Padi yang Mampu Menangkap Nitrogen Sendiri Akhiri Penggunaan Pupuk Kimia
Kamis, 02 Jul 2026, 07:13 WIBLEBIHÂ dari enam dekade lalu, dunia menyaksikan lahirnya Revolusi Hijau yang mengubah wajah pertanian modern. Melalui benih unggul, irigasi, dan penggunaan pupuk sintetis dalam jumlah besar, produksi pangan meningkat drastis sehingga mampu menghindarkan banyak negara dari ancaman kelaparan massal.
Keberhasilan itu sayangnya menyisakan konsekuensi yang kini semakin sulit diabaikan. Ketergantungan terhadap pupuk nitrogen sintetis telah menjadi salah satu sumber persoalan lingkungan terbesar di sektor pertanian.
Tanah yang terus-menerus menerima pupuk kimia kehilangan keseimbangan biologisnya, sungai dan danau tercemar limpasan nutrisi, sementara proses produksi pupuk mengonsumsi energi fosil dalam jumlah sangat besar dan menghasilkan emisi gas rumah kaca yang signifikan.
Kini, para ilmuwan mulai melihat kemungkinan lahirnya revolusi baru bukan lagi dengan menambah pupuk ke tanah, melainkan dengan mengubah kemampuan dasar tanaman itu sendiri. Berkat kemajuan rekayasa genetika dan biologi molekuler, tanaman padi suatu hari nanti mungkin mampu memperoleh nitrogen secara mandiri dari udara, sesuatu yang selama jutaan tahun evolusi dianggap mustahil bagi tanaman serealia.
Jika teknologi ini berhasil diterapkan secara luas, dampaknya tidak hanya mengubah cara bertani, tetapi juga dapat menjadi salah satu inovasi terpenting dalam upaya menciptakan sistem pangan yang lebih berkelanjutan di tengah perubahan iklim.
Mengapa Nitrogen Sangat Penting bagi Tanaman?
Nitrogen merupakan unsur hara utama yang dibutuhkan tanaman untuk membentuk klorofil, protein, enzim, hingga materi genetik seperti DNA dan RNA. Tanpa nitrogen yang cukup, daun tanaman akan menguning, pertumbuhan terhambat, dan hasil panen menurun drastis.
Ironisnya, meski atmosfer Bumi mengandung sekitar 78 persen gas nitrogen (N2), tanaman tidak mampu memanfaatkannya secara langsung. Molekul nitrogen memiliki ikatan rangkap tiga yang sangat kuat sehingga hampir mustahil dipecah oleh tanaman.
Agar dapat diserap akar, nitrogen harus terlebih dahulu diubah menjadi amonia (NH3) atau nitrat (NO3), proses yang dikenal sebagai fiksasi nitrogen. Di alam, proses ini hanya dapat dilakukan oleh kelompok mikroorganisme tertentu yang memiliki enzim nitrogenase.
Sebagian bakteri hidup bebas di tanah, sementara sebagian lainnya menjalin hubungan simbiosis dengan tanaman legum seperti kedelai, kacang tanah, buncis, hingga semanggi. Bakteri terkenal dari kelompok ini adalah Rhizobium, yang membentuk bintil-bintil pada akar tanaman legum.
Di dalam struktur RIizobium, bakteri bekerja layaknya âpabrik pupuk alamiâ, mengubah nitrogen atmosfer menjadi amonia yang dapat digunakan tanaman. Sebagai imbalannya, tanaman memasok gula hasil fotosintesis sebagai sumber energi bagi bakteri.
Hubungan saling menguntungkan ini telah berkembang selama jutaan tahun evolusi. Sebaliknya, tanaman serealia seperti padi, jagung, gandum, sorgum, dan jelai tidak pernah mengembangkan kemampuan tersebut. Akibatnya, produksi pangan dunia selama ini sangat bergantung pada pupuk nitrogen sintetis.
Ketergantungan pada Pupuk Kimia
Sebagian besar pupuk nitrogen diproduksi melalui proses Haber-Bosch, teknologi yang dikembangkan pada awal abad ke-20. Dalam proses ini, nitrogen dari udara dipaksa bereaksi dengan hidrogen pada suhu sekitar 500 derajat Celsius dan tekanan sangat tinggi untuk menghasilkan amonia. Proses ini memang menjadi fondasi pertanian modern, tetapi juga memiliki biaya lingkungan yang sangat besar.
Industri pupuk nitrogen diperkirakan mengonsumsi sekitar 1â2 persen total energi dunia dan menyumbang emisi karbon dalam jumlah besar karena masih bergantung pada gas alam sebagai bahan baku utama. Namin masalah tidak berhenti ketika pupuk diaplikasikan ke sawah.
Tanaman sebenarnya hanya mampu menyerap sebagian nitrogen yang diberikan. Sisanya hilang melalui pencucian tanah, menguap ke atmosfer, atau terbawa aliran air menuju sungai, danau, hingga wilayah pesisir.
Fenomena ini memicu eutrofikasi, yaitu ledakan pertumbuhan alga akibat kelebihan nutrisi di perairan. Ketika alga mati dan terurai, oksigen di dalam air habis sehingga menyebabkan kematian ikan serta merusak ekosistem perairan.
Sebagian nitrogen yang tertinggal di tanah juga diubah oleh mikroorganisme menjadi dinitrogen oksida (N2O), gas rumah kaca yang memiliki potensi pemanasan global hampir 300 kali lebih kuat dibanding karbon dioksida dalam rentang waktu 100 tahun.
Dengan populasi dunia yang diperkirakan mendekati 10 miliar jiwa pada pertengahan abad ini, kebutuhan pupuk diperkirakan terus meningkat apabila tidak ada terobosan teknologi baru. hay
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.