Air Baku Banjarmasin Menyusut hingga 30 Persen, Ini Penyebabnya

Rabu, 30 Sep 2026, 07:37 WIB

BANJARMASIN - Wali Kota Banjarmasin H Muhammad Yamin HR menyampaikan daerah tersebut mengalami penyusutan air baku untuk pengolahan air bersih mencapai 30 persen akibat kemarau dan intrusi air laut.

"Akibat (kemarau) dampaknya kian terasa di sejumlah wilayah, aliran air bersih terlebih di kawasan ujung jaringan, berkurang bahkan terhenti," ujar dia saat meninjau Instalasi Pengolahan Air (IPA) 2 di kawasan Pramuka di Banjarmasin Timur, Selasa.

Ket. Foto: Wali Kota Banjarmasin HM Yamin HR didampingi Kapolresta Banjarmasin Kombes Pol Riza Muttaqin dan Direktur Utama PT Air Minum Bandarmasih Zulbadi saat meninjau Instalasi Pengolahan Air 2 di kawasan Pramuka di Banjarmasin Timur, Selasa (29/9). — Sumber: Antara foto/HO Pemkot Banjarmasin

Ia meninjau IPA 2 tersebut didampingi Kapolresta Banjarmasin Kombes Pol Riza Muttaqin dan Direktur Utama PT Air Minum Bandarmasih Zulbadi untuk memastikan ketersediaan air baku sekaligus melihat proses pengolahan air yang masih dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Yamin mengatakan persoalan saat ini bukan semata kemampuan instalasi mengolah air, melainkan keterbatasan sumber air baku.

“Air baku kita memang tidak mencukupi. Karena itu kita memastikan bagaimana air yang tersedia ini bisa diolah dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan warga,” ujar dia.

Banjarmasin ditopang dua instalasi pengolahan air dengan sumber berbeda. Pertama adalah IPA 1 yang mengambil air baku di kawasan Sungai Bilu dan memanfaatkan air Sungai Martapura dengan kapasitas 600 liter per detik.

Saat ini, lanjutnya, instalasi pengolah air tersebut terdampak intrusi air laut sehingga kadar garam meningkat.

Sementara itu, ia mengatakan IPA 2 mengambil air baku dari Sungai Tabuk dengan kapasitas 1.750 liter per detik yang berjarak sekitar 11 kilometer dari instalasi pengolahan. Kondisi tersebut membuat pasokan ke jaringan distribusi menurun.

Kondisi tersebut, menurut dia, membuat pasokan ke jaringan distribusi menurun. Dampaknya terutama dirasakan warga di wilayah yang berada jauh dari pusat pelayanan atau di ujung jaringan.

Situasi semakin berat setelah penyaluran air dengan kadar garam tinggi dihentikan. Sebelumnya, air tersebut sempat disalurkan secara terbatas untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK), namun di tengah perjalanan mendapat respons yang kurang baik dari masyarakat.

“Awalnya kita sosialisasikan untuk MCK, tetapi banyak mendapat penolakan. Jadi kita hentikan penyaluran air asin dan mengalirkan air baku yang tersedia secukupnya,” kata Yamin.

Untuk mengatasi kekurangan di wilayah terdampak, pemerintah menyiapkan distribusi air melalui mobil tangki. “Kalau ada kekurangan, nanti kita distribusikan dengan air tangki,” ujar dia.

Namun, Yamin menegaskan langkah tersebut hanya bersifat sementara. Banjarmasin membutuhkan sumber cadangan air agar tidak kembali menghadapi persoalan serupa ketika kemarau panjang terjadi.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Marcellus Widiarto

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.