Ketahanan Ekonomi Harus Mampu Menciptakan Nilai Tambah di Dalam Negeri

Selasa, 21 Jul 2026, 01:05 WIB

JAKARTA - Kondisi perekonomian nasional saat ini belum pulih sepenuhnya karena masih dihadapkan pada sejumlah tantangan. Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti mengatakan sejumlah indikator yang menjadi tekanan bagi ekonomi nasional, salah satunya nilai tukar rupiah yang sempat menembus level 18 ribu rupiah per dollar AS.

Selain itu, dia juga menyoroti risiko di pasar keuangan, terutama terkait market accessibility review dari MSCI dan outlook negatif yang diberikan lembaga pemeringkat Moody's.

Ket. Foto: Achmad Maruf Pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) - investasi yang menghasilkan kapasitas produksi baru, hilirisasi industri, dan peningkatan produktivitas tenaga kerja perlu terus dipercepat agar pertumbuhan ekonomi menjadi lebih berkualitas. — Sumber: istimewa

“Kondisi ini menunjukkan bahwa kepercayaan investor dan pelaku pasar masih perlu dijaga dengan kebijakan yang hati-hati,” katanya.

Situasi tersebut jelasnya masih bisa diperbaiki dengan disiplin pada fiskal pemerintah, pengalokasian anggaran yang bisa menstimulasi pertumbuhan ekonomi baik di daerah maupun nasional.

Belanja negara jelasnya harus diarahkan pada pos-pos produktif yang berdampak langsung pada pertumbuhan, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan daya beli masyarakat.

Dengan langkah tersebut, Esther berharap ketahanan ekonomi Indonesia benar-benar bisa terjaga, tidak hanya dari sisi makro tetapi juga dirasakan hingga ke daerah.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan kondisi perekonomian Indonesia justru semakin kuat meski pemerintahannya berulang kali diprediksi akan menghadapi kolaps ekonomi. Menurut Prabowo, berbagai capaian Kabinet Merah Putih selama hampir dua tahun terakhir menunjukkan ekonomi nasional tetap tangguh di tengah ketidakpastian global.

Harus Diperkuat

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Achmad Maruf menilai fondasi ekonomi Indonesia sejauh ini masih mampu bertahan menghadapi tekanan eksternal. Namun, ketahanan tersebut perlu terus diperkuat melalui peningkatan produktivitas sektor riil agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya bersifat jangka pendek.

“Secara makro, Indonesia memang masih menunjukkan daya tahan yang cukup baik di tengah perlambatan ekonomi global. Inflasi relatif terkendali, aktivitas ekonomi tetap berjalan, dan stabilitas sistem keuangan masih terjaga. Ini menjadi modal penting untuk menjaga optimisme,” kata Maruf.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa ukuran kekuatan ekonomi tidak cukup hanya dilihat dari stabilitas indikator makro. Pemerintah juga perlu memastikan manfaat pertumbuhan dirasakan masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja yang lebih luas, peningkatan investasi produktif, serta penguatan sektor industri dan usaha kecil menengah.

Menurut Maruf, tantangan ekonomi ke depan justru berada pada kemampuan pemerintah menjaga momentum pertumbuhan di tengah ketidakpastian global, mulai dari perlambatan perdagangan dunia, ketegangan geopolitik, hingga fluktuasi harga komoditas.

“Ketahanan ekonomi harus diterjemahkan menjadi kemampuan menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Karena itu, investasi yang menghasilkan kapasitas produksi baru, hilirisasi industri, dan peningkatan produktivitas tenaga kerja perlu terus dipercepat agar pertumbuhan ekonomi menjadi lebih berkualitas,” pungkasnya.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.