehatan, klinik estetika, tenaga kesehatan, mitra industri, dan pemangku kepentingan lainnya.

Dalam kegiatan tersebut, para pemangku kepentingan menyoroti pentingnya infrastruktur manufaktur, penerapan sistem manajemen mutu berstandar tinggi, serta pengembangan sumber daya manusia yang kompeten untuk mendukung pertumbuhan industri biofarmasi secara berkelanjutan.

Selatox merupakan perusahaan biofarmasi yang berfokus pada penelitian, pengembangan, dan manufaktur produk biofarmasi estetika. Perusahaan saat ini mengembangkan sejumlah produk berbasis Botulinum Toxin Type A.

Dengan diperolehnya sertifikasi CPOB, fasilitas manufaktur dan sistem manajemen mutu Selatox dinyatakan telah memenuhi persyaratan BPOM. Perusahaan menilai pencapaian tersebut memperkuat komitmen untuk menghasilkan produk berkualitas yang memenuhi standar internasional.

Fasilitas manufaktur Selatox dilengkapi dengan sistem produksi berteknologi maju, area produksi steril, serta sistem manajemen mutu yang mencakup seluruh proses manufaktur. Sistem tersebut dirancang untuk menjaga kualitas dan keamanan produk secara konsisten, mulai dari penerimaan bahan baku, proses produksi, pengujian, hingga distribusi.

Chief Executive Officer Selatox, Joh Young Hoon, mengatakan sertifikasi CPOB merupakan salah satu pencapaian penting bagi perusahaan dalam membangun sistem produksi yang memenuhi standar yang ditetapkan regulator.

"Perolehan sertifikasi CPOB dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia merupakan pencapaian penting bagi Selatox. Sertifikasi ini menegaskan bahwa fasilitas manufaktur dan sistem manajemen mutu kami telah memenuhi standar yang ditetapkan," ujar Joh melalui keterangannya pada hari Rabu (22/7).

Ia menambahkan, Selatox berkomitmen menerapkan proses produksi yang presisi dan sistem pengendalian mutu yang ketat untuk menghasilkan produk yang dapat dipercaya oleh tenaga kesehatan dan mitra perusahaan.

Menurut Joh, sertifikasi tersebut menjadi langkah awal bagi Selatox untuk membangun ekosistem biofarmasi yang terintegrasi, mulai dari penelitian dan pengembangan, manufaktur, hingga pengembangan bisnis di pasar global.

"Ke depan, kami juga akan terus berinvestasi dalam pengembangan sumber daya manusia lokal serta penerapan teknologi manufaktur berstandar internasional untuk tumbuh bersama dan berkontribusi terhadap kemajuan industri farmasi dan bioteknologi Indonesia," katanya.

Dari Korea Selatan, Direktur Jenderal Biro Biofarmasi Kementerian Keamanan Pangan dan Obat Republik Korea (Ministry of Food and Drug Safety/MFDS), Ahn Young-jin, menyampaikan apresiasi atas peresmian fasilitas tersebut.

Ia menilai pencapaian Selatox dapat menjadi bagian dari penguatan kemitraan strategis antara Korea Selatan dan Indonesia di sektor biofarmasi dan kesehatan.

MFDS Korea dan BPOM Indonesia, menurut Ahn, telah memperoleh pengakuan global melalui status WHO Listed Authority (WLA). Status tersebut mencerminkan kapasitas sistem regulasi kedua lembaga dalam memenuhi standar global.

Ahn mengatakan kerja sama regulatori antara kedua negara akan terus diperkuat untuk meningkatkan akses terhadap produk biofarmasi inovatif sekaligus mendukung pertumbuhan industri biofarmasi di Korea Selatan dan Indonesia.

Sementara itu, Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Transformasi Sistem Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, Agus Tjahajana Wirakusumah, mengatakan pemerintah terus mendorong penguatan kapasitas produksi dalam negeri, penguasaan teknologi, dan kolaborasi antara pemerintah, industri, serta institusi pendidikan.

Upaya tersebut merupakan bagian dari agenda transformasi sistem kesehatan dan penguatan ketahanan kesehatan nasional.

"Kehadiran fasilitas manufaktur seperti PT Selatox Bio Pharma diharapkan dapat mendukung kemandirian farmasi Indonesia sekaligus meningkatkan daya saing industri kesehatan nasional," kata Agus.

Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., juga mengapresiasi peresmian fasilitas manufaktur dan pencapaian sertifikasi CPOB oleh Selatox.

Menurutnya, pencapaian tersebut mencerminkan komitmen perusahaan dalam memenuhi standar terkait keamanan, mutu, dan khasiat. Sertifikasi itu juga dinilai menjadi bagian dari upaya memperkuat industri farmasi dan biofarmasi di Indonesia.

Seiring dengan peresmian fasilitas manufaktur dan diperolehnya sertifikasi CPOB, Selatox menargetkan pengembangan Indonesia sebagai salah satu pusat biofarmasi estetika. Perusahaan berencana mengintegrasikan kegiatan riset dan pengembangan, manufaktur, serta operasional bisnis global dalam satu ekosistem.

Dengan mengedepankan kualitas dan kepercayaan, Selatox menargetkan pertumbuhan sebagai perusahaan manufaktur biofarmasi bertaraf global sekaligus berkontribusi terhadap perkembangan industri farmasi dan bioteknologi di Indonesia.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.