Kelenjar Timus yang Dibuang Saat Operasi Ternyata Berperan Melawan Kanker
Kamis, 18 Jun 2026, 07:19 WIBSELAMA puluhan tahun, kelenjar timus dianggap sebagai organ yang perannya nyaris selesai setelah seseorang memasuki usia dewasa. Organ kecil yang terletak tepat di belakang tulang dada ini bahkan kerap diangkat saat operasi jantung dan rongga dada tanpa banyak kekhawatiran mengenai dampak jangka panjangnya.
Namun, pandangan tersebut kini mulai dipertanyakan. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa timus mungkin tetap memiliki fungsi penting dalam menjaga sistem kekebalan tubuh orang dewasa, bahkan berpotensi membantu tubuh melawan perkembangan kanker.
Temuan ini muncul dari sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal The New England Journal of Medicine pada 2023. Penelitian yang dipimpin ahli onkologi dari Harvard University, David Scadden, menemukan adanya hubungan antara pengangkatan timus dengan peningkatan risiko kematian dan kanker dalam beberapa tahun setelah operasi.
âKami menemukan bahwa timus benar-benar dibutuhkan untuk kesehatan. Jika organ ini tidak ada, risiko seseorang untuk meninggal dan mengalami kanker setidaknya meningkat dua kali lipat,â kata Scadden saat hasil penelitian tersebut diumumkan dikutip dari Life Science.
Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa studi tersebut bersifat observasional. Artinya, penelitian hanya menemukan hubungan antara dua kondisi dan belum dapat membuktikan bahwa pengangkatan timus secara langsung menyebabkan kanker atau kematian.
Organ Kecil
Timus merupakan bagian penting dari sistem kekebalan tubuh manusia. Organ ini berfungsi sebagai âtempat pelatihanâ bagi sel T, yaitu jenis sel darah putih yang berperan mengenali dan menghancurkan virus, bakteri, serta sel-sel abnormal yang berpotensi berkembang menjadi kanker.
Pada masa kanak-kanak, timus sangat aktif memproduksi dan mematangkan sel T. Karena itulah organ ini dianggap sebagai salah satu fondasi utama pembentukan sistem imun manusia.
Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa anak-anak yang kehilangan timus pada usia dini mengalami penurunan jumlah sel T dalam jangka panjang.
Mereka juga cenderung memiliki respons kekebalan yang lebih lemah terhadap vaksin dan lebih rentan terhadap berbagai gangguan sistem imun.
Ketika memasuki masa pubertas, ukuran timus mulai menyusut secara alami dalam proses yang dikenal sebagai involusi timus. Jaringan aktif di dalam organ tersebut perlahan digantikan oleh jaringan lemak, sehingga produksi sel T baru menurun drastis.
Karena aktivitasnya yang berkurang, banyak ilmuwan selama bertahun-tahun beranggapan bahwa timus tidak lagi memiliki peran penting pada masa dewasa. Anggapan inilah yang membuat pengangkatan organ tersebut sering kali tidak dianggap sebagai masalah besar.
Risiko Kematian dan ÂKanker Meningkat
Dalam penelitian yang dilakukan tim Harvard, para peneliti menganalisis data ribuan pasien yang menjalani operasi kardiotoraks di jaringan layanan kesehatan Massachusetts
Sebanyak 1.146 pasien yang menjalani pengangkatan timus dibandingkan dengan lebih dari 6.000 pasien yang menjalani operasi serupa tanpa pengangkatan organ tersebut.
Hasil analisis menunjukkan bahwa pasien yang menjalani thymectomy atau operasi pengangkatan timus memiliki risiko hampir dua kali lebih tinggi meninggal dunia dalam kurun waktu lima tahun setelah operasi dibandingkan kelompok kontrol.
Peningkatan risiko itu tetap terlihat bahkan setelah peneliti mengeluarkan faktor-faktor yang berpotensi memengaruhi hasil, seperti usia, jenis kelamin, ras, keberadaan kanker timus, penyakit autoimun miastenia gravis, maupun infeksi pascaoperasi.
Tidak hanya itu, kelompok pasien yang kehilangan timus juga ditemukan memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk didiagnosis kanker dalam lima tahun setelah operasi.
