Babel Padukan Budaya Tionghoa dan Melayu di Festival Jerieng Penuh Warna

Minggu, 21 Jun 2026, 21:40 WIB

PANGKALPINANG – Atraksi budaya menjadi salah satu strategi efektif dalam menarik kunjungan wisatawan karena menawarkan pengalaman autentik yang tidak dapat ditemukan di tempat lain.

Pertunjukan seni tradisional, ritual adat, hingga festival budaya mampu menciptakan daya tarik emosional sekaligus memperkuat identitas daerah.

Ket. Foto: Dinas Pariwisata Pangkalpinang memadukan seni budaya masyarakat di Festival Budaya Pasir Padi yang dimulai Jumat (19/6) hingga Minggu (21/6) di Pantai Pasir Padi, Kota Pangkalpinang, Sabtu (20/6/2026). — Sumber: ANTARA/Aprionis

Dari sisi ekonomi, meningkatnya kunjungan wisatawan berdampak pada perputaran ekonomi lokal melalui sektor kuliner, kerajinan, dan jasa pendukung pariwisata.

Namun, tantangan yang dihadapi adalah menjaga orisinalitas budaya agar tidak tergerus komersialisasi berlebihan.

Oleh karena itu, pengelolaan atraksi budaya perlu menyeimbangkan antara promosi wisata dan pelestarian nilai-nilai tradisi agar tetap berkelanjutan.

Dinas Pariwisata Kebudayaan dan Kepemudaan Olahraga (Disparbudkepora) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) akan memadukan budaya masyarakat Tionghoa dengan Melayu dalam memeriahkan Festival Suku Jerieng guna menarik kunjungan wisatawan di daerah itu.

"Pada Festival Suku Jerieng tahun ini (2026) akan dijadikan sebagai satu kesatuan event wisata budaya yang unik dan menarik bagi wisatawan," kata Kepala Disparbudkepora Provinsi Kepulauan Babel Wydia Kemala Sari di Pangkalpinang, Sabtu.

Ia mengatakan dalam Festival Suku Jerieng di Desa Pelangas, Kecamatan Simpang Teritip, Kabupaten Bangka Barat, yang digelar pada Juli 2026 mendatang ada sejumlah kegiatan budaya akan dilaksanakan termasuk memperlihatkan kearifan lokal masyarakat, seperti sedekah Gunung Pelangas yang digelar Suku Jerieng.

Selain itu, lanjutnya, ada pula wisata kelekak atau menunggu buah durian jatuh dan panen duku, manggis, rambutan dan buah-buahan lainnya di kebun warga serta wisata panen padi dan menangkap udang di sungai Desa Pelangas.

"Festival Suku Jerieng ini sudah menjadi agenda tahunan pemerintah daerah dalam melestarikan tradisi dan budaya warga Desa Pelangas ini," katanya.

Menurut dia, dalam memeriahkan Festival Suku Jerieng itu, Pemprov Kepulauan Babel berkolaborasi dengan Pemkab Bangka Barat akan memadukan dengan tradisi dan kebudayaan Tionghoa dan Melayu di Kepulauan Babel.

"Ini akan menjadi sangat menarik, karena tradisi dan kearifan lokal warga Desa Pelangas ini akan dipadukan dengan budaya masyarakat Tionghoa dan Melayu di daerah ini," katanya.

Ia mengatakan perpaduan wisata budaya tersebut membuktikan bahwa kerukunan antar umat beragama, suku dan ras di Kepulauan Bangka Belitung terjaga dengan baik, rukun, saling hormat menghormati antara suku masyarakat.

"Masyarakat di Kepulauan Babel khususnya Desa Pelangas masih memegang teguh adat budaya dan kearifan lokal yang dikenal dengan Adat Jerieng. Ini modal utama bagi pemerintah daerah dalam mengembangkan pariwisata di daerah ini," katanya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.