Durian Sulteng Dibidik Jadi Komoditas Ekspor Andalan, Kementan Turun Tangan
Rabu, 12 Agu 2026, 17:20 WIBPALU â Keberlanjutan ekspor produk unggulan daerah penting untuk memastikan potensi lokal tidak berhenti sebagai komoditas sesaat, tetapi mampu menjadi sumber pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Konsistensi kualitas, inovasi, hilirisasi, dan pemenuhan standar pasar global menjadi kunci agar produk daerah memiliki daya saing sekaligus memberi nilai tambah bagi pelaku usaha dan masyarakat.
Penguatan ekspor juga perlu berbasis data dan diversifikasi pasar agar daerah tidak terlalu rentan terhadap perubahan permintaan global.
Kementerian Pertanian (Kementerian) berkomitmen membantu pemerintah daerah (pemda) melakukan pengembangan kawasan pertanian komoditas durian di Sulawesi Tengah (Sulteng) guna menunjang keberlanjutan ekspor produk unggulan daerah.
"Kami telah mengirimkan 14 ribu batang bibit durian bersertifikat sebagai bagian dari upaya percepatan pengembangan kawasan durian di Sulteng," kata Direktur Buah dan Florikultura Dirjen Hortikultura Kementan Fausiah T Ladja saat menghadiri acara Merdeka Ekspor Durian Sulteng 2026 di Kota Palu, Rabu (12/8).
Ia menjelaskan bantuan bibit tahap pertama untuk kebutuhan lahan seluas 140 hektare tersebar di wilayah-wilayah sentra durian di provinsi itu yakni Kabupaten Parigi Moutong, Poso, Tojo Una-una, Tolitoli, Sigi dan Donggala.
Yang mana program paket pengembangan kawasan durian di Dirjen Hortikultura tidak hanya alokasi bantuan bibit, tetapi juga dilengkapi dengan sarana produksi berupa pupuk organik.
"Informasi kami terima dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) 14 ribu bibit dan 210 kilogram pupuk organik sudah tiba di Sulteng," ujarnya.
Menurut dia letak geografis Sulteng sangat potensial untuk pengembangan komoditas hortikultura, khususnya durian sehingga cocok menjadi sumber sentra pengekspor durian dalam negeri.
"Durian menjadi sumber ekonomi baru bagi daerah maupun ekonomi nasional. Kami berharap bantuan yang telah diberikan kepada petani dijaga dan dirawat, supaya bisa memberikan manfaat kesejahteraan," ucap Fausiah.
Saat ini Sulteng telah melakukan kegiatan ekspor durian beku (frozen) jenis Montong ke China melalui Pelabuhan Pantoloan Palu.
Menurut data Badan Karantina Indonesia (Barantin) sejak Januari hingga Juli 2026 ekspor durian beku ke negeri tirai bambu sebanyak 272 kontainer dengan jumlah 7.344 ton.
Setiap kontainer memuat sekitar 27 ton durian beku, dengan nilai komoditas mencapai sekitar Rp2,5 miliar hingga Rp2,8 miliar per kontainer.
"Indonesia merupakan salah satu produsen durian terbesar di Asia Tenggara. Rata-rata produksi 1,8 juta ton per tahun dengan luas panen sekitar 105 ribu hektare. Kami berharap Sulteng mampu menopang jumlah produksi nasional ke depan," kata dia menuturkan.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Emisi Mau Turun 43%? KKP Ungkap Peran Penting Carbon Capture Storage di Laut
-
Kodam XV/Pattimura Siapkan Lahan 5 Hektare untuk Groundbreaking PSN Blok Masela.
-
Prabowo Angkat Amran Sulaiman Jadi Kepala Bapanas dalam Keppres Baru
-
PSIM Yogyakarta Lepas Penyerang Asingnya, Deri Corfe
-
Harga Emas Antam Naik Tipis Rp2.000 Jadi Rp2,711 Juta/Gr pada Sabtu Pagi Ini
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.