Bappenas Dorong Investasi Hijau Rp32 Triliun Lewat Program GIFT 2026-2030

Rabu, 12 Agu 2026, 16:25 WIB

Jakarta - Direktur Lingkungan Hidup Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Nizhar Marizi menyatakan tujuan Green Indonesia Future Initiative (GIFT) untuk menjadi instrumen yang memperkuat prioritas nasional.

GIFT merupakan program kerja sama Bappenas bersama Global Green Growth Institute (GGGI) yang menargetkan investasi hijau senilai dua miliar dolar AS untuk periode 2026-2030 guna mempercepat transformasi ekonomi rendah karbon di Indonesia.

Ket. Foto: Direktur Lingkungan Hidup Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Nizhar Marizi dalam Podcast Bappenas bertema “Green Indonesia Future Initiative (GIFT): Mempercepat Transformasi Ekonomi Hijau Indonesia" di Jakarta, Selasa (11/8). — Sumber: Antara

“Jadi memang tujuannya supaya kerja sama ini benar-benar menjadi instrumen yang memperkuat prioritas nasional dan tidak sebagai proyek yang kemudian berjalan sendiri,” ucapnya dalam Podcast Bappenas bertema “Green Indonesia Future Initiative (GIFT): Mempercepat Transformasi Ekonomi Hijau Indonesia,” Jakarta, Rabu (12/8).

Dia menekankan bahwa GIFT tidak berdiri sendiri di luar sistem perencanaan pembangunan nasional Indonesia, tetapi justru dirancang sebagai salah satu bentuk untuk mendukung pencapaian target prioritas pembangunan yang terkait kemandirian bangsa melalui implementasi ekonomi hijau.

Dua indikator yang sudah disepakati dan telah ada di dalam dokumen perencanaan terkait ekonomi hijau yaitu penurunan intensitas emisi gas rumah kaca menuju emisi nol karbon dan indeks ekonomi hijau.

Dalam konteks ini, GIFT sudah dirancang sebagai kegiatan yang mendukung Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, yang progres dampaknya dapat dimonitor dari indikator-indikator terkait ekonomi hijau.

Nizhar menyampaikan Country Planning Framework (CPF), yaitu dokumen rencana kerja strategis lima tahunan yang dibuat bersama oleh GGGI dan Indonesia melalui Bappenas untuk memandu kerja sama pembangunan berkelanjutan dan pertumbuhan hijau, sudah ditandatangani oleh kedua belah pihak.

Bappenas dan GGGI juga bersepakat menyusun CPF mengacu dokumen-dokumen perencanaan nasional Indonesia, sehingga dapat terkait target-target capaian ekonomi hijau seperti pembangunan rendah karbon, ekonomi sirkular, hingga memanfaatkan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.

Di tingkat global, GIFT dinyatakan akan mendukung komitmen Indonesia dalam isu perubahan iklim dan keanekaragaman hayati, sebagaimana target yang telah tercantum pada United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) dan United Nations Convention on Biological Diversity (UNCBD).

Lebih lanjut, dia menyampaikan bahwa sasaran GIFT pada empat area tematik yaitu energi bersih, perkotaan dan industri, investasi pasar, serta lanskap darat dan laut.

Untuk area pertama, dikatakan bahwa energi menjadi salah satu sektor penyumbang emisi terbesar, sehingga perlu mendorong transisi ke energi terbarukan dan efisiensi energi.

Terkait lanskap darat dan laut, Indonesia disebut memiliki kekayaan alam seperti hutan, gambut, mangrove yang tidak hanya menyerap karbon, tapi juga punya berperan dalam menopang mata pencaharian masyarakat di sekitarnya.

Mengenai perkotaan dan industri, akan berfokus pada bagaimana kota dan sektor industri bisa tumbuh lebih hijau, atau yang biasa disebut dekarbonisasi, dengan penerapan ekonomi sirkular, bangunan hijau, hingga pengelolaan sampah terpadu.

Ketiga area tersebut kemudian diikat oleh investasi dan pasar yang menjadi sarana memperoleh pembiayaan agar sektor ekonomi hijau berkembang.

“Kenapa kemudian keempat hal ini saling memperkuat? Karena dalam praktiknya, persoalan-persoalan ini memang saling terkait," katanya.

Ia mencontohkan, beroperasinya bus listrik di kota itu akan terkait dengan energi bersih, sekaligus juga mendukung mobilitas warga kota. "Untuk mewujudkannya perlu investasi yang cukup dan tepat,” ungkap Direktur Lingkungan Hidup Bappenas.

Nizhar mengatakan, pendekatan GIFT ini memang dirancang untuk lintas sektor dan juga terintegrasi, sehingga solusinya juga tidak parsial, tapi benar-benar bisa holistik dan menyeluruh.

"Keempat area ini tak dipilih secara acak, tetapi semua terkait dengan prioritas dan komitmen Indonesia, sebagaimana telah dicantumkan secara khusus dalam dokumen perencanaan pembangunan nasional," katanya.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.