Emma Navarro Tampil Memukau

Jumat, 26 Jun 2026, 06:19 WIB

LONDON - Persiapan menuju Wimbledon 2026 tidak berjalan mulus bagi Iga Swiatek. Alih-alih menemukan kembali dominasi di lapangan rumput, petenis asal Polandia itu justru harus menerima kenyataan pahit: debut sekaligus perpisahannya di turnamen WTA Bad Homburg 2026 terjadi dalam satu pertandingan.

Swiatek tersingkir setelah kalah dari Emma Navarro yang tampil memukao dengan skor 5-7, 6-2, 3-6, Kamis (25/6) dini hari WIB. Kekalahan itu semakin menambah tanda tanya mengenai kesiapan juara Grand Slam tersebut sebelum mempertahankan gelarnya di Wimbledon.

Ket. Foto: Petenis AS Emma Navarro melakukan pukulan forehand untuk mengembalikan bola ke petenis AS Iva Jovic selama pertandingan tunggal putri mereka pada hari ke-5 turnamen tenis French Open di Kompleks Roland-Garros di Paris pada 28 Mei 2026. — Sumber: JULIEN DE ROSA / AFP

Navarro tampil tenang dalam pertandingan yang berlangsung sulit. Petenis Amerika Serikat itu sempat mengalami awal yang kurang meyakinkan, tetapi mampu bangkit dan memanfaatkan pengalamannya bermain di lapangan rumput. Kemenangan tersebut menjadi kemenangan kedua beruntun Navarro atas Swiatek dan membuat rekor pertemuan mereka berubah menjadi 2-2.

“Pertandingan ini sangat sulit. Cuaca cukup panas, bola terasa melaju cepat, dan ritme permainan tidak mudah ditemukan. Saya pikir kami berdua merasakan hal itu. Pada akhirnya, servis menjadi faktor penting dan saya mengandalkan servis saya di akhir pertandingan,” ujar Navarro.

Masalah Swiatek terlihat sejak set pertama. Dia kesulitan menjaga konsistensi servis dan melakukan tujuh kesalahan ganda yang memberi keuntungan besar kepada Navarro. Meski bangkit pada set kedua dengan permainan lebih agresif, performa Swiatek kembali menurun ketika pertandingan memasuki set penentuan.

Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran. Di Prancis Open lalu, Swiatek juga gagal tampil seperti biasanya ketika kalah dari Marta Kostyuk di babak 16 besar. Identitas permainan yang biasanya kuat di lapangan tanah liat tampak menghilang. Ia kesulitan menemukan pola serangan dan tidak mampu memberikan tekanan konstan kepada lawan.

Kini Swiatek menghadapi tantangan berat di London. Dia harus mempertahankan 2.000 poin peringkat dari kemenangan Wimbledon musim lalu. Tekanan semakin besar karena persiapannya kali ini jauh berbeda. Dia hanya memiliki satu pertandingan di lapangan rumput sebelum memulai pertahanan gelarnya.

Namun, kondisi penuh tekanan itu bisa menjadi titik balik. Dengan ekspektasi yang menurun, Swiatek mungkin justru dapat bermain lebih bebas dan menemukan kembali performa terbaiknya. Di sisi lain, ancaman besar juga menghantui Aryna Sabalenka menjelang Wimbledon. Petenis Belarusia itu datang sebagai salah satu kandidat utama juara, tetapi membawa persoalan mental setelah kembali gagal meraih gelar Grand Slam.

Di Prancis Open tahun ini, Sabalenka hanya berjarak dua poin dari semifinal sebelum secara mengejutkan kalah dari petenis Russia Diana Shnaider. Kekalahan itu membuat Sabalenka mengakui dirinya terpuruk secara mental.

“Saya menghubungi psikolog karena perlu membicarakan semua yang sudah dilalui selama beberapa tahun terakhir. Itu sangat membantu. Saya mengubah banyak hal dan mencoba banyak pendekatan baru,” ujar Sabalenka.

Masalah utama Sabalenka bukan kemampuan teknis. Dengan pukulan keras dan servis yang menjadi senjata utama, gaya permainannya sebenarnya sangat cocok untuk rumput Wimbledon. Tetapi tekanan besar dalam pertandingan penting sering membuat emosinya sulit dikendalikan.

Pelatih Federasi Tenis Internasional, Gustavo Granitto, menilai ambisi besar Sabalenka menjadi kekuatan sekaligus tantangan. “Aryna adalah manusia biasa, tetapi juga seperti mesin kompetisi. Ambisinya untuk menang membuatnya menjadi nomor satu, namun intensitasnya di lapangan terkadang bisa mengganggu fokus dan pengambilan keputusan,” ujar Granitto.

Mantan petenis sekaligus psikolog olahraga Jeff Greenwald juga melihat risiko ketika emosi terlalu tinggi dalam pertandingan besar. “Ketika tekanan meningkat dan kesalahan mulai bertambah, sulit untuk menghentikan situasi tersebut,” ujarnya. ben/G-1

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.