Tiga Jurus Dongkrak Ekspor dari Kemendag
Rabu, 08 Jul 2026, 15:35 WIBJAKARTA â Peningkatan ekspor menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi karena mampu memperluas pasar bagi produk dalam negeri, meningkatkan penerimaan devisa, serta mendorong kapasitas produksi industri nasional.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, penguatan daya saing produk, diversifikasi pasar tujuan ekspor, dan peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi menjadi faktor penting agar kinerja ekspor tetap tumbuh secara berkelanjutan dan tidak bergantung pada komoditas maupun pasar tertentu.
Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengandalkan tiga strategi utama untuk meningkatkan nilai ekspor nasional sebagai upaya mendukung target pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Dirjen PEN) Kemendag Fajarini Puntodewi mengatakan strategi tersebut meliputi perluasan akses pasar ekspor, peningkatan daya saing eksportir, serta diversifikasi pasar dan produk ekspor.
"Strategi Kementerian Perdagangan berfokus pada tiga aspek utama," ujar Puntodewi dihubungi di Jakarta, Rabu (8/7).
Ia menjelaskan strategi pertama dilakukan dengan memperluas akses pasar ekspor melalui penyelesaian dan pemanfaatan berbagai perjanjian internasional. Langkah tersebut bertujuan agar produk Indonesia memperoleh tarif yang lebih kompetitif sekaligus membuka akses ke pasar yang lebih luas.
Saat ini, Indonesia telah memiliki 25 perjanjian dagang internasional. Beberapa di antaranya adalah Indonesia-United Arab Emirates Comprehensive Economic Partnership Agreement (IUAE-CEPA), ASEAN Free Trade Area (AFTA), Indonesia-Australia CEPA, Indonesia-Uni Eropa CEPA, Indonesia-Peru CEPA.
Selain itu, Indonesia-Gulf Cooperation Council Free Trade Agreement (Indonesia GCC FTA), Indonesia Korea CEPA, Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA), ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) serta ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Area (AANZFTA).
Strategi kedua, Kemendag berkomitmen meningkatkan daya saing eksportir, terutama usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), melalui berbagai program pendampingan ekspor, business matching, promosi dagang, serta penguatan kapasitas pelaku usaha agar mampu memenuhi standar pasar internasional.
Sementara itu, strategi ketiga dilakukan dengan mendorong diversifikasi pasar dan produk ekspor sehingga kinerja ekspor Indonesia tidak bergantung pada pasar maupun komoditas tertentu.
Menurut Puntodewi, implementasi ketiga strategi tersebut diharapkan mampu menjadikan ekspor sebagai salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus mendorong penciptaan lapangan kerja dan meningkatkan perolehan devisa negara.
Puntodewi juga menyampaikan Kemendag telah menyiapkan sejumlah langkah konkret untuk memperluas pasar ekspor agar kinerja ekspor tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.
Langkah pertama adalah mempercepat penyelesaian berbagai perjanjian perdagangan dengan negara-negara mitra strategis sekaligus mengoptimalkan implementasi perjanjian yang telah berlaku.
Kemendag juga memperkuat promosi dagang internasional melalui pameran, misi dagang, business matching, dan pemanfaatan platform digital agar eksportir Indonesia dapat menjangkau lebih banyak calon pembeli di pasar global.
Dalam pelaksanaan promosi tersebut, Kemendag mengoptimalkan peran 46 perwakilan perdagangan Indonesia yang terdiri atas Atase Perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) di berbagai negara.
Di sisi lain, Kemendag terus mendorong diversifikasi pasar ekspor dengan menyasar kawasan yang masih memiliki prospek pertumbuhan ekonomi tinggi, seperti Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin.
Langkah ini, kata Puntodewi, diharapkan dapat mengurangi ketergantungan ekspor Indonesia terhadap pasar-pasar tradisional seperti Amerika Serikat, Eropa, China, Jerman, Jepang, hingga Filipina.
"Kemendag terus memberikan informasi intelijen pasar dan pendampingan kepada pelaku usaha agar mampu merespons perubahan permintaan pasar global secara cepat," kata Puntodewi.
Berdasarkan data Kemendag, kinerja ekspor pada Mei 2026 tercatat 23,20 miliar dolar AS, turun 8,30 persen dibandingkan April 2026 dan turun 5,73 persen dibandingkan Mei 2025. Pelemahan secara bulanan tersebut dipengaruhi penurunan ekspor migas sebesar 34,38 persen dan ekspor nonmigas sebesar 7,05 persen secara bulanan.
Secara kumulatif Januari-Mei 2026, ekspor Indonesia mencapai 115,36 miliar dolar AS atau tumbuh 3,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut didorong oleh ekspor nonmigas yang meningkat 3,89 persen menjadi 110,19 miliar dolar AS, sementara ekspor migas tercatat sebesar 5,17 miliar dolar AS atau turun 12,71 persen.
- Ekspor
- Kemendag
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Lidah Warga Tiongkok Mulai Jatuh Hati pada Makanan Olahan RI
-
Pasar Latin Nggak Bisa Diabaikan Lagi: Cili Buktiin Dagang RI Naik 12% Pasca CEPA
-
Dorong Penerapan K3 dan MCU Berkala, BKKP Jalin Kerjasama dengan UPP Indramayu
-
Film "Pesta Babi" Picu Kontroversi, Ini Kata Menko Yusril
-
BINUS University Perkuat Talenta AI dan Keamanan Siber Indonesia
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.