Stop! Kecanduan Pupuk Kimia Harus Diakhiri, Beralih ke Organik Sebelum Terlambat
Senin, 29 Jun 2026, 00:00 WIBIndonesia harus segera beralih ke penggunaan pupuk organik demi menjaga kesuburan lahan, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, dan mewujudkan pertanian berkelanjutan.
JAKARTA â Indonesia perlu mempercepat adopsi pupuk organik sebagai bagian dari transformasi menuju pertanian yang lebih berkelanjutan. Fokus pada peningkatan produksi semata tanpa diimbangi perbaikan kualitas tanah berisiko menurunkan kesuburan lahan dan produktivitas dalam jangka panjang.
Pemanfaatan pupuk organik dapat membantu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kandungan bahan organik, serta mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Dengan begitu, produktivitas pertanian tetap terjaga sekaligus mendukung ketahanan pangan yang berkelanjutan.
Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo mendorong Indonesia mengikuti tren global penggunaan pupuk organik untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk anorganik yang dinilai dapat menurunkan kesuburan tanah jika digunakan secara berlebihan. Menurutnya, pengembangan pupuk organik mampu memulihkan kualitas lahan, meningkatkan produktivitas pertanian, menghemat penggunaan pupuk urea, serta mendukung sistem pertanian yang lebih berkelanjutan.
âKalau pupuk organik bisa dikembangkan dan ditingkatkan, maka ada pemulihan lahan, tingkat produksi bisa meningkat, dan penggunaan pupuk urea dapat dihemat,â jelasnya dikutip dari laman resmi DPR RI, akhir pekan lalu.
Dia juga menekankan pentingnya langkah ini agar Indonesia mampu memenuhi tuntutan pasar global terhadap produk pangan berkelanjutan dan tidak tertinggal dari negara lain. Firman berharap pemerintah dan industri pupuk nasional memperkuat pengembangan pupuk organik sebagai bagian dari strategi menjaga produktivitas pertanian dan ketahanan pangan nasional
Secara terpisah, Akademisi Fakultas Pertanian Universitas Warmadewa (Unwar) Denpasar, I Nengah Muliarta melihat tantangan besar dari sisi agroekosistem. Penggunaan pupuk kimia secara terus menerus akan mengurangi kesuburan lahan. Paradigma intensifikasi konvensional dengan pupuk kimia sintetis berlebihan sudah memicu soil fatigue atau kejenuhan tanah.
âTantangan produktivitas saat ini tidak lagi sekadar urusan meningkatkan angka tonase panen, melainkan bagaimana cara memproduksi pangan tanpa merusak sumber daya alam (SDA). Sebagian besar lahan sawah intensif kini kehilangan kesuburan alaminya karena kadar bahan organik yang merosot tajam,â jelasnya.
Solusinya, kata dia, beralih ke pertanian berkelanjutan input rendah atau LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture) melalui langkah konkret yakni memaksimalkan limbah pertanian. âMengembalikan jerami sisa panen ke dalam tanah menggunakan mikroba dekomposer, guna memperbaiki struktur biologi tanah dan memulihkan ekosistem lahan secara mandiri," tegasnya.
Pangkas Regulasi
Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto mengapresiasi penyederhanaan tata kelola pupuk bersubsidi melalui pemangkasan 145 regulasi yang dinilai mempercepat distribusi sehingga pupuk dapat diterima petani tepat waktu. Selain itu, kebijakan penurunan harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen dinilai mampu meringankan beban petani dan mendorong peningkatan produktivitas menuju swasembada pangan.
âIni (pemberian diskon) sangat membantu bagi petani-petani dan petani lebih bergairah lagi untuk bercocok tanam dalam rangka kita segera swasembada pangan ini,â jelas ujar Siti Hediati saat kunjungan kerja Komisi IV DPR RI ke PT Pupuk Kujang, Karawang, Jawa Barat, Jumat (26/6).
Komisi IV juga menekankan pentingnya pengawasan penyaluran pupuk agar tepat sasaran, sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET), serta penguatan akurasi data petani melalui sistem elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK) dengan dukungan aktif penyuluh pertanian dalam proses pendataan dan edukasi kepada petani.
âIni diperlukan peran daripada penyuluh-penyuluh itu untuk memberikan edukasi kepada para petani bagaimana cara mengisi dan memasukkan data-data di e-RDKK ini,â tegasnya.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.