Yang lebih mengkhawatirkan, kanker yang muncul pada kelompok ini cenderung memiliki karakteristik yang lebih agresif dan lebih sering kambuh setelah menjalani pengobatan dibandingkan pasien yang masih memiliki timus.
Temuan tersebut menimbulkan pertanyaan baru mengenai fungsi timus yang selama ini mungkin belum sepenuhnya dipahami.
Diduga Memengaruhi ÂSistem Kekebalan Tubuh
Hingga saat ini, para ilmuwan belum mengetahui secara pasti mekanisme yang menjelaskan hubungan antara pengangkatan timus dan peningkatan risiko kanker.
Namun, salah satu dugaan terkuat adalah bahwa timus tetap berkontribusi terhadap pemeliharaan sistem kekebalan tubuh meskipun aktivitasnya jauh berkurang setelah masa remaja.
Dalam sebagian sampel pasien yang diteliti, para peneliti menemukan bahwa mereka yang menjalani pengangkatan timus memiliki keragaman reseptor sel T yang lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol.
Keragaman reseptor sel T sangat penting karena memungkinkan sistem imun mengenali berbagai ancaman yang berbeda, mulai dari infeksi hingga sel kanker yang baru muncul.
Jika kemampuan mengenali ancaman tersebut berkurang, tubuh mungkin menjadi kurang efektif dalam mendeteksi dan menghancurkan sel-sel abnormal sebelum berkembang menjadi kanker.
âTemuan ini mendukung gagasan bahwa timus tetap berkontribusi terhadap produksi sel T baru pada usia dewasa dan berperan dalam menjaga kesehatan manusia,â tulis para peneliti dalam laporannya.
Berdasarkan hasil tersebut, tim Harvard berpendapat bahwa mempertahankan timus seharusnya menjadi prioritas klinis apabila kondisi pasien memungkinkan.
Tidak Semua Penelitian Sepakat
Meski hasil penelitian Harvard menarik perhatian dunia medis, tidak semua ilmuwan mencapai kesimpulan yang sama.
Pada 2025, tim peneliti dari Yale School of Medicine melakukan studi lanjutan untuk menguji kembali temuan tersebut menggunakan basis data yang jauh lebih besar, yakni National Cancer Database (NCDB) dan Surveillance, Epidemiology, and End Results (SEER).
Penelitian tersebut mencakup data pasien dari periode 2004 hingga 2022 dan berfokus pada pasien dewasa yang menjalani pengangkatan timus karena tumor timus berukuran kecil atau terlokalisasi.
Berbeda dengan studi sebelumnya, tim Yale tidak menemukan bukti bahwa pengangkatan timus meningkatkan risiko kematian ataupun kematian akibat kanker dalam lima tahun setelah operasi.
Menurut mereka, thymectomy pada kelompok pasien tersebut tidak menunjukkan dampak negatif yang signifikan terhadap kesehatan jangka menengah.
Meski demikian, para peneliti Yale juga mengakui bahwa masih banyak pertanyaan yang belum terjawab.
Mereka menilai penelitian jangka panjang tetap diperlukan untuk memahami bagaimana pengangkatan timus memengaruhi sistem imun selama puluhan tahun setelah tindakan operasi dilakukan.
Mengubah Cara Pandang terhadap Timus
Perbedaan hasil antara kedua penelitian menunjukkan bahwa peran timus pada usia dewasa masih menjadi perdebatan ilmiah yang belum selesai. Selama ini, timus sering dianggap sebagai organ sisa yang kehilangan fungsinya setelah masa kanak-kanak. Namun, semakin banyak penelitian yang mengindikasikan bahwa organ tersebut mungkin tetap aktif membantu menjaga keseimbangan sistem kekebalan tubuh hingga usia lanjut.
Bagi para dokter, temuan-temuan tersebut menjadi pengingat bahwa keputusan untuk mengangkat timus tidak selalu sesederhana yang selama ini diperkirakan. Sementara bagi para ilmuwan, timus kini kembali menjadi salah satu organ yang menarik untuk diteliti lebih lanjut.
Jika penelitian mendatang mampu membuktikan peran penting timus dalam mencegah kanker dan menjaga daya tahan tubuh, maka organ yang selama ini dianggap âtidak bergunaâ itu bisa jadi justru merupakan salah satu penjaga kesehatan paling penting yang dimiliki manusia. hay
- Kelenjar Timus
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.