- Home
-
- Luar Negeri
-
- PBB Serukan AS dan Iran Ke...
PBB Serukan AS dan Iran Kembali ke Meja Perundingan, Diplomasi Dinilai Jadi Jalan Terbaik
Sabtu, 11 Jul 2026, 04:00 WIBWashington DC â Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerukan Iran, Amerika Serikat (AS), dan seluruh pihak terkait untuk melanjutkan perundingan secara konstruktif dan dengan itikad baik guna mencapai penyelesaian yang damai, menyeluruh, dan berkelanjutan atas isu nuklir Iran.
Dalam sidang Dewan Keamanan PBB di Washington DC, Jumat (10/7), Wakil Sekretaris Jenderal PBB Bidang Urusan Politik dan Pembangunan Perdamaian Rosemary DiCarlo menyampaikan pesan Sekretaris Jenderal PBB António Guterres yang menegaskan bahwa diplomasi tetap menjadi satu-satunya jalan yang layak ditempuh meskipun masih terdapat perbedaan pandangan mengenai program nuklir Teheran.
"Sekretaris Jenderal menyerukan seluruh pihak untuk terlibat secara konstruktif dan dengan itikad baik guna mencapai penyelesaian damai, menyeluruh, dan berkelanjutan atas isu nuklir Iran, sesuai tujuan Resolusi 2231 serta sasaran yang lebih luas untuk memperkuat perdamaian dan keamanan internasional," kata DiCarlo.
Ia menegaskan bahwa kerangka perundingan lanjutan tetap menjadi langkah penting untuk mencapai penyelesaian damai atas isu nuklir Iran.
Menurut DiCarlo, meskipun masih terdapat perbedaan yang cukup besar terkait implementasi Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2231 yang mengesahkan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) atau kesepakatan nuklir Iran 2015, seluruh pihak kembali menegaskan pentingnya solusi diplomatik dan menyatakan kesiapan melanjutkan dialog.
Ia juga menyoroti Nota Kesepahaman Islamabad yang disepakati Amerika Serikat dan Iran pada 17 Juni sebagai bukti bahwa jalur diplomasi masih terus berlangsung.
Nota kesepahaman tersebut mencakup penyelesaian pengelolaan persediaan material nuklir Iran yang telah diperkaya, pelaksanaan pengenceran tingkat pengayaan uranium di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA), serta kelanjutan pembahasan mengenai pengayaan uranium dan kebutuhan program nuklir sipil Iran.
DiCarlo juga mengungkapkan meningkatnya kekhawatiran terhadap kemampuan IAEA dalam memantau aktivitas nuklir Iran.
Mengutip laporan terbaru Sekretaris Jenderal PBB mengenai implementasi Resolusi 2231, ia menyebut IAEA belum dapat melaksanakan kegiatan verifikasi langsung di lapangan sesuai mekanisme pengamanan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) Iran.
Selain itu, IAEA mencatat penurunan signifikan dalam pengetahuan mengenai program nuklir Iran setelah serangan Amerika Serikat dan Israel yang dimulai pada 28 Februari.
"IAEA kini telah kehilangan kesinambungan informasi mengenai seluruh fasilitas nuklir Iran yang telah dideklarasikan. Kehilangan kesinambungan itu juga mencakup produksi dan inventaris terkini sentrifugal, rotor, bellow, air berat, serta konsentrat bijih uranium. Badan tersebut menilai pengetahuan itu tidak dapat dipulihkan," ujar DiCarlo.
Meski menghadapi berbagai tantangan, DiCarlo menegaskan diplomasi tetap menjadi pilihan terbaik untuk menyelesaikan sengketa mengenai program nuklir Iran.
"PBB siap memberikan dukungan terhadap upaya-upaya tersebut," katanya.
Nota Kesepahaman
Sementara itu, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mendesak Amerika Serikat dan Iran untuk menepati komitmen dalam Nota Kesepahaman Islamabad yang ditandatangani kedua negara pada bulan lalu.
Dalam percakapan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Jumat (10/7), Sharif meminta Iran dan seluruh pihak menahan diri serta menghindari tindakan yang dapat mengancam perdamaian yang telah dibangun melalui kesepakatan tersebut.
Dalam pernyataan resmi Kantor Perdana Menteri Pakistan, Sharif menyebut nota kesepahaman itu sebagai kerangka kerja jangka panjang untuk memperkuat saling pengertian, rasa saling menghormati, dan kemakmuran bersama di kawasan.
Ia juga menyampaikan keprihatinan atas meningkatnya ketegangan di Timur Tengah serta menekankan pentingnya memulihkan perdamaian dan stabilitas kawasan.
Sharif kembali menegaskan komitmen Pakistan untuk terus mendukung perdamaian regional dan menyatakan kesiapan negaranya menjadi fasilitator dialog serta mendukung setiap upaya menjaga stabilitas.
Menanggapi hal tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan apresiasi atas peran Pakistan dalam mendukung proses perdamaian, sekaligus menegaskan komitmen Iran terhadap penyelesaian konflik secara damai.
Kedua pemimpin juga meninjau pelaksanaan berbagai kesepakatan yang dicapai saat kunjungan Presiden Pezeshkian ke Islamabad bulan lalu dan sepakat mempercepat tindak lanjut kerja sama bilateral di berbagai bidang.
Selain itu, keduanya berkomitmen untuk terus menjaga komunikasi dan melanjutkan konsultasi mengenai berbagai isu yang menjadi kepentingan bersama, termasuk upaya menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan.
- Konflik AS-Iran
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Epic Comeback, Megawati dkk Bungkam Electric PLN dalam Drama 5 Set di Final Four Proliga 2026
-
Sabar/Reza Mengalahkan Pasangan Thailand untuk Melaju ke Babak Kedua
-
Penyelenggaraan Festival Book Fair 2026 di Perpustakaan Jawa Tengah
-
DPR Sambut Baik Pembebasan 9 WNI yang Ditahan Israel
-
Berhasil Diselamatkan, Kopilot Jet AS Dilarikan dari Iran ke Kuwait untuk Perawatan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.