Tekanan Eksternal Masih Kuat - 30 September 2026

Rabu, 30 Sep 2026, 07:33 WIB

JAKARTA – Pelemahan rupiah terhadap dollar AS berpo­tensi berlanjut dalam perdagangan tengah pekan ini seiring kuatnya tekanan eksternal dari konflik Iran-Amerika Serikat (AS), volatilitas harga minyak, dan ketidakpastian arah suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Kombinasi tersebut dapat memperkuat dollar AS serta menekan arus modal ke pasar negara berkembang, sehingga ruang penguatan ru­piah masih terbatas dan volatilitas berpotensi meningkat.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Ber­jangka, Ibrahim Assuabi melihat pergerakan rupiah masih akan berlangsung fluktuatif dengan kecenderungan mele­mah.

Dia memproyeksikan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Rabu (29/9), bergerak di kisaran 17.980 - 18.030 rupiah per dollar AS.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan Selasa (29/9) sore, bergerak mele­mah 3 poin atau 0,02 persen dari sehari sebelumnya men­jadi 17.981 rupiah per dollar AS.

“Pelemahan rupiah dipe­ngaruhi potensi pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed),” ujar Ibrahim.

Dia menambahkan karena tingginya harga minyak, para pelaku pasar memperhitungkan adanya pengetatan kebi­jakan moneter lanjutan oleh The Fed, menyusul kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuannya pada 15-16 September lalu.

Ini merupakan kenaikan suku bunga dalam tiga tahun terakhir.

Berdasarkan data CME FedWatch, pasar kini melihat adanya peluang sebesar 70 persen untuk kenaikan suku bu­nga pada pertemuan pada Oktober, menyusul serangkaian pernyataan bernada hawkish dari para pejabat The Fed pe­kan lalu.

Selain itu, pasar juga tengah menanti agenda eko­nomi AS akan jauh lebih padat pada pekan ini.

Data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) dijadwalkan rilis pada Rabu (30/9), diikuti oleh data ISM Manufactur­ing PMI pada Kamis (1/10) dan laporan Nonfarm Payrolls (NFP), Jumat (2/10).

Komentar dari para pejabat The Fed juga akan dipantau untuk mendapatkan petunjuk mengenai langkah kebijakan bank sentral selanjutnya.

Sentimen juga berasal dari po­tensi pembicaraan lebih lanjut antara AS dengan Iran seba­gai bagian dari upaya untuk mengakhiri perang.

Pembicaraan lebih lanjut diperkirakan akan berfokus pada versi revisi dari proposal tujuh hari yang diajukan Iran pekan lalu di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Rencana tujuh hari Iran tersebut mencakup penghentian segala permusuhan di Iran dan Lebanon, pencairan aset Iran senilai miliaran dollar, peng­hentian sanksi terhadap minyak Iran, serta pencabutan blokade AS atas pelabuhan-pelabuhan Iran,” ucap Ibrahim.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.