Profesor ITS Dorong Teknologi Cerdas Demi Keselamatan Transportasi Laut

Kamis, 25 Jun 2026, 16:30 WIB

SURABAYA – Upaya menekan kecelakaan maritim menjadi krusial mengingat tingginya intensitas aktivitas pelayaran dan transportasi laut di wilayah kepulauan.

Risiko kecelakaan umumnya dipengaruhi oleh faktor cuaca, kelayakan kapal, serta kepatuhan terhadap standar keselamatan pelayaran.

Ket. Foto: Prof Ir Silvianita ST MSc PhD melakukan pengambilan data di lokasi penelitian di atas kapal laut. — Sumber: ANTARA/HO-Humas ITS

Karena itu, penguatan sistem pengawasan, modernisasi teknologi navigasi, dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia menjadi langkah penting untuk meminimalkan potensi insiden.

Dengan implementasi keselamatan yang lebih ketat dan terintegrasi, sektor maritim dapat beroperasi lebih efisien sekaligus melindungi keselamatan manusia dan kelestarian lingkungan laut.

Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Jatim, Prof Ir Silvianita ST MSc PhD mengembangkan inovasi manajemen risiko untuk menekan kecelakaan maritim melalui sistem terintegrasi yang meningkatkan keselamatan dan keandalan infrastruktur di sektor maritim nasional.

"Manajemen risiko bukan hanya tentang menghindari kecelakaan, tetapi memastikan setiap keputusan menghasilkan operasi yang lebih aman dan berkelanjutan," kata guru besar perempuan pertama dari Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS di Surabaya, Jatim, Kamis (25/6) .

Dosen Departemen Teknik Kelautan ITS itu memperkenalkan sistem terintegrasi Methodology for Investigation of Critical Hazards (MIVTA) dan Methodology for Investigation of Risk-Based Maintenance (MIRBA) yang dikembangkannya untuk pengelolaan risiko di sektor maritim.

"MIVTA digunakan untuk menemukan potensi bahaya sejak dini, sedangkan MIRBA membantu menentukan langkah mitigasi paling tepat agar risiko kecelakaan dapat diminimalkan," ujarnya.

MIVTA bekerja dengan mengidentifikasi berbagai potensi bahaya dalam suatu operasi, mencari penyebab utama, serta menilai kemungkinan dan tingkat dampak yang dapat ditimbulkan.

Proses tersebut menjadi dasar dalam menentukan prioritas risiko yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut.

Untuk memaksimalkan fungsinya, Silvianita mengintegrasikan metode Fuzzy Logic ke dalam sistem tersebut.

Menurut dia, metode itu memungkinkan berbagai kondisi yang sulit diukur secara pasti diproses menjadi nilai yang lebih objektif.

"Dengan ini, kita bisa menangkap ketidakpastian di lapangan yang selama ini sulit dikuantifikasi," katanya.

Hasil pemeringkatan risiko dari MIVTA kemudian diproses menggunakan MIRBA.

Dengan menggabungkan sejumlah metode analisis, MIRBA membantu menentukan tindakan pencegahan dan strategi perawatan yang sesuai berdasarkan tingkat risiko yang telah diidentifikasi.

Kedua metodologi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai alat analisis risiko, tetapi juga menjadi kerangka pengambilan keputusan yang lebih terukur.

Melalui pendekatan itu, pengelolaan infrastruktur maritim dapat dilakukan secara lebih terarah, efektif, dan berkelanjutan.

Silvianita menegaskan bahwa pengelolaan risiko tidak boleh dipandang sekadar sebagai dokumen administratif, melainkan harus menjadi bagian penting dalam strategi organisasi guna meningkatkan keselamatan, keandalan, dan keberlanjutan infrastruktur maritim.

Metode tersebut telah diterapkan pada proses pemindahan anjungan lepas pantai ke kapal pengangkut atau loadout yang merupakan salah satu tahapan berisiko tinggi dalam industri maritim.

Hasilnya, sistem mampu mengidentifikasi sejumlah risiko prioritas yang berpotensi menyebabkan kecelakaan kerja.

Melalui MIVTA dan MIRBA, proses identifikasi, evaluasi, serta mitigasi risiko dapat dilakukan secara lebih terukur sehingga potensi kecelakaan kerja maupun kegagalan operasional dapat ditekan sejak tahap perencanaan.

Inovasi tersebut juga mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya tujuan kedelapan tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, tujuan kesembilan mengenai industri, inovasi, dan infrastruktur, serta tujuan ke-14 terkait ekosistem laut.

Silvianita berharap MIVTA dan MIRBA dapat diadopsi secara luas oleh industri minyak dan gas bumi serta sektor maritim nasional agar evaluasi risiko proyek dapat dilakukan secara lebih terstruktur.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.