Mendagri Minta Pemkab Belu Lestarikan Desa Adat Matabesi Sebagai Warisan Budaya

Minggu, 28 Jun 2026, 17:40 WIB

JAKARTA - Menteri Dalam Negeri mendorong pelestarian Desa Adat Matabesi di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), agar terus dikembangkan sebagai warisan budaya sekaligus destinasi wisata. Menurutnya, desa adat tersebut memiliki nilai sejarah, budaya, dan kearifan lokal yang masih terjaga di tengah perkembangan zaman.

Saat mengunjungi Desa Adat Matabesi, Minggu (28/6), Menteri Dalam Negeri mengaku terkesan dengan keaslian kawasan tersebut. Ia menilai desa adat itu memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari destinasi budaya lainnya di Indonesia.

Ket. Foto: Menteri Dalam Negeri mendorong pelestarian Desa Adat Matabesi di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), agar terus dikembangkan sebagai warisan budaya sekaligus destinasi wisata. Menurutnya, desa adat tersebut memiliki nilai sejarah, budaya, dan kearifan lokal yang masih terjaga di tengah perkembangan zaman. — Sumber: Kemendagri

"Kali ini saya lihat ada sesuatu yang lain di sini. Jadi mirip-mirip dengan Wae Rebo, tapi punya kekhasan sendiri, sejarah sendiri. Kalau di sana harus jalan dua jam katanya. Di sini naik mobil langsung jadi. Artinya kemudahan untuk turis lebih mudah," katanya.

Menurutnya, keberadaan rumah adat yang telah bertahan selama ratusan tahun serta lingkungan yang masih asri menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Kondisi tersebut dinilai menjadi modal penting untuk mengembangkan Desa Adat Matabesi sebagai tujuan wisata berbasis budaya dan sejarah.

Ia menambahkan, sejarah Desa Adat Matabesi perlu terus digali dan didokumentasikan agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga pemahaman masyarakat terhadap akar budaya dan tradisi yang telah hidup selama berabad-abad.

Menteri Dalam Negeri juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Belu yang dinilai konsisten menjaga keberlangsungan desa adat tersebut. Menurutnya, pelestarian budaya membutuhkan komitmen kuat dari pemerintah daerah dan masyarakat setempat.

"Saya berterima kasih, apresiasi saya kepada Pak Bupati yang melestarikan tempat ini. Makasih, Pak, hanya yang punya passion yang mau begini," ujarnya.

Dalam kunjungan itu, Menteri Dalam Negeri turut meninjau pembangunan Museum Fohorai yang berada di kawasan Desa Adat Matabesi. Ia menilai museum tersebut memiliki potensi besar menjadi pusat edukasi budaya apabila dilengkapi dengan koleksi yang menggambarkan kehidupan masyarakat adat secara menyeluruh.

Menurutnya, koleksi museum tidak hanya dapat menampilkan tenun tradisional, tetapi juga sejarah masyarakat, sistem pertanian, peternakan, hingga berbagai aktivitas ekonomi dan budaya yang berkembang di kawasan tersebut. Dengan demikian, museum dapat menjadi sarana pembelajaran sekaligus pelestarian sejarah lokal.

Menteri Dalam Negeri menegaskan bahwa keberhasilan menjaga budaya tidak terlepas dari peran para tetua adat dan masyarakat yang tetap mempertahankan nilai-nilai warisan leluhur. Di tengah modernisasi, menurutnya, budaya lokal tetap dapat hidup berdampingan dengan perkembangan zaman.

"Saya memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada tetua-tetua adat yang ada di sini. Masyarakat adat yang ini. Di tengah-tengah kehidupan modern. Kita tidak harus berganti dengan modern. Tapi kita bisa mempertahankan dan banyak filosofi-filosofi di masa lalu yang dipertahankan," ungkapnya.

Ia kemudian membagikan pengalamannya saat berkunjung ke Hawaii yang menurutnya telah kehilangan banyak desa adat akibat modernisasi. Jejak budaya asli di wilayah tersebut kini lebih banyak ditampilkan sebagai atraksi wisata dibandingkan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.

Karena itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian budaya. Menurutnya, Desa Adat Matabesi dapat menjadi contoh bagaimana modernisasi tetap berjalan tanpa menghilangkan identitas dan akar budaya masyarakat.

"Kita tetap melakukan modernisasi di titik tertentu, tapi di bagian tertentu harus kita jaga seperti ini. Supaya menjadi objek, salah satu objek wisata, dan juga menjadi monumen bersejarah yang itu akan berguna untuk anak cucu kita. Biar dia tahu di mana grassroot-nya," pungkasnya.

Kunjungan tersebut turut dihadiri Gubernur NTT , Bupati Belu , Ketua Umum TP PKK Tri Tito Karnavian, jajaran TP PKK Provinsi NTT dan Kabupaten Belu, serta para kepala suku dan masyarakat adat Matabesi.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.