Perubahan Iklim Tak Hanya Rusak Lingkungan, Tapi Juga Memukul Ekonomi Keluarga Rentan

Kamis, 18 Jun 2026, 05:01 WIB

Makassar - Peneliti Program Kolaborasi untuk Pengetahuan, Inovasi, dan Kemitraan (KONEKSI) menyimpulkan bahwa perubahan iklim telah menimbulkan tekanan ekonomi yang semakin besar bagi kelompok rentan, terutama perempuan, penyandang disabilitas, dan lanjut usia (lansia).

Salah satu peneliti asal Kupang, Dr. Welmince Djulete, mengatakan perubahan iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mengancam ketahanan ekonomi masyarakat pesisir dan sektor pertanian.

Ket. Foto: Pelaksanaan workshop dan diskusi panel terkait ketahanan terhadap perubahan iklim yang menghadirkan para peneliti Program KONEKSI di Makassar, Rabu (17/6). — Sumber: Antara

"Fenomena ini memicu penurunan kuantitas serta kualitas hasil tangkapan nelayan dan hasil panen petani, yang berujung pada depresi ekonomi di tingkat keluarga," ujar Welmince dalam workshop dan diskusi panel di Makassar, Rabu (17/6).

Program KONEKSI merupakan kolaborasi riset antara pemerintah Indonesia dan Australia yang melibatkan Monash University Australia, Monash University Indonesia, Universitas Hasanuddin, serta sejumlah organisasi berbasis komunitas dan mitra strategis di Indonesia Timur.

Riset yang dilakukan di Makassar, Maros, Gowa, Kupang, dan Lombok tersebut berfokus pada penguatan ketahanan iklim melalui pengembangan alternatif ekonomi.

Melalui penelitian tersebut, para peneliti mengembangkan Model Ketahanan Iklim Berkelanjutan melalui Pelibatan Komunitas (MoFCREC) untuk wilayah Indonesia Timur.

"Dari hasil penelitian kami, dampak perubahan iklim yang paling besar dirasakan masyarakat adalah pada mata pencaharian. Terjadi tekanan ekonomi dalam keluarga karena penghasilan berkurang akibat penurunan hasil tangkapan atau panen," kata Welmince.

Ia mengatakan salah satu rekomendasi utama penelitian adalah pentingnya penganggaran yang lebih inklusif bagi kelompok rentan.

Menurut dia, kelompok rentan seperti perempuan, penyandang disabilitas, dan lansia masih menghadapi berbagai hambatan saat mengakses pembiayaan dari lembaga keuangan formal karena dianggap tidak memenuhi syarat perbankan.

"Teman-teman penyandang disabilitas sering kali sulit mengambil kredit karena adanya stigma tidak dipercaya. Akibatnya, mereka terpaksa lari ke rentenir informal," ujarnya.

Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, kegiatan itu menghadirkan lembaga keuangan formal dan koperasi guna membahas mekanisme pembiayaan inklusif bagi kelompok rentan.

Melalui program seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan skema pendampingan yang tepat, kelompok rentan di wilayah terdampak perubahan iklim diharapkan memperoleh akses pembiayaan yang aman, terjangkau, dan berbiaya rendah untuk mengembangkan usaha alternatif.

Sementara itu, Rosmiati Sain dari LBH APIK Sulawesi Selatan mengatakan tekanan ekonomi akibat perubahan iklim juga memicu persoalan sosial baru di masyarakat.

Menurut dia, kesulitan ekonomi akibat menurunnya pendapatan dapat berujung pada jeratan utang, kekerasan ekonomi dalam rumah tangga, hingga persoalan hukum.

"Akibat tidak mampu membayar utang tepat waktu, masalah domestik ini kerap berujung pada ranah pidana, seperti laporan penipuan, penggelapan, hingga meningkatnya kasus pencurian karena desakan kebutuhan hidup," kata Rosmiati.

Sebagai tindak lanjut, tim peneliti telah menyusun buku saku setebal 54 halaman yang memuat strategi adaptasi dan rencana aksi mandiri bagi komunitas rentan.

Hasil riset tersebut juga telah diselaraskan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan agenda pembangunan nasional. 

Tim peneliti menyerahkan rekomendasi kebijakan kepada Pemerintah Kota Makassar dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan sebagai bahan penyusunan kebijakan pembangunan dan penganggaran pada masa mendatang.

  • Dampak Perubahan Iklim

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

Berita Terbaru

Wujud Kepedulian Sesama, BKKP Berikan Bantuan untuk Korban Gempa NTT

Night at Museum Ajak Generasi Muda Pelajari Sejarah dan Budaya dalam Suasana Eksklusif

BMKG Prakirakan Sejumlah Wilayah di Indonesia Diguyur Hujan Ringan pada Sabtu (22/8)

Wamenko Bidang Pangan Tinjau Karhutla Kalteng, Simbol Kehadiran Pemerintah

Jangan Lupa Bawa Payung! BMKG Prakirakan Hujan Ringan di Sejumlah Wilayah Sabtu

Wamenko Pangan Tinjau Karhutla di Kalteng, Pemerintah Tegaskan Komitmen dalam Tangani Kebakaran

Jangan Cuma di Rumah! Ini 5 Rekomendasi Akhir Pekan di DKI, Ada Pameran Menarik

Berikut Lokasi SIM Keliling di Jakarta dan Sekitarnya pada Sabtu (22/8)

Singasari Expo IV Tahun 2026, Momentum Perkuat UMKM & Pelestarian Budaya Badung

Garuda Pertiwi U-16 Pastikan Tiket ke Final Piala Srikandi Merdeka

Rumah Sakit Lapangan Ruteng Beroperasi, Layani Operasi Warga Terdampak Gempa NTT

Sandy Walsh Nyaman Beradaptasi Bersama Persib Bandung

Rektor Unsoed Diduga Terima Rp1 Miliar, Beri Akses Bawahan Loloskan Calon Maba

APBD Perubahan DKI Jakarta Turun, Kini Sebesar Rp79,59 Triliun

Syuting The Batman: Part II, Batmobile dan Glasgow Menjelma Jadi Gotham Bersalju

Eksploitasi Anak Orang Lain jadi Pengamen di Jakut, Sepasang pasutri Dicokok Satpol PP

KPK Ungkap Peran Guru sebagai Pengepul di Penawaran Kursi Maba Unsoed, Dihargai Rp50 hingga 500 Juta

Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Panen Perdana Sorgum di Bogor

KPK Jelaskan Alasan Sempat Periksa Warek Unsoed Kuat dan Noor Farid

Miris, KPK Ungkap Dugaan Korupsi dalam Penerimaan Mahasiswa Baru Unsoed dan Jual Beli Kursi FPIK dan FH Jalur Mandiri

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.