Rumput Laut Sulawesi Selatan Disiapkan sebagai Bahan Baku Alternatif Plastik
Minggu, 06 Sep 2026, 21:52 WIBJAKARTA â Perusahaan bioteknologi asal Australia, Uluu, resmi memperluas operasinya ke Indonesia dengan mendirikan PT Uluu Solusi Indonesia. Kehadiran entitas tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan membangun rantai pasok rumput laut yang tertelusur dan berkelanjutan sebagai bahan baku pengembangan material alternatif pengganti plastik berbasis fosil.
Indonesia dinilai memiliki posisi strategis dalam pengembangan bisnis tersebut karena merupakan salah satu produsen rumput laut terbesar di dunia. Uluu menjadikan rumput laut sebagai bahan dasar untuk menghasilkan material alami yang dikembangkan sebagai alternatif plastik konvensional.
PT Uluu Solusi Indonesia dipimpin oleh Dian Kurniawati sebagai Presiden Direktur, sementara Boedi Sardjana Julianto dipercaya sebagai Komisaris. Boedi memiliki pengalaman dalam pengembangan budi daya perairan berkelanjutan serta berbagai proyek rumput laut yang melibatkan organisasi pembangunan, lembaga riset, dan masyarakat pesisir, baik di Indonesia maupun di tingkat internasional.
"Sebagai produsen rumput laut terbesar kedua di dunia, Indonesia memiliki peran penting dalam misi Uluu untuk menggantikan plastik berbasis fosil dengan material yang terbuat dari rumput laut," kata Dian dalam keterangannya, Minggu (6/9/2026).
Menurutnya, keberadaan Uluu Indonesia ditujukan untuk membangun kemitraan lokal sekaligus memperkuat ketertelusuran, praktik budi daya yang bertanggung jawab, serta manfaat ekonomi bagi masyarakat pembudi daya rumput laut.
Pengiriman Rumput Laut Perdana Tertelusur
Langkah awal Uluu di Indonesia diwujudkan melalui pengiriman perdana rumput laut dari CV Persada Semesta di Sulawesi Selatan yang diklaim sepenuhnya dapat ditelusuri. Dalam proyek percontohan tersebut, Uluu bekerja sama dengan perusahaan teknologi rantai pasok, Koltiva, untuk mencatat perjalanan rumput laut secara digital. Sistem ini memungkinkan seluruh tahapanâmulai dari pembudi daya, pengolahan, hingga pengirimanâterdokumentasi dalam rantai pasok.
General Manager CV Persada Semesta, Indra Santoso, mengatakan sistem ketertelusuran membantu perusahaan memahami sekaligus meningkatkan setiap tahapan dalam rantai pasok.
"Ketertelusuran membantu kami memahami dan meningkatkan setiap tahapan rantai pasok, mulai dari pembudi daya hingga pengiriman akhir," ungkap Indra.
Ia menambahkan bahwa kerja sama dengan Uluu dan Koltiva merupakan proyek percontohan yang diharapkan dapat diperluas sehingga memberikan nilai tambah bagi masyarakat pembudi daya.
Bagi Uluu, sistem ketertelusuran menjadi bagian penting karena rumput laut merupakan bahan baku utama dalam pengembangan material perusahaan. Dengan sistem tersebut, perusahaan dapat mengetahui asal bahan baku sekaligus memperoleh gambaran mengenai proses produksi sejak dari sumbernya.
Co-founder dan Co-CEO Uluu, dr. Julia Reisser, mengatakan kehadiran tim lokal di Indonesia memungkinkan perusahaan bekerja lebih dekat dengan mitra dan pembudi daya.
"Rumput laut merupakan bahan dasar material kami, sehingga cara rumput laut dibudidayakan dan lokasi budi dayanya sangat penting," kata Julia.
Dorong Standar Budi Daya Berkelanjutan
Selain membangun sistem ketertelusuran, Uluu meluncurkan Aquaculture Improvement Program (AIP) di Luwu, Sulawesi Selatan. Program ini dijalankan bersama Seafood Savers, sebuah platform inisiatif WWF-Indonesia, dan mitra rantai pasok Uluu, CV Persada Semesta.
