- Home
-
- Megapolitan
-
- Museum Bahari Angkat Suara...
Museum Bahari Angkat Suara Perempuan Muara Angke Lewat Pameran 'Suara dari Muara'
Minggu, 05 Jul 2026, 16:17 WIBJAKARTA â Selama ini, kehidupan masyarakat pesisir lebih sering dipandang melalui angka produksi perikanan, persoalan banjir rob, atau isu pencemaran laut. Namun, ada kisah lain yang jarang terdengar, yakni pengalaman sehari-hari perempuan yang hidup dan bertahan di kawasan pesisir. Kisah-kisah itulah yang kini dihadirkan dalam pameran Suara dari Muara di Museum Bahari, Jakarta.
Pameran yang berlangsung mulai 4 hingga 31 Juli 2026 tersebut menampilkan puluhan foto yang diambil sendiri oleh perempuan-perempuan Muara Angke. Melalui gambar-gambar itu, mereka menceritakan keseharian sebagai istri nelayan, pencari nafkah, pengelola rumah tangga, sekaligus penjaga kehidupan di kawasan pesisir Jakarta.
Berbeda dengan pameran fotografi pada umumnya, seluruh karya lahir melalui pendekatan Photovoice, sebuah metode partisipatif yang memungkinkan masyarakat mendokumentasikan pengalaman hidup mereka sendiri. Sebanyak 20 perempuan Muara Angke diberi ruang untuk memotret lingkungan, pekerjaan, keluarga, hingga hubungan mereka dengan laut yang menjadi sumber kehidupan.
Hasilnya bukan sekadar dokumentasi visual, melainkan rangkaian cerita yang memperlihatkan bagaimana perempuan pesisir menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ketidakpastian penghasilan, perubahan lingkungan, hingga harapan mereka terhadap masa depan kampung nelayan.
Pameran ini merupakan hasil kolaborasi antara Georgetown University School of Foreign Service in Asia-Pacific (GSAP), Museum Bahari, Yayasan Riset Visual mataWaktu, Institut Kesenian Jakarta (IKJ), dan Climate Reality Indonesia. Selain menghadirkan karya fotografi, pengunjung juga dapat menikmati instalasi seni, dokumentasi visual, serta berbagai narasi yang menggambarkan dinamika kehidupan masyarakat pesisir Jakarta.
Kurator pameran dari Yayasan Riset Visual mataWaktu, Gunawan Widjaja, mengatakan pendekatan Photovoice memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menjadi pencerita atas pengalaman mereka sendiri.
"Ketika masyarakat diberikan ruang untuk merekam dan menceritakan kehidupannya sendiri, yang lahir bukan sekadar dokumentasi visual, melainkan pengalaman yang mampu membangun empati. Suara dari Muara mengajak kita mendengar cerita langsung dari mereka yang menjalaninya setiap hari," ujarnya melaui siaran pers pada hari Minggu (5/7).
Menurut Gunawan, selama ini banyak cerita komunitas pesisir disampaikan oleh pihak luar. Melalui proyek ini, masyarakat justru menjadi subjek utama yang menentukan bagaimana mereka ingin dilihat dan dipahami publik.
Museum Bahari sebagai penyelenggara berharap pameran tersebut dapat memperluas cara pandang masyarakat terhadap warisan maritim Jakarta. Tidak hanya mengenai sejarah pelayaran atau perdagangan laut, tetapi juga tentang kehidupan masyarakat yang hingga kini bergantung pada laut.
Kepala Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta, Misari, mengatakan museum ingin menjadi ruang yang mempertemukan masyarakat dengan kisah-kisah yang tumbuh di kawasan pesisir.
"Melalui Suara dari Muara, kami mengajak pengunjung datang, mendengar, dan memahami pengalaman perempuan Muara Angke sebagai bagian dari warisan maritim yang terus hidup hingga hari ini," katanya.

