Target EBT Makin Besar, Pemerintah Hadapi Tantangan Eksekusi
Selasa, 01 Sep 2026, 01:00 WIBJakarta â Target energi baru terbarukan (EBT) Indonesia terus diperbesar, namun tantangan utamanya kini memastikan investasi dan proyek energi bersih benar-benar terealisasi.
Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) mendorong percepatan proyek EBTKE agar transisi energi tidak berhenti pada komitmen dan wacana.
Dikutip dari Antara, Ketua Umum METI Norman Ginting mengatakan IndoEBTKE ConEx 2026 menjadi momentum mempertemukan pengembang, penyedia teknologi, investor, dan pengambil kebijakan untuk mempercepat realisasi proyek energi bersih.
âKami jadikan ruang temu antara pengembang, penyedia teknologi, dan pengambil kebijakan untuk mempercepat realisasi proyek tersebut,â ujar Norman di Jakarta, Senin (31/8).
Forum yang digelar bersama Masyarakat Konservasi dan Efisiensi Energi Indonesia (MASKEEI) dengan dukungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2-4 September 2026 tersebut diarahkan untuk membuka akses investasi hijau, mempercepat eksekusi proyek, serta memperkuat ketahanan energi nasional melalui kolaborasi dan inovasi teknologi.
Namun, besarnya potensi investasi energi bersih masih menghadapi tantangan pada tahap implementasi. Karena itu, METI menilai pertemuan antara pengembang proyek dan lembaga keuangan nasional maupun internasional perlu diperkuat agar kebutuhan pendanaan dapat segera diterjemahkan menjadi proyek yang berjalan.
Sekretaris Jenderal METI Elvi Nasution yang juga menjadi ketua panitia forum mengatakan keterhubungan antara pengembang dan lembaga pembiayaan menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat investasi EBTKE.
Di sisi lain, Ketua Umum MASKEEI Andhika Prastawa menekankan konservasi dan efisiensi energi tidak boleh dipandang sebagai pelengkap dalam transisi energi, tetapi harus menjadi bagian dari strategi ketahanan energi nasional.
âKami mendorong penguatan implementasi konservasi dan efisiensi energi melalui berbagai inisiatif inovatif, termasuk pengembangan skema energy efficiency as a service, untuk meningkatkan kesadaran, memperluas adopsi teknologi hemat energi, serta mengoptimalkan pemanfaatan energi di sektor industri maupun komersial,â ujarnya.
Norman mengatakan METI berkomitmen menjadi mitra strategis pemerintah dalam mengawal percepatan transisi energi nasional agar lebih terarah dan memberikan dampak nyata.
âMETI akan terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendorong percepatan transisi energi nasional yang terarah dan berdampak nyata,â katanya.
Menurut Norman, transisi energi bukan sekadar upaya menekan emisi, tetapi juga peluang memperkuat kemandirian energi, menciptakan lapangan kerja hijau, serta membangun kapasitas industri dan teknologi nasional.
âPengembangan energi baru terbarukan harus menjadi fondasi ketahanan dan kemandirian energi Indonesia, sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru, penciptaan lapangan kerja hijau, serta penguatan kapasitas industri dan teknologi nasional,â ujarnya.
METI mendorong pengembangan sejumlah sektor energi bersih, mulai dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 gigawatt (GW), bioethanol E20, Sustainable Aviation Fuel (SAF), panas bumi, biomassa, cofiring, hingga waste to energy.
Ekosistem Pembiayaan
Besarnya target tersebut sekaligus menunjukkan skala pembiayaan dan infrastruktur yang harus disiapkan. Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara memperkirakan pengembangan PLTS berkapasitas 100 GW membutuhkan investasi sekitar 1.130 triliun rupiah.
âBaru-baru ini kita melihat Bapak Presiden melakukan groundbreaking untuk pendirian 100 gigawatt dari pembangkit listrik tenaga surya yang diperkirakan akan membutuhkan investasi sebesar Rp1.130 triliun,â ujar Managing Director of Global Relations and Governance Danantara Pahala N. Mansury.
Pahala menilai kebutuhan investasi tersebut menunjukkan pentingnya membangun ekosistem pembiayaan yang mampu menopang pengembangan energi terbarukan dan ekonomi hijau.
Menurut dia, tantangan transisi energi juga tidak berhenti pada pembangunan pembangkit. Indonesia membutuhkan jaringan transmisi yang mampu mengintegrasikan energi terbarukan ke dalam sistem kelistrikan nasional.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Iran dan Oman Capai Kemajuan Pembahasan Mekanisme Pelayaran Aman di Selat Hormuz
-
Jennie BLACKPINK Gebrak Panggung Festival Roskilde dan Open'er di Eropa
-
Iran Hampir Capai Kesepakatan dengan Oman soal Selat Hormuz, Trump Tunda Serangan
-
Pemprov DKI: Kenaikan Harga Pangan Dipicu Meningkatnya Permintaan
-
Pengunjung Perempuan Meninggal Dunia Usai Susuri Wahana Rumah Hantu di Tulungagung
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.