Fenomena 'Acoustic Shadow' di Balik Dentuman di Bandung
Minggu, 06 Sep 2026, 23:35 WIBBandung - Pakar Vulkanologi dari ITB Mirzam Abdurrachman menilai fenomena atmosfer acoustic shadow zone (zona bayangan suara) menjadi hipotesis ilmiah paling memungkinkan untuk menjawab teka-teki dentuman misterius di Bandung Raya pascaerupsi Gunung Anak Krakatau.
Dosen Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB ini di Bandung, Minggu, mengatakan mekanisme acoustic shadow zone menjelaskan alasan teknis gelombang suara erupsi tidak terdengar jelas di wilayah pesisir yang dekat dengan kawah Selat Sunda, namun justru memantul dan kembali terdengar sangat pekat di wilayah pegunungan Jawa Barat yang berjarak ratusan kilometer.
Mirzam memaparkan, perbedaan temperatur serta arah dan kecepatan angin pada ketinggian tertentu dapat membuat gelombang suara mengalami pembiasan ke atas (upward refraction) hingga melewati zona bayangan, sebelum akhirnya dibelokkan kembali ke permukaan tanah di lokasi yang jauh.
"Sebagian energi suara yang bergerak di atas zona bayangan dapat mengalami scattering atau penyebaran akibat turbulensi atmosfer. Dalam kondisi tertentu, gelombang tersebut juga dapat mengalami difraksi sehingga sebagian energinya kembali mencapai permukaan di tempat yang lebih jauh," ujar Mirzam.
Meski demikian, Mirzam menekankan bahwa kemunculan erupsi Anak Krakatau dan suara dentuman dalam waktu berdekatan belum cukup menjadi bukti final hubungan sebab-akibat tanpa pembuktian data saintifik.
"Belum tentu. Perlu kajian lebih lanjut untuk memastikan sumbernya. Jadi, dentuman semalam masih menjadi sebuah pertanyaan menarik, bukan sebuah kesimpulan. Kajian lebih mendalam tentu perlu kita lakukan," ucapnya.
Pendapat ini sekaligus menjembatani silang pendapat antara Badan Geologi yang menduga kuat keterkaitan dentuman dengan erupsi lava fountain Krakatau, serta BMKG yang menyatakan tidak ada rekaman aktivitas seismik lokal di Bandung Raya, serta tidak adanya angin yang mengarah ke Timur yang mendukung terjadinya fenomena tersebut.
Guna membuktikan korelasi tersebut, kata dia, tim peneliti masih harus mencocokkan jeda waktu kedatangan gelombang suara, karakteristik sinyal, topografi wilayah, hingga dinamika atmosfer Jawa bagian barat.
Terkait tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih bertahan di Level III (Siaga), dia turut mengimbau masyarakat tidak panik, meningkatkan literasi bencana, serta mematuhi batas aman steril radius 3 kilometer dari kawah aktif.
- Aktivitas Gunung Anak Krakatau
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Aturan Baru! Buruh Tani Kini Bisa Dapat Bantuan Traktor dan Alsintan dari Kementan
-
Pulau Bidadari di Kepulauan Seribu Jadi Percontohan Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah DKI
-
Bambang Harymurti Usul Nama RUU Perampasan Aset Diubah, Ini Alasannya
-
Festival Dayung Tejoasri Diusulkan Masuk Kalender "event" Jatim
-
Bisa Pengaruhi Pasar, Akses Awal Unggahan Trump di Truth Social Dijual Rp1,6 Miliar
-
Setelah Dinyatakan Aman dari Abu Vulkanik, Semua Bandara Resmi Dibuka
-
Subsidi Listrik Naik, Bahlil Usulkan Rp117,84 Triliun untuk RAPBN 2027.
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.