Dari kiri, Misari - Kepala Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta, Nurweni - Perwakilan LMK (Lembaga Musyawarah Kelurahan Muara Angke), Elle Wibisono - Technical Director and Research Fellow at the Blue Lab (Georgetown SFS Asia Pacific), Arifah Handayani - Community Action Manager Climate Reality Indonesia, Adlien Fadila - Dekan Seni Rupa dan Desain IKJ), Gunawan Widjaja, Kurator Suara dari Muara (Yayasan Riset Visual mataWaktu). (Museum Bahari)
Selain rangkaian foto, pameran juga menghadirkan instalasi seni karya dosen Institut Kesenian Jakarta yang memanfaatkan limbah cangkang kerang hijau dari Muara Angke sebagai medium berkarya. Material yang selama ini dianggap tidak bernilai diolah menjadi karya seni yang merefleksikan hubungan erat masyarakat pesisir dengan lingkungan tempat mereka hidup.
Pengalaman pengunjung semakin lengkap melalui dokumentasi visual dari Climate Reality Indonesia yang memberikan gambaran mengenai berbagai tantangan yang dihadapi kawasan pesisir, termasuk dampak perubahan iklim terhadap kehidupan masyarakat.
Pembukaan pameran turut dimeriahkan dengan Pesta Rakyat yang menghadirkan jajanan tradisional, pertunjukan seni, serta berbagai aktivitas budaya khas kampung nelayan. Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan antara warga Muara Angke dengan masyarakat Jakarta.
Technical Director and Research Fellow di Blue Lab Georgetown SFS Asia Pacific, Prof. Elle Wibisono, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap masyarakat pesisir yang selama ini jarang memperoleh ruang untuk menyampaikan pengalaman mereka.
"Pesta Rakyat ini bukan hanya selebrasi pembukaan pameran, tetapi juga perayaan dari dan untuk masyarakat pesisir Jakarta yang sudah terlalu lama suaranya tidak didengar. Ketika kami mulai merancang proyek ini, kami tidak tahu seperti apa hasilnya. Namun para ibu Muara Angke telah menunjukkan kegigihan dan semangat yang luar biasa. Hari ini merupakan hari mereka," ujarnya.
Bagi para peserta, pameran ini menjadi kesempatan untuk memperlihatkan realitas kehidupan yang selama ini tersembunyi di balik aktivitas pelabuhan dan perdagangan hasil laut.
Nurweni, salah seorang peserta yang juga Ketua Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK) Muara Angke, berharap masyarakat dapat melihat kehidupan perempuan pesisir secara lebih utuh.
"Kami berharap melalui karya-karya ini, masyarakat dapat melihat kehidupan kami apa adanya. Di balik hasil laut yang mereka nikmati setiap hari, ada perjuangan, ketidakpastian, dan kerja keras yang sering kali tidak terlihat. Kami ingin suara dan pengalaman kami juga didengar," tuturnya.
Melalui pameran ini, Museum Bahari tidak hanya menghadirkan karya fotografi dan seni visual, tetapi juga membuka ruang dialog mengenai kehidupan masyarakat pesisir yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah dan perkembangan Jakarta.
Di tengah pesatnya pembangunan kawasan ibu kota, Suara dari Muara mengingatkan bahwa identitas maritim Jakarta tidak hanya tersimpan dalam bangunan bersejarah atau koleksi museum, melainkan juga hidup dalam keseharian masyarakat pesisir yang terus menjaga hubungan mereka dengan laut.
- muara angke
- Museum Bahari
- Jakarta
- Suara dari Muara
- Perempuan Pesisir
- Masyarakat Pesisir
- Photovoice
- Pameran Fotografi
- Seni Visual
- Warisan Maritim
- Kehidupan Nelayan
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Pramono Anung Klaim Jakarta Masuk 53 Kota Terbaik Dunia, Tapi 35 Persen Warga Belum Nikmati Akses Air Bersih
-
Tiongkok Dukung Upaya Normalisasi Selat Hormuz
-
Tak Hanya Perempuan, Laki-laki Juga Berisiko Terkena Kanker Terkait HPV
-
Trump Memperingatkan Gencatan Senjata Timur Tengah Berada dalam Kondisi Kritis dan Iran Menegaskan Siap Hadapi Agresi AS
-
Cuaca Jakarta Hari Ini Diprakirakan Berawan Tebal hingga Hujan Ringan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.