- Home
-
- Luar Negeri
-
- Menlu Asean Bahas Isu-isu ...
Menlu Asean Bahas Isu-isu Regional di Manila
Selasa, 21 Jul 2026, 02:30 WIBSINGAPURA - Krisis regional diperkirakan akan kembali mendominasi diskusi saat para menteri luar negeri dari Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (Asean) berkumpul di Manila, Filipina, pekan ini.
Di antara isu-isu yang menjadi sorotan adalah keamanan energi dan pangan, krisis yang sedang berlangsung di Myanmar, dan ketegangan di Laut Tiongkok Selatan (LTS), seiring blok regional tersebut meninjau kemajuan dalam mengatasi tantangan-tantangan utama yang telah membentuk agendanya sepanjang tahun.
Pada KTT Asean di Cebu Mei lalu, konflik di Timur Tengah mengakibatkan kelangkaan bahan bakar, kenaikan harga minyak, dan gangguan pada jalur perdagangan global ke garis depan perhatian regional. Dua bulan kemudian, para analis mengatakan bahwa Asia tenggara telah mengelola situasi ini dengan relatif baik dibandingkan dengan banyak bagian dunia lainnya.
Di luar keamanan energi, Sharon Seah dari ISEAS â Yusof Ishak Institute memperingatkan bahwa keamanan pangan dapat muncul sebagai masalah yang bahkan lebih mendesak karena perubahan iklim terus mengancam produksi pertanian di seluruh Asia tenggara melalui kekeringan, banjir, dan cuaca ekstrem yang lebih sering terjadi.
Sementara itu, gangguan yang terus berlanjut di Selat Hormuz akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran telah mengurangi pasokan pupuk dan menaikkan biaya, sehingga menambah tekanan pada produksi pangan di seluruh wilayah tersebut.
Seah mencatat bahwa dampak penuhnya belum terasa karena negara-negara masih bergantung pada hasil panen sebelumnya dan mengimpor makanan dari berbagai pasar yang lebih luas.
Krisis di Myanmar juga diperkirakan akan menjadi sorotan utama di Manila setelah para diplomat senior Asean bertemu dengan Menlu Myanmar, Tin Maung Swe, awal bulan ini. Pertemuan ini menandai pertemuan tatap muka pertama antara menlu Myanmar dan para menlu Asean sejak kudeta militer Myanmar pada tahun 2021.
Pemerintah militer Myanmar kemungkinan akan menggambarkan pertemuan baru-baru ini sebagai langkah menuju normalisasi hubungan dengan Asean. Namun, beberapa negara anggota telah menekankan bahwa keterlibatan tersebut tidak boleh diartikan sebagai pengakuan.
Seah mengatakan bahwa kelompok regional Asean kemungkinan akan terus mengambil pendekatan yang hati-hati dan berbasis konsensus. âKarena Asean bekerja berdasarkan konsensus, (negara-negara anggota) sangat mungkin untuk melakukan kalibrasi internal, mengadakan diskusi dan melihat ke mana seluruh kelompok ingin menuju,â kata dia.
Sengketa Teritorial
Pertemuan menlu Asean juga diharapkan membahas ketegangan di LTS, di mana wilayahnya diperebutkan oleh beberapa negara di kawasan tersebut.
Isu ini kembali menjadi sorotan tak lama setelah peringatan 10 tahun putusan penting pengadilan arbitrase tahun 2016 yang membatalkan dasar hukum klaim luas Tiongkok atas sebagian besar LTS. Beijing telah menolak putusan tersebut dan terus mempertahankan klaimnya.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Filipina, Dominic Xavier Imperial, mengatakan bahwa Asean dan Tiongkok tetap berkomitmen untuk menegosiasikan kode etik yang substantif dan efektif untuk jalur perairan tersebut dan menyatakan keyakinan bahwa kemajuan dapat dicapai tahun ini. CNA/I-1
- Manila
- ASEAN
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: CNA
Berita Terkait:
-
GAPMMI: Industri Pangan Harus Tingkatkan Standar Mutu demi Daya Saing
-
Gratis, Biaya Urus Izin Bagi Pelaku Usaha Perikanan
-
Menlu ASEAN Berkumpul di Manila, Masa Depan Myanmar dan Konflik Timur Tengah Membayangi Pembicaraan
-
PM Inggris Keir Starmer Didesak Mengundurkan Diri
-
Pemprov Jateng Raih Penghargaan Pengendalian Inflasi Terbaik Regional Jawa-Bali, Ahmad Luthfi Tekankan Kolaborasi Daerah
-
IPO Belum Kehabisan Peminat, OJK Catat Belasan Perusahaan Siap Go Public
-
Deteksi Kelainan Saluran Kemih Anak Bisa Dilakukan Sejak Dalam Kandungan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.