Menanti Data Inflasi AS, 25 Juni 2026

Kamis, 25 Jun 2026, 07:55 WIB

JAKARTA – Rupiah diperkirakan masih melemah lanjut­an, hari ini (25/6), seiring meningkatnya ekspektasi pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Re­serve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan moneter ketat atau menunda penurunan suku bunga. Prospek im­bal hasil yang lebih tinggi di AS mendorong investor global mengalihkan dana ke aset berdenominasi dollar, sehingga meningkatkan tekanan pada mata uang negara berkem­bang, termasuk rupiah. 

Pengamat mata uang dari Doo Financial Futures, Luk­man Leong melihat fokus investor akan tertuju pada rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang merupakan indikator inflasi acuan The Fed. Menurut­nya, data tersebut berpotensi menunjukkan kenaikan infla­si, sehingga dapat semakin memperkuat ekspektasi penge­tatan kebijakan moneter AS.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Karenanya, Lukman memproyeksikan kurs rupiah ter­hadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antar­bank, Kamis (25/6) berada di kisaran 17.900-18.000 rupiah per dollar AS.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan Rabu (24/6) sore melemah 93 poin atau 0,52 persen dari sehari sebelumnya menjadi 17.952 ru­piah per dollar AS. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi me­nilai pelemahan rupiah disebabkan probabilitas lebih tinggi atas pengetatan kebijakan Federal Reserve (The Fed).

“Para pedagang sekarang melihat probabilitas yang jauh lebih tinggi untuk pengetatan kebijakan Fed dalam bebe­rapa bulan mendatang setelah pertemuan kebijakan ming­gu lalu dan komentar yang agresif dari para pejabat. Pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga sekitar 70 persen pada bulan September, dan sepenuhnya mem­perkirakan kenaikan lainnya pada bulan Desember,” ung­kapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta.

Sentimen lainnya berasal dari kesepakatan antara Iran dan AS yang masih diliputi ketidakpastian seiring pernya­taan Presiden AS Donald Trump bahwa Iran telah menye­tujui inspeksi nuklir hingga tak terbatas. Adapun Teheran menyampaikan bahwa mereka tak membuat konsesi se­perti itu dalam negosiasi.

Melihat sentimen dalam negeri, pasar disebut meres­pons positif terhadap Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menunda penilaian aksesibilitas pasar Indo­nesia hingga November.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.