Korban Tewas Gempa Venezuela Capai 1.430 Orang, Puluhan Ribu Masih Hilang dan Operasi Penyelamatan Berlanjut

Senin, 29 Jun 2026, 02:40 WIB

VENEZUELA – Tim penyelamat terus berpacu dengan waktu pada Minggu (28/6) untuk mencari korban yang masih selamat di antara puing-puing bangunan akibat gempa bumi dahsyat yang mengguncang Venezuela. Jumlah korban tewas telah mencapai 1.430 orang, sementara harapan menemukan korban selamat semakin menipis setelah lebih dari tiga hari sejak bencana terjadi.

Puluhan ribu orang dilaporkan masih hilang setelah banyak bangunan runtuh di berbagai kota di negara yang sebelumnya telah dilanda krisis ekonomi dan gejolak politik menyusul penangkapan mantan presiden Nicolas Maduro oleh pasukan Amerika Serikat (AS) pada Januari lalu.

Ket. Foto: Korban tewas dilaporkan mencapai 1.430 orang, sementara puluhan ribu orang dilaporkan masih hilang. — Sumber: AFP

Jutaan warga juga diperkirakan kekurangan akses terhadap sanitasi serta kebutuhan dasar lainnya.

Para ahli menyebut 72 jam pertama setelah bencana alam merupakan periode paling krusial untuk menemukan korban yang masih hidup. Setelah itu, operasi pencarian umumnya beralih menjadi upaya evakuasi jenazah.

Seorang anggota tim penyelamat asal El Salvador yang enggan disebutkan namanya mengatakan, "Pada tahap ini kemungkinan besar yang akan ditemukan adalah jenazah. Namun, syukur kepada Tuhan, mungkin masih ada korban yang bisa ditemukan dalam keadaan hidup."

Meski demikian, secercah harapan masih muncul ketika seorang bocah laki-laki berusia 11 tahun berhasil diselamatkan dari reruntuhan di Caraballeda, wilayah utara Caracas, pada Sabtu (27/6), tiga hari setelah dua gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang negara itu, kata pemimpin sementara Delcy Rodriguez.

"Setiap nyawa adalah sumber harapan bagi Venezuela," tulis Rodriguez di platform X sambil mengunggah video proses penyelamatan tersebut.

Menghadapi kemarahan publik terhadap lambannya respons pemerintah daerah, Rodriguez menyampaikan apresiasi kepada berbagai negara yang telah mengirimkan bantuan kemanusiaan.

Sebanyak 24 negara telah mengirimkan 521 ton bantuan, 86 unit anjing pelacak, serta lebih dari 2.700 personel pencarian dan penyelamatan, katanya.

Kepala bantuan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Tom Fletcher, mengatakan kepada AFP pada Jumat bahwa jumlah korban tewas masih berpotensi terus bertambah. Ia juga menyebut lebih dari 50.000 orang masih dinyatakan hilang.

Di berbagai lokasi, warga yang putus asa ikut menggali puing-puing bangunan dengan tangan untuk mencari korban yang tertimbun setelah dua gempa yang terjadi pada Rabu.

"Situasinya benar-benar kacau, panas, dan tidak terorganisasi," kata petugas pemadam kebakaran asal Australia, Craig Demeillon (43), yang datang sendiri dari Miami ke La Guaira untuk membantu operasi penyelamatan.

"Kami berharap masih ada korban yang bisa ditemukan hidup," ujarnya.

Bayi Berhasil Diselamatkan

Kabar menggembirakan datang dari wilayah pesisir La Guaira, daerah yang paling parah terdampak gempa, ketika warga berhasil menyelamatkan seorang bayi dari reruntuhan pada Jumat.

Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, seorang pria tampak menangis haru sambil menggendong bayi tersebut.

Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) menyatakan berdasarkan analisis data populasi dan tingkat kerusakan, hingga 6,76 juta orang diperkirakan terdampak bencana dan membutuhkan tempat tinggal darurat, air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, perlindungan, serta bantuan kemanusiaan lainnya.

Ketua Majelis Nasional Jorge Rodriguez melaporkan pada Sabtu bahwa korban tewas mencapai 1.430 orang, sementara 3.238 orang mengalami luka-luka.

PBB memperkirakan kerusakan fisik akibat gempa mencapai sekitar 110 miliar bolivar (sekitar 6,7 miliar dolar AS), setara dengan sekitar enam persen produk domestik bruto (PDB) Venezuela.

Korban meninggal dunia dari warga negara asing yang telah teridentifikasi meliputi 28 warga Portugal, sembilan warga Spanyol, tujuh warga Tiongkok, dua warga Brasil, masing-masing satu warga Cile, Italia-Venezuela, dan Uruguay.

Relawan Keluhkan Perizinan

Warga Venezuela yang telah bertahun-tahun menghadapi krisis ekonomi dan ketidakstabilan politik mengaku kecewa terhadap respons pemerintah dalam menangani bencana.

Yessica Mendoza harus membawa sendiri jenazah putrinya ke kamar jenazah di Caracas setelah Yesimar Rodriguez (25) dan suaminya, Jhomel Anaya (26), meninggal akibat tertimpa reruntuhan rumah mereka di La Guaira.

"Kami sendiri yang mengeluarkan mereka dari reruntuhan. Tidak ada bantuan yang datang," ujar Mendoza.

Ia menambahkan pasangan tersebut harus segera dikremasi tanpa upacara penghormatan karena kondisi jenazah yang cepat membusuk.

Pemerintah Venezuela membatasi akses menuju Negara Bagian La Guaira, mengerahkan militer, serta mewajibkan para relawan memperoleh izin khusus sebelum memasuki wilayah terdampak.

Kebijakan tersebut memicu kemarahan para relawan yang harus mengantre berjam-jam untuk mendapatkan izin.

"Bayangkan, untuk menyelamatkan nyawa saja harus punya izin," keluh Carlos Itriago (27).

"Saya sudah antre sejak subuh supaya bisa ikut menyelamatkan korban. Lihat sekarang sudah jam berapa... entah sudah berapa banyak nyawa yang hilang," kata Ezequiel Rivero (53).

Krisis Memperburuk Gempa

Rodriguez mengatakan dirinya telah berbicara dengan Presiden AS Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, yang kembali menegaskan komitmen Washington dalam membantu penanganan bencana.

AS menyatakan salah satu landasan pacu di Bandara Internasional Simon Bolivar telah kembali beroperasi sebagian untuk menerima pesawat militer AS, sementara sebuah kapal angkatan laut juga telah tiba di lepas pantai Venezuela.

Sebelumnya, AS mengumumkan pengiriman lebih dari 250 personel bantuan bencana, termasuk tiga tim pencarian dan penyelamatan khusus yang dilengkapi anjing pelacak.

Gempa bumi terburuk yang melanda Venezuela dalam lebih dari satu abad itu terjadi ketika negara kaya minyak tersebut masih berjuang keluar dari krisis ekonomi berkepanjangan selama lebih dari satu dekade.

Krisis tersebut telah melemahkan sistem layanan kesehatan dan pelayanan publik serta memaksa jutaan warga meninggalkan negaranya.

  • Gempa Venezuela

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.