- Home
-
- Luar Negeri
-
- Siklus Ketidakpastian: Pen...
Siklus Ketidakpastian: Pengungsi Lebanon Hadapi Tantangan Baru
Minggu, 28 Jun 2026, 23:14 WIBBEIRUT - Saat layar televisi menayangkan penandatanganan perjanjian kerangka kerja yang dimediasi Amerika Serikat (AS) antara Lebanon dan Israel di Washington, Abu Ali Jalal Awada duduk terdiam di apartemen sederhana di Lebanon selatan, tempat keluarganya tinggal sejak mengungsi dari kota perbatasan Khiam.
Dia nyaris tidak memedulikan pidato-pidato yang disampaikan dalam acara yang oleh para pejabat disebut sebagai tonggak penting diplomasi. Sebaliknya, pikirannya tertuju pada sebuah tempat yang berjarak hampir 30 km dari lokasi itu, rumah yang terpaksa dia tinggalkan beberapa bulan lalu.
"Apakah penderitaan kami benar-benar telah berakhir?" tanya Awada. "Akankah semua pihak mematuhi kesepakatan ini, atau justru akan muncul perselisihan dalam pelaksanaannya?"
Bagi Awada, kesepakatan tersebut bukan sekadar dokumen politik. Kesepakatan itu merupakan peluang untuk kembali menjalani kehidupan yang terpaksa dia tinggalkan.
Harapan Awada mencerminkan harapan ribuan warga yang mengungsi di seluruh wilayah Lebanon selatan. Bagi banyak dari mereka, kesepakatan tersebut menandai dimulainya sebuah ujian, yakni apakah diplomasi mampu memulihkan keamanan, memungkinkan keluarga-keluarga kembali ke rumah, dan menghidupkan kembali komunitas yang porak-poranda.
Kesepakatan kerangka kerja yang ditandatangani pada akhir putaran terbaru perundingan tingkat duta besar di Washington DC, pada Jumat (26/6), kembali menyerukan implementasi gencatan senjata yang rapuh antara kedua negara di Timur Tengah tersebut. Namun, bagi sebagian warga lainnya, kehilangan yang mereka alami tidak hanya sebatas rumah dan mata pencaharian.
Namun, bagi banyak warga Lebanon selatan, perhatian kini telah beralih dari seremoni penandatanganan menuju bagaimana kesepakatan tersebut akan diterapkan di lapangan dalam beberapa hari dan bulan mendatang.
Di sepanjang wilayah perbatasan, berbagai tantangan yang dihadapi masih sangat besar. Puluhan kawasan mengalami kerusakan parah akibat konflik, dengan rumah-rumah, jalan, sekolah, serta jaringan air dan listrik hancur atau rusak berat.
Saat ini, sejumlah area di Lebanon selatan, termasuk Kfar Kila, Adaisseh, dan Mays al-Jabal, masih dipenuhi kerusakan luas. Sejumlah lingkungan permukiman berubah menjadi reruntuhan, sementara infrastruktur yang rusak dan layanan publik yang terbatas terus menghambat kepulangan keluarga-keluarga yang mengungsi.
Bagi Hazem Farhat (60), yang mengungsi dari Dibbine ke Ain Qenia di Distrik Hasbaya, Lebanon selatan, kembali ke rumah jauh lebih penting daripada bahasa politik yang tertuang dalam kesepakatan tersebut.
"Apa yang kami inginkan sederhana," ujarnya. "Kami ingin kembali ke rumah dan tanah kami. Kami berharap kesepakatan ini dapat mewujudkannya dan memulai proses rekonstruksi yang nyata agar kami bisa membangun kembali kehidupan dan menjamin masa depan anak-anak kami."
Warga lainnya mengatakan pengalaman telah mengajarkan mereka untuk menyikapi optimisme dengan hati-hati.
Salwa Hamid, pengungsi lainnya, mengatakan bahwa berbagai inisiatif sebelumnya gagal menghadirkan stabilitas yang berkelanjutan. "Kami sudah berkali-kali mendengar tentang berbagai kesepakatan. Yang penting saat ini adalah melihat perubahan nyata di lapangan, bukan sekadar janji," ujarnya.
Kekhawatiran tersebut kembali mengemuka pada Sabtu (27/6) menyusul serangan baru. Menurut Kantor Berita Nasional Lebanon (National News Agency/NNA), sebuah drone Israel menyerang sebuah persimpangan di Kota Nabatieh al-Fawqa, Lebanon selatan, sementara drone lainnya menjatuhkan granat kejut di dekat pinggiran Kota Kfar Tebnit.
Bagi banyak keluarga, kembali ke rumah juga berarti memulihkan mata pencaharian yang hilang akibat konflik.
Di Kota Daher al-Ahmar, Lebanon timur, petani yang mengungsi, Jamal Dhib, memanen aprikot di kebun milik seorang warga setempat yang telah menampung keluarganya sejak mereka meninggalkan desa asal akibat konflik.
"Perang tidak hanya merenggut rumah kami, tetapi juga sumber mata pencaharian kami," ujarnya. "Tanah adalah kehidupan kami. Hanya jika tanah itu dipulihkan dan kembali bisa digarap, barulah kesepakatan apa pun akan benar-benar bisa mengubah kenyataan yang kami hadapi. Yang paling kami inginkan adalah kembali ke ladang kami."
Namun, bagi sebagian warga lainnya, kehilangan yang mereka alami tidak hanya sebatas rumah dan mata pencaharian.
Di tempat tinggal sementaranya di Kota Al-Rafid, Lebanon timur, Najla Hamdan (50) menggenggam foto kedua putranya yang tewas dalam konflik tersebut.
"Tidak ada kesepakatan yang dapat menggantikan kehilangan anak-anak saya," ujarnya. "Namun, saya berharap kesepakatan ini dapat mencegah keluarga lain mengalami penderitaan yang sama dan memungkinkan warga kembali ke desa mereka dengan aman."
Di luar kisah masing-masing, banyak warga mengajukan pertanyaan yang sama, yakni apakah kesepakatan tersebut benar-benar akan membawa perubahan yang berarti.
Dosen universitas Hossam Moussa meyakini bahwa pada akhirnya warga akan menilai kesepakatan tersebut berdasarkan perubahan nyata yang dibawanya dalam kehidupan sehari-hari mereka.
"Orang-orang di wilayah selatan tidak lagi hanya melihat pernyataan-pernyataan politik," ujarnya. "Mereka ingin melihat keluarga-keluarga yang mengungsi kembali ke rumah, proyek-proyek rekonstruksi mulai berjalan, sektor pertanian pulih, serta sekolah dan pusat layanan kesehatan kembali dibuka. Itulah tolok ukur yang akan mereka gunakan untuk menilai kesepakatan ini." Ant
Redaktur: Koran Jakarta
Penulis: Deri Henriawan
Berita Terkait:
-
Upaya Pemerintah Provinsi Jambi Kembangkan Ekonomi Hijau
-
China Beri Akses Dagang Bebas Tarif ke 53 Negara Afrika Mulai Mei 2026
-
Gempa Bumi M6,2 Mengguncang Hokkaido Jepang Senin Pagi, Tak Berpotensi Tsunami
-
Pengembang Perumahan Perluas Operasi Katarak Gratis ke Bogor, 126 Pasien Terima Manfaat
-
Resmi Dibuka, DXI 2026 Perkuat Ekosistem Olahraga Petualangan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.