Tak Sekadar Gaya, Kemenekraf Ingin Fesyen Jadi Penopang Pertumbuhan Ekonomi

Senin, 06 Jul 2026, 14:45 WIB

JAKARTA – Sektor fesyen nasional menjadi salah satu penggerak penting industri kreatif karena memiliki nilai tambah tinggi, daya serap tenaga kerja yang besar, serta potensi ekspor yang terus berkembang.

Di tengah perubahan tren dan persaingan global, pelaku usaha dituntut semakin adaptif dalam mengembangkan desain, memanfaatkan teknologi digital, serta mengedepankan keberlanjutan.

Ket. Foto: Ilustrasi-Gelaran mode Jakarta Fashion Week 2026 yang digelar di Jakarta, Senin (27/10/2025). — Sumber: ANTARA/Sri Dewi Larasati

Dengan dukungan inovasi dan penguatan merek lokal, industri fesyen Indonesia berpeluang memperluas pasar sekaligus meningkatkan daya saing di tingkat internasional.

Kementerian Ekonomi Kreatif/ Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) menggandeng Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) untuk memacu kontribusi sektor fesyen nasional sebagai penggerak ekonomi melalui penyelenggaraan Indonesia Fashion Week (IFW) 2026.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan momentum event ini dapat dimanfaatkan untuk membuka keran pasar internasional pada produk yang berpotensi mendatangkan ekspor.

"Dengan menyatukan program fasilitasi kementerian dan jejaring industri yang dimiliki IFW, kita bisa mempercepat inkubasi desainer lokal, standardisasi kualitas produk, hingga memetakan potensi ekspor fesyen kita ke negara-negara tujuan strategis," kata Riefky dalam keterangan yang diterima, Senin (6/7).

Riefky mengatakan sektor ini telah membuktikan posisinya sebagai pilar utama ekonomi kreatif dengan kontribusi sebesar 14,77 persen terhadap PDB ekonomi kreatif pada tahun 2025.

Selain mendominasi pasar domestik, subsektor fesyen juga menguasai pasar internasional dengan menyumbang 58,55 persen dari total ekspor ekonomi kreatif pada periode Januari–April 2026.

Kementerian Ekraf melihat penyelenggaraan IFW 2026 menjadi momentum krusial untuk memperkuat rantai pasok sekaligus mengukur dampak ekonomi nyata pada subsektor fesyen nasional.

Fokus penguatan ini berkaca pada capaian IFW tahun lalu yang melibatkan lebih dari 200 brand dan desainer serta 4.000 pekerja kreatif dengan total pengunjung mencapai 34.000 orang, serta lonjakan transaksi digital hingga 50 persen.

"Kementerian Ekraf akan mendukung penguatan kapasitas UMKM fesyen yang terlibat, sekaligus memperluas promosi demi menyukseskan acara ini. Bagaimanapun, fesyen bukan sekadar tren, melainkan pilar penting ekonomi kreatif nasional yang siap mendunia," ujar Riefky.

Gelaran IFW 2026 dijadwalkan berlangsung pada 29 Juli hingga 2 Agustus 2026 di JICC Senayan dengan mengusung tema 'Ulos Simetria' kekayaan wastra, budaya, dan kreativitas Sumatra Utara diangkat sebagai inspirasi utama.

IFW 2026 merupakan agenda tahunan yang mempertemukan seluruh ekosistem industri mode, mulai dari desainer, akademisi, produsen aksesoris, hingga investor dan pembeli.

Ajang yang diinisiasi oleh APPMI ini berkomitmen memfasilitasi pameran dagang, business matching, forum industri, hingga peragaan busana berbasis budaya Nusantara.

"Kami siap berjalan beriringan bersama kementerian untuk memperluas promosi produk kreatif dan membuka akses pasar yang lebih luas di tingkat internasional," ungkap Ketua Umum APPMI, Poppy Dharsono.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.