• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Menilik Film Toy Story 5: ...

Menilik Film Toy Story 5: Visual Memukau, tapi Kehilangan Daya Emosional Franchise

Rabu, 17 Jun 2026, 18:15 WIB

JAKARTA – Film Toy Story 5 mulai menuai perhatian setelah ulasan awal dari sejumlah pengamat film beredar luas. Sekuel terbaru dari waralaba animasi legendaris milik Pixar Animation Studios ini dinilai tampil sangat rapi secara teknis, tetapi dianggap kurang mampu menghadirkan emosi mendalam yang selama ini menjadi kekuatan utama seri tersebut.

Para pengulas menilai kualitas visual dan animasi film tersebut tetap berada pada standar tinggi yang identik dengan Pixar. Setiap adegan disebut dikerjakan dengan detail dan presisi, menghadirkan pengalaman tontonan keluarga yang menghibur serta nyaman dinikmati berbagai kalangan.

Ket. Foto: Film Toy Story 5 mulai menuai perhatian setelah ulasan awal dari sejumlah pengamat film beredar luas. Sekuel terbaru dari waralaba animasi legendaris milik Pixar Animation Studios ini dinilai tampil sangat rapi secara teknis, tetapi dianggap kurang mampu menghadirkan emosi mendalam yang selama ini menjadi kekuatan utama seri tersebut. — Sumber: Pixar

Meski demikian, sejumlah kritik mengarah pada aspek cerita yang dianggap kehilangan unsur kebaruan dan ketegangan. Tema besar mengenai perubahan, kehilangan, dan perjalanan waktu yang selama ini menjadi identitas franchise dinilai tidak lagi disampaikan dengan kekuatan emosional yang sama seperti film-film sebelumnya.

“Sebagai hiburan keluarga, film ini terlihat sempurna dan sangat halus, tetapi pada intinya terasa hambar karena kurang memiliki semangat, ide baru, dan ketegangan yang kuat,” tulis salah satu ulasan yang beredar.

Dalam film terbaru ini, perhatian penonton diarahkan pada kehadiran perangkat teknologi bernama Lilypad yang menjadi bagian penting dalam alur cerita. Karakter tersebut awalnya digambarkan sebagai simbol pengaruh teknologi terhadap kehidupan anak-anak, namun pada perkembangan cerita justru diperlihatkan memiliki sisi heroik yang membantu menyelesaikan konflik.

Kisah juga kembali mempertemukan sejumlah karakter ikonik seperti Woody, Buzz Lightyear, Jessie, dan Bo Peep. Cerita berpusat pada Bonnie yang mengalami kesulitan beradaptasi dengan lingkungan sosialnya karena masih menyukai permainan tradisional menggunakan mainan, sementara anak-anak lain lebih banyak berinteraksi melalui perangkat digital.

“Setelah mendapatkan Lilypad, Bonnie merasa lebih mudah terhubung dengan teman-temannya, tetapi kemudian harus menghadapi berbagai bentuk perundungan dan tekanan yang muncul dari dunia digital,” demikian gambaran alur cerita yang disampaikan dalam ulasan tersebut.

Salah satu aspek yang paling banyak dibandingkan adalah momen emosional legendaris dalam Toy Story 2 melalui lagu When She Loved Me yang dibawakan karakter Jessie. Lagu tersebut selama bertahun-tahun dianggap sebagai salah satu adegan paling menyentuh dalam sejarah animasi karena menggambarkan perasaan ditinggalkan dan perubahan hubungan antara anak dengan mainannya.

Menurut para pengamat, Toy Story 5 berusaha menghidupkan kembali nuansa emosional tersebut melalui elemen cerita dan musik baru. Namun, penyelesaian konflik dalam film dinilai kurang memuaskan sehingga gagal menghadirkan dampak emosional yang setara dengan film-film terdahulu.

Kritik tersebut memunculkan perdebatan mengenai masa depan franchise yang telah berjalan lebih dari tiga dekade. Banyak pihak mengakui bahwa Toy Story tetap menjadi salah satu waralaba animasi paling berpengaruh sepanjang masa, tetapi sebagian pengamat menilai tanda-tanda kelelahan ide mulai terlihat seiring terus berlanjutnya produksi sekuel baru.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.