Realisasi Investasi Melesat 7,2 Persen, Luar Jawa Jadi Magnet Baru Penanaman Modal

Kamis, 16 Jul 2026, 18:55 WIB

JAKARTA – Realisasi investasi tidak hanya diukur dari besarnya nilai modal yang masuk, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan lapangan kerja yang berkualitas.

Semakin besar investasi yang terserap pada sektor-sektor padat karya dan industri bernilai tambah, semakin besar pula dampaknya terhadap penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, dan penguatan daya beli.

Ket. Foto: Ilustrasi - Foto udara suasana proyek pembangunan Jalan Tol Semarang-Demak Seksi 1B di Semarang, Jawa Tengah. — Sumber: ANTARA FOTO/ Aprillio Akbartom.

Oleh karena itu, efektivitas kebijakan investasi perlu diarahkan tidak sekadar mengejar nilai investasi, tetapi juga memastikan investasi tersebut memberikan manfaat ekonomi yang luas melalui penciptaan kesempatan kerja yang berkelanjutan dan peningkatan produktivitas nasional.

Pemerintah mencatat realisasi investasi sepanjang semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, atau tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan mayoritas investasi terealisasi di luar Pulau Jawa, dan menyerap 1,4 juta pekerja.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/ Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani, dalam pernyataan pers di Kantor Presiden Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (16/7), mengatakan dengan capaian tersebut pemerintah telah meraih 49,5 persen dari target realisasi investasi tahun ini, yakni sebesar Rp2.041,3 triliun.

Dengan demikian, lanjut dia, realisasi investasi Indonesia berada di jalur yang tepat untuk mencapai target 2026.

Selain itu, dia juga menyebut realisasi investasi tersebut berhasil menyerap 1,44 juta tenaga kerja, meningkat 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Alhamdulillah, bisa saya sampaikan di sini, komitmen dari para investor untuk berinvestasi langsung di Indonesia masih 'in line' dengan target yang dicanangkan di 2026 ini," ujar Rosan.

Dia melanjutkan dari sisi persebaran wilayah, investasi di luar Pulau Jawa kembali mencatatkan porsi yang lebih besar dibandingkan Pulau Jawa, sejalan dengan upaya pemerataan pembangunan ekonomi.

Adapun realisasi investasi di Pulau Jawa mencapai Rp502,8 triliun atau sekitar 49,8 persen dari total investasi, sementara realisasi investasi di luar Pulau Jawa mencapai Rp507,8 triliun atau 50,2 persen dari total realisasi investasi.

Lebih lanjut, Rosan menjelaskan bahwa realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) pada periode Januari hingga Juni 2026 relatif berimbang.

Adapun realisasi PMDN mencapai Rp502,9 triliun atau 49,8 persen dari total realisasi investasi sepanjang semester I 2026, sementara realisasi PMA mencapai Rp507,6 triliun atau setara 50,2 persen dari total realisasi investasi.

Dari sisi asal investasi asing, Singapura masih menjadi investor terbesar di Indonesia sepanjang semester I 2026 dengan nilai investasi mencapai 8,8 miliar dolar AS, diikuti Hong Kong sebesar 7,6 miliar dolar AS, China 3,9 miliar dolar AS, Jepang 1,9 miliar dolar AS, dan Amerika Serikat 1,7 miliar dolar AS.

Kelima negara tersebut menyumbang sekitar 77,8 persen dari total PMA yang masuk ke Indonesia selama semester I 2026.

Rosan menegaskan capaian investasi tersebut menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia tetap terjaga meskipun dunia masih menghadapi ketidakpastian global.

"Di tengah tantangan geopolitik maupun geoekonomi dunia, alhamdulillah bisa saya sampaikan di sini bahwa komitmen dari para investor untuk berinvestasi langsung di Indonesia atau foreign direct investment ini masih in line dengan target yang dicanangkan oleh Bapak Presiden kepada kami untuk tahun 2026 ini," kata Rosan.

  • BKPM
  • realisasi investasi

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.