Indonesia Masih Menarik bagi Investor Global, Reformasi Pasar Modal Jadi Kunci
Sabtu, 20 Jun 2026, 20:20 WIBJakarta â Indonesia dinilai masih menjadi salah satu tujuan investasi yang menarik bagi investor global berkat kombinasi pertumbuhan ekonomi yang kuat, stabilitas makroekonomi, bonus demografi, serta besarnya pasar domestik. Namun, untuk menjaga sekaligus meningkatkan daya saing di tengah persaingan global yang semakin ketat, reformasi pasar modal perlu terus diperkuat, terutama dalam aspek transparansi, tata kelola, dan integritas pasar.
Global Chief Economist Juwai IQI, M. Shan Saeed, menilai daya tarik Indonesia tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi dan pasar keuangan dunia. Penilaian tersebut tercermin dalam Global Market Accessibility Review 2026 yang masih menempatkan Indonesia dalam kategori emerging market atau pasar negara berkembang, meskipun terdapat catatan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait aspek information flow atau arus informasi pasar.
Dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Sabtu (20/6), Shan mengatakan perhatian MSCI terhadap pasar modal Indonesia justru dapat menjadi momentum positif untuk memperkuat daya saing sektor keuangan nasional. Menurutnya, pengalaman sejumlah negara menunjukkan bahwa pasar modal yang kuat tidak dibangun secara instan, melainkan melalui proses reformasi yang berkelanjutan.
âSejarah menunjukkan bahwa pasar modal yang sukses dibangun melalui proses perbaikan berkelanjutan. Korea Selatan dan India memperkuat daya saing pasar mereka melalui modernisasi regulasi, peningkatan tata kelola, dan transparansi yang lebih baik. Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan hal tersebut,â ujarnya.
Shan menilai prospek ekonomi Indonesia masih sangat menjanjikan. Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang kuat, struktur demografi produktif, disiplin fiskal, kekayaan sumber daya alam, serta berlanjutnya agenda reformasi menjadi modal penting bagi Indonesia untuk terus berkembang.
âDi tengah ekonomi global yang semakin terfragmentasi, negara yang memiliki kombinasi skala, stabilitas, demografi, sumber daya alam, dan momentum reformasi semakin langka. Indonesia tetap menjadi salah satu di antaranya,â katanya.
Ia menambahkan, kekuatan fundamental ekonomi Indonesia menjadikan negara ini sebagai salah satu pasar dengan prospek pertumbuhan paling menarik di kawasan. Menurut Shan, keberhasilan sebuah ekonomi besar ditentukan oleh kemampuannya mengubah tantangan menjadi reformasi, reformasi menjadi kepercayaan, dan kepercayaan menjadi pembentukan modal jangka panjang.
Optimisme tersebut didukung oleh capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen pada kuartal I 2026. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di kawasan ASEAN maupun kelompok G20. Di saat banyak negara maju hanya mencatat pertumbuhan sekitar 1â2 persen, Indonesia masih mampu mempertahankan ekspansi ekonomi di atas 5 persen.
Shan menjelaskan, ketahanan ekonomi nasional ditopang oleh konsumsi domestik yang kuat, arus investasi yang terus mengalir, serta kebijakan makroekonomi yang dinilai kredibel. Konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari separuh produk domestik bruto (PDB) tumbuh 5,52 persen, sementara realisasi investasi pada kuartal I 2026 mencapai sekitar Rp498,8 triliun.
Selain itu, posisi cadangan devisa Indonesia yang mencapai sekitar 146 miliar dolar AS pada akhir Mei 2026 serta rasio utang pemerintah yang masih berada di bawah 40 persen terhadap PDB dinilai memberikan ruang yang cukup bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.
âInvestor global mencari tiga hal, yaitu pertumbuhan, stabilitas, dan skala. Indonesia menawarkan ketiganya. Pertumbuhan ekonomi tetap berada di atas 5 persen, stabilitas makroekonomi terjaga, dan pasar domestik berpenduduk sekitar 285 juta jiwa memberikan skala yang sulit ditandingi banyak negara berkembang lainnya,â ujar Shan.
Emerging Market
Sebelumnya, pemerintah juga menyatakan keyakinannya bahwa Indonesia akan tetap berada dalam kategori pasar negara berkembang. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan laporan MSCI 2026 Global Market Accessibility Review tetap menempatkan Indonesia sebagai emerging market, meskipun terdapat penyesuaian penilaian pada aspek information flow dari sebelumnya â+â menjadi â-â.
Menurut Airlangga, catatan tersebut justru menegaskan arah reformasi pasar modal yang sedang dijalankan pemerintah bersama otoritas terkait.
âCatatan MSCI justru menegaskan bahwa fundamental ekonomi dan akses pasar Indonesia tetap kuat. Yang menjadi perhatian adalah aspek transparansi dan integritas pasar,â kata Airlangga.
Ia menjelaskan pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) terus melakukan berbagai reformasi, mulai dari peningkatan free float, transparansi pemilik manfaat akhir (ultimate beneficial owner), pendalaman pasar, hingga penguatan tata kelola dan penegakan aturan di pasar modal.
MSCI sendiri menilai akses, ukuran, dan likuiditas pasar Indonesia masih memadai serta tidak menemukan isu pembatasan kepemilikan asing dalam tinjauan tahun ini. Adapun ruang perbaikan yang disoroti lebih berfokus pada peningkatan keterbukaan struktur kepemilikan saham dan penguatan integritas pembentukan harga, yang saat ini menjadi prioritas reformasi pemerintah dan regulator.
Airlangga menegaskan kombinasi reformasi struktural pasar modal dan stabilitas makroekonomi akan terus memperkuat daya tarik Indonesia di mata investor global. Pemerintah juga terus berkoordinasi dengan MSCI dan komunitas investor internasional menjelang pengumuman resmi Annual Market Classification Review pada 23 Juni 2026.
âPemerintah meyakini kombinasi reformasi struktural pasar modal dan stabilitas makroekonomi akan terus memperkuat daya tarik dan kredibilitas pasar Indonesia di mata investor institusi global,â ujar Airlangga.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.