AIP diarahkan untuk memperkuat praktik budi daya serta sistem pengelolaan rumput laut agar semakin selaras dengan Standar Rumput Laut ASC-MSC. Program ini mencakup aspek lingkungan dan sosial dalam rantai produksi rumput laut.
Uluu dan para mitranya menargetkan program tersebut dapat membuka jalan menuju sertifikasi ASC-MSC untuk rantai pasok rumput laut di Indonesia. Jika proses tersebut berhasil, rantai pasok yang dikembangkan Uluu bersama mitranya berpotensi menjadi yang pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikasi tersebut.
Program perbaikan dilakukan bersama pemasok, pembudi daya, dan tim lokal. Pendekatan ini dimaksudkan agar peningkatan standar produksi tidak hanya berfokus pada kebutuhan industri, melainkan juga memberikan manfaat bagi masyarakat yang terlibat dalam rantai pasok.
"Ini masih merupakan langkah awal bagi kami di Indonesia. Kami memulainya melalui proyek percontohan yang terfokus, belajar bersama para mitra, dan menyempurnakan sistem sebelum memperluasnya ke jaringan yang lebih luas," ujar Dian.
Mengembangkan Alternatif Plastik Berbasis Rumput Laut
Uluu mengembangkan material alternatif plastik dengan memanfaatkan rumput laut sebagai bahan baku. Melalui proses fermentasi, gula yang berasal dari rumput laut diubah menjadi kelompok material alami yang disebut polyhydroxyalkanoates (PHA).
Material tersebut dikembangkan untuk memiliki fungsi menyerupai plastik, tetapi tidak menggunakan bahan bakar fosil. Uluu juga menyatakan material PHA yang dikembangkannya dapat terurai secara alami tanpa meninggalkan mikroplastik yang persisten.
Penggunaan rumput laut sebagai bahan baku juga berkaitan dengan karakteristik tanaman tersebut yang menyerap karbon dioksida selama pertumbuhannya. Dengan pendekatan tersebut, Uluu menempatkan pengembangan materialnya dalam tiga tujuan utama: menghasilkan material berbasis sumber daya terbarukan, membantu mengurangi polusi plastik, serta menciptakan peluang ekonomi baru bagi pembudi daya rumput laut dan masyarakat pesisir.
Kehadiran PT Uluu Solusi Indonesia sekaligus menempatkan Sulawesi Selatan sebagai salah satu titik awal pengembangan rantai pasok bahan baku perusahaan. Melalui kombinasi ketertelusuran digital, peningkatan standar budi daya, dan pengembangan material berbasis rumput laut, Uluu berupaya membangun rantai pasok yang tidak hanya memenuhi kebutuhan industri, melainkan juga memperhatikan aspek lingkungan dan masyarakat pesisir.
- WWF-Indonesia
- Kabupaten Luwu
- Sulawesi Selatan
- Bioteknologi
- Keberlanjutan
- rumput laut
- Koltiva
- ekonomi biru
- Pengurangan Sampah Plastik
- Material Berkelanjutan
- Uluu
- PT Uluu Solusi Indonesia
- Rumput Laut Indonesia
- Plastik Ramah Lingkungan
- Alternatif Plastik
- PHA
- Polyhydroxyalkanoates
- Rantai Pasok Berkelanjutan
- Ketertelusuran Digital
- ASC-MSC
- Aquaculture Improvement Program
- Seafood Savers
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Kementerian PKP Sambut Positif Akad Massal Rumah Subsidi di Batang
-
Chelsea Menguji Formasi Terbaik Lawan Juventus
-
10 Pemanah Andalan Indonesia Disiapkan untuk Asian Games 2026 di Jepang, Targetkan Medali Perak
-
Wabah Ebola di RD Kongo telah Melampaui 3.000 Kasus
-
Selasa, Polda Metro Jaya Buka SIM Keliling di 5 Lokasi, Segera ke Gerai Terdekat!
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.