Energi dari Laut, Bali Mulai Garap Potensi Arus Nusa Penida
Jumat, 10 Jul 2026, 18:40 WIBDENPASAR â Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL) menawarkan peluang besar untuk memperkuat bauran energi terbarukan Indonesia dengan memanfaatkan potensi arus laut yang stabil dan melimpah di wilayah kepulauan.
Berbeda dengan energi surya atau angin yang bergantung pada kondisi cuaca, arus laut cenderung lebih dapat diprediksi sehingga berpotensi menghasilkan pasokan listrik yang lebih konsisten.
Namun, pengembangannya masih menghadapi tantangan berupa tingginya biaya investasi awal, kesiapan teknologi, serta kebutuhan infrastruktur pendukung.
Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga riset menjadi faktor penting untuk mempercepat komersialisasi PLTAL sekaligus mendukung transisi menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali mulai membahas potensi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL) di Kawasan Selat Nusa Penida.
âSaya sudah menangkap idenya dan ini memang sangat kita perlukan, ternyata kita memiliki potensi besar, ini harus kita manfaatkan sebagai sumber penghidupan masyarakat Bali,â kata Gubernur Bali Wayan Koster di Denpasar, Jumat (10/7).
Wayan Koster menyampaikan PLTAL itu dalam Focus Group Discussion (FGD) Implementasi Penataan Ruang Laut Berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT), dimana ide ini digagas bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui kajian yang dilakukan Institut Teknologi Bandung (ITB) di bawah koordinasi Prof Dwi Susanto dari Maryland University yang melirik potensi EBT laut lewat PLTAL.
Gubernur Koster mengatakan bahwa Bali harus mandiri energi dan tidak bergantung dengan pasokan energi dari luar provinsi.
Ia menilai sangat riskan sebagai salah satu daerah tujuan wisata utama di dunia, Bali masih bergantung dengan daerah lain untuk memenuhi kebutuhan energinya.
Terlebih konsumsi energi di Bali terus meningkat setiap tahunnya akibat pertumbuhan industri dan pariwisata.
âBali harus mandiri energi dengan memanfaatkan energi bersih dan terbarukan,â ucapnya.
Kebutuhan energi listrik di Bali sendiri saat ini berkisar 1.300 MW hingga 1.400 MW, dimana 400 MW masih bergantung pada jaringan interkoneksi kabel bawah laut dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Paiton di Jawa Timur.
Untuk itu berbagai upaya dilakukan Pemprov Bali untuk mendorong visi Bali Mandiri Energi dengan pemanfaatan Energi Bersih dan Terbarukan sebagaimana diamanatkan dalam Pergub Bali Nomor 45 Tahun 2019 tentang Bali Energi Bersih.
Salah satunya adalah dengan akselerasi pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap secara massal pada gedung pemerintahan, bangunan komersial serta bangunan hotel dan industri lainnya.
Kemudian juga mendorong Pembangunan Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) guna mengatasi krisis sampah perkotaan sekaligus menambah bauran EBT dalam memenuhi kebutuhan listrik di Pulau Dewata.
Terbaru menggali potensi PLTAL, dimana Dirjen Penataan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan Kartika Listriana melalui sambungan zoom menyampaikan apabila upaya mendorong pemanfaatan EBT Laut. Ia berharap EBT laut sukses diterapkan di Pulau Dewata dapat selanjutnya diimplementasi di daerah lainnya di Indonesia.
Prof Dwi Susanto dari Maryland University USA sendiri menyebut bahwa selat-selat di Indonesia termasuk selat-selat di wilayah Nusa Penida memiliki potensi energi arus laut yang besar yang sangat cocok untuk dikembangkan menjadi PLTAL.
Potensi energi listrik yang dihasilkan dari tiga selat di sekitar Nusa Penida mencapai 376,8 MW.
âLebih dari cukup untuk menjadikan Nusa Penida mandiri energi, walaupun pembangunannya akan bersifat modular menyesuaikan dengan kebutuhan,â tuturnya.
- Nusa Penida
- Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL)
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.